Program MBG Dipangkas, Pemerintah Hemat Anggaran Rp50 Triliun Lebih
Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung menekankan pentingnya sinergi antara kebijakan fiskal, moneter, dan sektor riil, guna menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.
Dalam Policy Dialogue, Kick Off program Percepatan Intermediasi Indonesia (PINISI) 2026 di Jakarta, Senin (27/4/2026), Juda mengibaratkan kebijakan fiskal sebagai angin, dan perbankan sebagai layar, yang harus bekerja sama agar kapal ekonomi Indonesia bisa mencapai tujuannya.
Wamenkeu Juda pun mengungkapkan kinerja APBN 2026 pada triwulan satu yang mencatat pertumbuhan belanja sangat signifikan, mencapai 31,4 persen (yoy), melesat dibandingkan belanja periode yang sama 2025 yang hanya tumbuh 1,4 persen.
“Belanja triwulan satu 2026 itu sudah mencapai 21,2 persen dari total pagu APBN. Kami memang sengaja mengubah pola pengeluaran agar lebih merata sepanjang tahun, tidak lagi menumpuk di triwulan empat (seperti selama ini), supaya pertumbuhan ekonomi bisa dirasakan lebih cepat,” kata mantan deputi gubernur Bank Indonesia itu.
Dari sisi penerimaan, Juda mengungkapkan penerimaan pajak tumbuh 20,7 persen (ytd). Didorong lonjakan penerimaan PPN dan PPNBM sebesar 57,7 persen. Pertumbuhan kedua jenis pajak itu, menunjukkan konsumsi masyarakat dan transaksi di dunia usaha masih sangat bergairah.
Menanggapi kenaikan harga minyak mentah yang sempat menyentuh USD100 per barel, ia menegaskan kembali komitmen pemerintah untuk tidak menaikkan harga BBM bersubsidi demi menjaga daya beli masyarakat.
Baca juga: Awal Tahun Belanja Pemerintah Ngegas, Kredit Tumbuh Lebih Tinggi
Guna mengantisipasi pembengkakan subsidi agar defisit APBN tetap terjaga di bawah ambang batas 3 persen, pemerintah mengambil berbagai langkah strategis yang bisa mengefisienkan belanja.
Yaitu, melalui penajaman (refocusing) program prioritas, seperti efisiensi program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan meniadakan pemberian makan pada hari Sabtu dan masa libur sekolah. Satu hari efisiensi MBG bisa menghemat anggaran Rp1 triliun.
“Jadi (MBG pada hari) Sabtu dihilangkan. Satu hari itu bisa ngirit Rp 1 triliun. Empat kali dalam sebulan penghematannya Rp4 triliun. Setahun jadi lebih dari Rp50 triliun (anggaran) kita bisa dihemat,” kata Juda.
Sehari sebelumnya di Jakarta, Juda mengungkapkan, Presiden Prabowo Subianto sudah menyetujui penyesuaian program MBG dari lima hari menjadi empat hari dalam sepekan, yang akan menghemat APBN hingga lebih dari Rp50 triliun per tahun.
Selain itu, pemanfaatan sistem Coretax serta mengoptimalkan windfall pajak dari komoditas batubara dan CPO, juga menjadi salah satu strategi pemerintah menguatkan ketahanan APBN menghadapi gejolak global.
Baca juga: Penerimaan Pajak Melonjak, Tapi Pemerintah Tetap Gali Lubang Tutup Lubang Bayar Bunga Utang
Pemerintah juga memetakan 8 klaster nasional dalam Program Kerja Prioritas Nasional (PKPN). Mulai dari kedaulatan pangan, hilirisasi industri strategis (seperti semikonduktor dan motor nasional), hingga kemandirian energi (B50 dan Bioetanol B20).
Kementerian Keuangan mengedepankan sinergi pembiayaan antara APBN, badan pengelola investasi Danantara, dan sektor swasta, dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Juda pun menegaskan filosofi program PINISI dalam menjaga arah kebijakan ekonomi.
“Pinisi, bayangan kita adalah sebuah kapal. Sebuah kapal yang berlayar menuju sebuah tujuan,” pungkasnya menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor, dalam menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi.