Kemenperin: Agustus Manufaktur RI Masih Ekspansif, S&P Bilang Sebaliknya
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat, industri pengolahan atau manufaktur RI masih berada di zon ekspansi. Tercermin dari Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Agustus 2026 sebesar 52,30 (>50 = ekspansif), kendati menurun dibanding Juli sebesar 53,10.
Hal itu sejalan dengan kinerja industri pengolahan nonmigas, yang pada triwulan II 2026 tumbuh 5,32 persen (yoy), lebih tinggi dibanding triwulan I 2026 sebesar 5,14 persen, di atas pertumbuhan ekonomi sebesar 5,29 persen.
“Meski ada sedikit penurunan pada variabel permintaan, pelaku manufaktur masih tetap berproduksi karena memandang perekonomian indonesia dan global akan membaik,” kata Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri Antoni Arief dalam keterangannya, Senin (31/8/2026).
Sebanyak 22 dari 23 subsektor berada di fase ekspansi, hanya satu subsektor yang mengalami kontraksi (indeks <50). Subsektor yang berada dalam fase ekspansi itu berkontribusi 98,6 persen terhadap PDB Industri Pengolahan Nonmigas pada triwulan II 2026.
“Dua subsektor dengan nilai IKI tertinggi pada Agustus 2026, adalah industri minuman serta industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia. Subsektor yang mengalami kontraksi adalah industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki,” jelas Febri.
Berdasarkan komponen pembentuk IKI, produksi masih menjadi variabel dengan indeks tertinggi, mencapai 55,10 pada Agustus 2026 atau meningkat 0,55 poin dibandingkan Juli 2026, dan menjadi capaian tertinggi sejak Juni 2026.
Sementara indeks pesanan berada pada level 53,13 atau masih dalam fase ekspansi, meskipun turun 0,67 poin dari Juli 2026. Indeks persediaan produk 46,02 atau masih berada dalam fase kontraksi, turun 3,16 poin dibandingkan Juli 2026.
“Kontraksi telah berlangsung selama 3 bulan berturut-turut, dan menempatkan indeks persediaan pada level terendah sejak Januari 2024,” ungkap Febri.
Baca juga: Kemenperin: Program 3 Juta Rumah Dukung Ekspansi Manufaktur
Berdasarkan orientasi pasar, IKI berorientasi ekspor pada Agustus 2026 tercatat 53,09, melambat 0,86 poin dibandingkan Juli 2026, IKI berorientasi pasar domestik 51,13, melambat 0,86 poin dari Juli 2026.
“Perlambatan keduanya memperlihatkan, pelaku industri menghadapi permintaan yang lebih selektif. Karena itu, keberlanjutan aktivitas manufaktur akan sangat dipengaruhi oleh kemampuan industri menjaga pasar, efisiensi produksi, serta kelancaran pasokan bahan baku dan distribusi,” jelas Febri.
PMI Manufaktur
Berbeda dengan IKI Kemenperin, survei Purchasing Manager’s Index (PMI) Manufaktur Indonesia versi S&P Global menyebut manufaktur RI balik lagi ke zona kontraksi dengan indeks 49,8 (<50), setelah sempat kembali ke zona ekspansi pada Juli 2026 dengan indeks 50,2.
Menurut Febri, kinerja manufaktur RI pada Agustus 2026 itu sebenarnya relatif stabil di tengah dinamika permintaan dan persaingan pasar. Ia menyebut pergerakan marginal PMI Manufaktur pada Agustus 2026, terutama dipengaruhi oleh penyesuaian produksi serta efisiensi tenaga kerja akibat dinamika persaingan pasar domestik yang ketat.
Meski demikian, terdapat sejumlah indikator positif kuat yang menunjukkan ketahanan dan potensi pemulihan cepat manufaktur nasional.
“PMI manufaktur Agustus hanya sedikit di bawah 50, dan kita melihat adanya peningkatan tipis pada permintaan baru dan kepercayaan bisnis terus membaik,” ujarnya. S&P Global melaporkan, permintaan baru naik tipis untuk pertama kalinya dalam 3 bulan.
Baca juga: Juli Manufaktur RI Membaik, Kembali ke Zona Ekspansi dan Mulai Rekrut Pekerja Baru
Sementara optimisme pelaku industri terus membaik dan berada pada level tertinggi dalam tujuh bulan. Para pelaku usaha yang disurvei memperkirakan kondisi permintaan yang lebih kuat dan pasar yang stabil dapat mendukung peningkatan produksi dalam 12 bulan mendatang.
Perbaikan keyakinan atau optimisme ini, menjadi modal penting bagi industri untuk menjaga kesinambungan produksi sekaligus menangkap peluang pasar yang makin terbuka.
“Dengan permintaan baru yang mulai berbalik arah menuju ekspansi, inflasi yang mereda, serta dibukanya akses pasar Eropa secara luas lewat IEU-CEPA, kami yakin PMI Manufaktur Indonesia akan kembali melaju pesat di zona ekspansif pada bulan-bulan mendatang,” pungkas Febri.