Dorong Jadi Ruang Kota yang Asyik, IAI Jakarta Gelar Festival Arsitektur Bantar Sungai
Secara umum selama ini bantaran sungai belum menjadi ruang publik yang menyenangkan, untuk tidak mengatakan semrawut, kumuh, dan tidak dirancang serta dikelola dengan baik.
Padahal, bantar kali berpotensi besar menjadi ruang publik yang asyik, lokasi berkegiatan yang seru, bahkan destinasi piknik warga yang berkesan, bila dirancang, dikembangkan, dan dikelola dengan baik sesuai karakteristik lokasinya.
Karena itu untuk memprovokasi para pemangku kepentingan, terutama pemerinbtah, untuk memanfaatkan bantar sungai sebagai ruang publik yang asyik itu, Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jakarta menggelar Festival Arsitektur Bantar Sungai 2026.
Festival digelar di WEIR KBT (Pintu Air Kanal Banjir Timur Malaka Sari), Jalan RS Soekamto, Malaka Sari, Duren Sawit, Jakarta Timur, 3-6 September 2026, mulai pukul 06.00/08.00 sampai 20.00 WIB.
Baca juga: JAF 2025: Arsitek untuk Semua, Ada Konsultasi Desain Rumah MBR dan Lembaga Bantuan Arsitektur
Selain talk show arsitektur dan pameran rancangan area bantar sungai serta rumah sehat oleh sejumlah arsitek, festival juga diisi banyak acara seru.
Mulai arschitect goes to school, a(run)chitecture, lomba layang-layang hias, lenong Betawi, layar tancap, sampai konsultasi arsitektur gratis, serta pengumuman pemenang sayembara desain bantar sungai Titik 2026, dan arch snapshot.
“Jakarta dilintasi 13 sungai. Panjang setiap sungai puluhan kilometer. Ini potensi besar dikembangkan sebagai ruang publik dan destinasi piknik yang asyik. Festival ini digelar sebagai pancingan ke arah itu,” kata Arsitek Teguh Aryanto, Ketua IAI Jakarta, dalam sambutannya pada pembukaan festival, Jumat (4/9/2026).
Selain itu festival juga digelar untuk makin mendekatkan dunia arsitektur dengan masyarakat umum. “Arsitektur itu membantu menciptakan hunian dan lingkungan yang sehat. Itu berarti arsitektur harus dekat dengan masyarakat,” lanjut Teguh.
Pembukaan ditandai pemukulan rebana oleh Fauzi, Asisten Perekonomian & Pembangunan Pemkot Administrasi Jakarta Timur mewakili walikota, bersama Teguh serta Camat Duren Sawit, Lurah Malaka Sari, dan pejabat dari Kementerian Ekonomi Kreatif.
Menurut Teguh, bantaran sungai bukan sekedar infrastruktur kota, tapi juga ruang hidup warga kota. Karena itu bantar sungai perlu dirancang, dikembangkan, dan dikelola lebih profesional sehingga menjadi ruang publik yang menyenangkan bagi warga untuk berkumpul, berkegiatan, dan berekreasi.
“Sangat sayang kalau potensi bantar sungai yang begitu luas dan bagus, tidak kita manfaatkan dan kelola lebih baik sebagai ruang publik di perkotaan,” ujarnya.
Baca juga: MBR yang Mau Bangun Rumah Sehat di Lahan Mungil, Kini Bisa Minta Jasa Arsitek Gratis LBA

Fauzi sendiri mengungkapkan, khusus area bantar sungai di WEIR BKT yang sudah dikembangkan cukup baik dan nyaman, selama ini sudah banyak dimanfaatkan masyarakat untuk berbagai kegiatan. Mulai dari lomba lari (BKT Run), pameran botanical farming, sampai event Dursa (Duren Sawit) Vaganza setiap tiga bulan.
Ia mendukung Festival Arsitektur Bantar Sungai yang berupaya memprovokosi pengembangan bantar sungai sebagai ruang publik kota, karena untuk bantar sungai KBT adanya hanya di Jakarta Timur. “Saya mau ajak IAI Jakarta ketemu walikota, membicarakan lebih lanjut pengembangan bantar sungai di KBT sebagai ruang kota,” ungkap Fauzi.
