Belanja Pemerintah Ngegas, Maret Uang Beredar Kembali Meningkat
Uang beredar adalah indikator aktivitas ekonomi. Kenaikan atau penurunan uang beredar, mengindikasikan bertambah atau berkurangnya likuiditas perekonomian atau jumlah uang untuk bertransaksi. Artinya, uang beredar adalah salah satu indikator lesu atau bergairahnya ekonomi. Kenaikan jumlah uang beredar menunjukkan, likuiditas makin longgar dan transaksi ekonomi meningkat.
Pada Maret 2026, Bank Indonesia melaporkan, Jumat (24/4/2026), jumlah uang beredar dalam arti luas (M2) tumbuh 9,7 persen (yoy) menjadi Rp10.355,1 triliun, lebih tinggi dibanding Februari 2026 yang tumbuh 8,7 persen (yoy) kendati masih sedikit lebih rendah dibanding Januari 2026 sebesar 10 persen.
M2 terdiri dari uang kartal (tunai), uang giral (giro), uang kuasi (tabungan dan deposito berjangka), serta surat berharga selain saham.
Perkembangan M2 dipengaruhi pertumbuhan uang beredar sempit (M1= 58,3 persen dari M2) sebesar 14,4 persen (yoy) atau sama dengan Februari 2026, dan masih lebih rendah dibanding Januari 2026 sebesar 14,9 persen (yoy), dan uang kuasi (41,2 persen dari M2) 5,2 persen atau lebih tinggi dibanding Februari 3,1 persen (yoy), dan masih sedikit lebih rendah dibanding Januari 5,3 persen (yoy).
M1 adalah uang tunai (kertas dan logam) di tangan masyarakat, giro rupiah, dan tabungan rupiah yang bisa ditarik sewaktu-eaktu. Sedangkan uang kuasi adalah deposito (rupiah dan valas), tabungan rupiah dan valas, serta giro valas.
Perkembangan M1 dipengaruhi kenaikan giro rupiah 26,4 persen (yoy) dibanding 23,5 persen (yoy) pada Januari, dan tabungan rupiah yang bisa ditarik sewaktu-waktu yang tumbuh stabil 7,40 persen (yoy).
Baca juga: Awal Tahun Belanja Pemerintah Ngegas, Kredit Tumbuh Lebih Tinggi
Sedangkan pertumbuhan uang kuasi dipengaruhi pertumbuhan deposito, tabungan lainnya, dan giro valas sebesar 4,4 persen (yoy), 16,1 persen (yoy), dan 4,3 persen (yoy) dibanding Februari 2026 sebesar 3,7 persen (yoy), 8,7 persen (yoy), dan minus (kontraksi) 1,7 persen (yoy).
Kenaikan kembali jumlah uang beredar pada Maret 2026, dipengaruhi peningkatan pesat tagihan bersih sistem moneter (BI) kepada pemerintah pusat dari 25,6 persen (yoy) pada Februari 2026 menjadi 39,2 persen (yoy) pada Maret 2026, yang menunjukkan ekspansi tinggi belanja pemerintah. Kemudian juga oleh penyaluran kredit yang tumbuh stabil di level 8,9 persen (yoy) atau sama dengan Februari 2026.
Kredit di sini hanya dalam bentuk pinjaman (loans), tidak termasuk instrumen keuangan yang dipersamakan dengan pinjaman seperti surat berharga, tagihan akseptasi, dan tagihan repo. Kredit di sini juga tidak termasuk kredit yang diberikan kantor bank umum yang berkedudukan di luar negeri, dan kredit yang disalurkan kepada pemerintah pusat dan bukan penduduk.