Menurut Ferry Salanto, Head of Research Department Colliers Indonesia, saat ini pasar properti telah memasuki babak baru dengan ciri utama kualitas kini menjadi faktor yang lebih menentukan dibandingkan kuantitas.

Menurutnya, di hampir seluruh sektor, persaingan tidak lagi hanya ditentukan oleh ekspansi maupun harga tetapi juga oleh kualitas aset, efisiensi operasional, pengalaman pengguna, serta kemampuan memenuhi tuntutan penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).

“Pelaku industri kini mulai mengalihkan fokus dari pembangunan baru ke optimalisasi aset yang sudah dimiliki. Maka strategi yang ditempuh tidak lagi sekadar menambah pasokan tetapi lebih diarahkan pada renovasi, reposisi aset, peningkatan kualitas bangunan, serta pemanfaatan inventori yang tersedia secara lebih optimal,” ujarnya melalui siaran pers Senin (20/7).

Baca juga: Opini: BI Rate 5,5 Persen, Dampaknya Ke Pasar Properti-KPR

Pergeseran ini berdampak pada ceminan pasar yang kian selektif, disiplin, dan berorientasi pada strategi jangka panjang. Akhirnya model bisnis properti pun mengalami perubahan mendasar dengan fokus pelaku industri tidak lagi bertumpu pada pencapaian volume transaksi atau penambahan pasokan semata, melainkan pada kemampuan menciptakan nilai jangka panjang.

Kondisi ini terjadi di seluruh sektor baik perkantoran, ritel, apartemen, hotel, hingga kawasan industry. Keberhasilan semakin ditentukan oleh kualitas produk, diversifikasi sumber pendapatan, serta kemampuan menjaga daya saing aset dalam jangka panjang.

Untuk sektor apartemen misalnya, perilaku konsumen juga mengalami pergeseran. Situasi kesenjangan antara investor dan pembeli yang membeli untuk dihuni sendiri (owner-occupier) semakin mengecil terutama di segmen menengah.

Baca juga: CBRE: Pemulihan Pasar Properti Lebih Sehat dan Kuat Dibanding Siklus Sebelumnya

Di segmen ini keterjangkauan harga, kesiapan unit untuk langsung ditempati, serta kemudahan memperoleh pembiayaan menjadi pertimbangan utama dalam keputusan pembelian.

“Sementara itu pengembang tetap menjaga stabilitas harga dengan menawarkan berbagai insentif promosi dan skema pembayaran yang lebih fleksibel, alih-alih melakukan penurunan harga secara langsung,” imbuh Ferry.