Jumat, Mei 1, 2026
HomeNewsEkonomiPesanan dan Produksi Menurun, Ekspansi Manufaktur RI Makin Kendur

Pesanan dan Produksi Menurun, Ekspansi Manufaktur RI Makin Kendur

Kinerja industri pengolahan atau manufaktur RI pada April masih berada di zona ekspansif (indeks >50) di tengah tekanan ekonomi domestik dan gonjang ganjing ekonomi global.

Tercermin dari Indeks Kepercayaan Industri (IKI) April 2026 sebesar 51,75, makin melambat dibanding Maret 2026 sebesar 51,86, serta Februari dan Januari 2026 sebesar 54,02 dan 54,12. IKI Januari dan Februari merupakan yang tertinggi sejak Kemenperin merilis survei IKI pada November 2022.

“Dampak krisis energi akibat gejolak geopolitik saat ini sudah sama-sama kita ketahui, memengaruhi sejumlah subsektor seperti industri kimia dan sektor industri hilir lainnya termasuk tekstil,” kata Juru Bicara Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Febri Hendri Arief dalam rilis IKI April 2026 di Jakarta, Rabu (29/4/2026).

Secara umum, seluruh variabel pembentuk IKI pada April 2026 masih berada dalam fase ekspansi. Variabel pesanan tercatat sebesar 51,43, produksi 51,34, dan persediaan 53,13. Namun, variabel pesanan dan produksi menurun dibanding Maret 2026, yang mengindikasikan perlambatan permintaan dan aktivitas produksi.

“Di sisi lain terjadi peningkatan pada variabel persediaan, yang menunjukkan penyesuaian stok oleh pelaku industri dalam merespons kondisi pasar,” ujar Febri.

Baca juga: Pesanan dan Produksi Menurun, Stok Barang Meningkat, Kepercayaan Industri Melorot

Pelaku industri masih menunjukkan keyakinan terhadap prospek usaha ke depan, dengan tingkat optimisme untuk enam bulan mendatang mencapai 70,1 persen, kendati turun 1,7 persen dibanding Maret 2026.

IKI berorientasi ekspor tercatat sebesar 52,28, melambat dibandingkan bulan sebelumnya. Sementara IKI berorientasi domestik, meningkat menjadi 50,90. “Menunjukkan pasar domestik mulai berperan sebagai penopang utama manufaktur, di tengah melemahnya permintaan global,” jelas Jubir Kemenperin.

Febri mengimbau pelaku industri memanfaatkan dinamika geopolitik dunia saat ini, dengan meningkatkan kinerja ekspor di sektor yang mengalami peningkatan pesanan pada April. Antara lain, industri pengolahan tembakau, pakaian jadi (garmen), kertas dan barang dari kertas, farmasi dan obat tradisional, barang logam dan mesin, komputer, barang elektronik dan optik, serta peralatan listrik.

Sementara subsektor yang mengalami kontraksi (indeks >50), antara lain industri minuman, tekstil, kayu dan barang dari kayu, bahan kimia, barang galian bukan logam, barang logam, serta alat angkutan lainnya.

“Industri tekstil mengalami kontraksi, karena masalah bahan baku yang berasal dari petrokimia (dari minyak bumi yang meroket harganya), sedangkan industri pakaian justru meningkat,” ungkap Febri.

Baca juga: Tekanan Global, Manufaktur Indonesia Masih Ekspansif Kendati Mengendur

Beberapa subsektor tetap menunjukkan kinerja positif, seperti industri makanan dan minuman masih yang didukung permintaan domestik, kendati menghadapi tekanan biaya produksi. Industri mesin dan perlengkapan juga mencatat kenaikan permintaan, seiring meningkatnya investasi dan pembangunan fasilitas produksi baru di berbagai sektor.

Febri menegaskan, industri pengolahan RI masih mampu bertahan dengan baik. Dari 23 subsektor yang dianalisis, sebanyak 16 subsektor mengalami ekspansi, dengan kontribusi mencapai 78,9 persen terhadap PDB industri pengolahan nonmigas. Dua subsektor dengan kinerja tertinggi adalah industri pengolahan tembakau serta kertas dan barang dari kertas.

Berita Terkait

Ekonomi

Tiga Perusahaan Jajaki Kerjasama Pengembangan Teknologi Pengolahan Air di Kawasan Industri

Kementerian Perindustrian mempercepat penguatan infrastruktur pendukung industri, khususnya dalam...

AHY: Pembangunan Infrastruktur untuk Akselerasi Ekonomi Berkelanjutan

Pembangunan infrastruktur masa depan tidak cukup hanya berorientasi pada...

Belanja Pemerintah Ngegas, Maret Uang Beredar Kembali Meningkat

Uang beredar adalah indikator aktivitas ekonomi. Kenaikan atau penurunan...

Berita Terkini