Senin, Agustus 3, 2026
HomeNewsEkonomiJuli Manufaktur RI Membaik, Kembali ke Zona Ekspansi dan Mulai Rekrut Pekerja...

Juli Manufaktur RI Membaik, Kembali ke Zona Ekspansi dan Mulai Rekrut Pekerja Baru

S&P Global melaporkan Senin (3/8/2026), kinerja industri pengolahan atau manufaktur Indonesia kembali ke zona ekspansi pada Juli 2026. Tercermin dari Indonesia Manufacturing Purchasing Managers’ Index (PMI) Juli 2026 sebesar 50,2 (>50), dari Juni 2026 sebesar 46,9 (<50).

Indeks di atas 50 berarti ekspansif, sedangkan kurang dari 50 berarti kontraksi. Sebelumnya pada Mei 2026 PMI Manufaktur Indonesia sudah kembali menuju zona ekspansi dengan indeks 50,0 dari terkontraksi pada April dengan indeks 49,1. Pada Januari, Februari dan Maret 2026, PMI manufaktur RI maish berada di zona ekspansi dengan indeks 52,6, 53,8, dan 50,1.

Menurut S&P Global, kembalinya manufaktur RI ke zona ekspansi kendati tipis, ditopang oleh kenaikan volume produksi setelah 4 bulan sebelumnya terkontraksi.

Menurut ekonom S&P Global Market Intelligence Usamah Bhatti, peningkatan produksi didorong oleh mulai stabilnya permintaan atau pesanan baru setelah terkontraksi pada Juni 2026, dan membaiknya kepercayaan pelanggan, di tengah kenaikan harga bahan baku yang masih menahan laju ekspansi lebih jauh.

Sejumlah perusahaan yang disurvei S&P melaporkan peningkatan penjualan, seiring menguatnya kepercayaan pelanggan domestik dan dimulainya sejumlah proyek baru.

Namun, persaingan memperoleh pesanan baru yang makin ketat dan kenaikan harga jual, masih menahan laju pertumbuhan permintaan.

“Perusahaan melihat kepercayaan klien mulai menguat, namun ekspansi lebih jauh masih tertahan karena kenaikan harga yang masih berlanjut,” kata Bhatti.

Sementara pesanan ekspor baru kembali menurun, sehingga memperpanjang tren kontraksi menjadi lima bulan berturut-turut.

membaiknya permintaan, juga mulai meningkatkan tekanan terhadap kapasitas produksi. Tercermin dari kenaikan tunggakan pekerjaan (backlog), menjadi yang tertinggi sejak November 2025.

Baca juga: Juni Manufaktur RI Nyungsep Lagi ke Zona Kontraksi, tapi Pelaku Industri Tetap Optimis

Kondisi itu mendorong perusahaan kembali melakukan perekrutan tenaga kerja untuk pertama kali dalam 5 bulan terakhir, mengakhiri periode PHK selama 4 bulan, meski jumlah perekrutan baru masih terbatas.

Permintaan baru meningkat, persediaan barang jadi menurun karena perusahaan memanfaatkan stok yang tersedia untuk memenuhi permintaan.

Meski aktivitas produksi mulai pulih, Bhatti menyebut, manufaktur masih berhati-hati membeli bahan baku, karena kenaikan harga dan keterbatasan pasokan, sehingga aktivitas pembelian kembali menurun untuk bulan kelima berturut-turut.

Sejumlah perusahaan juga memilih mengurangi persediaan bahan baku, sebagai penyesuaian terhadap kondisi permintaan yang belum sepenuhnya pulih. Langkah tersebut ditempuh untuk menjaga efisiensi selama arus pesanan baru masih cenderung lemah.

Dari sisi rantai pasok, waktu pengiriman bahan baku oleh pemasok kembali memanjang untuk bulan ke-10 berturut-turut, kendati perlambatan pengiriman kali ini menjadi yang paling ringan selama periode tersebut.

Tekanan biaya produksi juga masih membayangi sektor manufaktur, karena inflasi harga input (pasokan) tetap tinggi, meski melambat menjadi yang terendah dalam 4 bulan terakhir.

Kenaikan biaya dipicu oleh meningkatnya harga bahan baku di pasar domestik dan internasional, karena terganggunya rantai pasok dan pelemahan nilai tukar rupiah. Hal ini mendorong produsen kembali menaikkan harga jual guna menjaga margin usaha.

Kendati masih menghadapi berbagai tantangan, prospek manufaktur dalam 12 bulan ke depan dinilai makin positif. Tingkat optimisme pelaku usaha meningkat ke level tertinggi sejak Januari 2026.

“Kepercayaan diri perusahaan mencapai titik tertinggi dalam enam bulan, didukung harapan terhadap pertumbuhan penjualan, dan kian menguatnya kepercayaan klien,” ujar Bhatti.

Baca juga: Mei Manufaktur RI Membaik Meski Harga Bahan Baku Naik, Ditopang Permintaan Domestik

Optimisme itu juga ditopang oleh harapan, tekanan kenaikan harga bahan baku akan mereda dalam beberapa bulan ke depan mengikuti perkembangan konflik di Timur Tengah, yang melonjakkan harga energi, mengganggu rantai pasok dan meningkatkan harga (inflasi).

Membaiknya PMI Manufaktur Indonesia, sejalan dengan peningkatan indeks manufaktur ASEAN. Setelah turun ke level terendah dalam 11 bulan menjadi 50,5 pada Juni, PMI manufaktur ASEAN versi S&P Global pada Juli 2026 meningkat menjadi 52,8 atau kian ekspansif dalam 5 bulan terakhir.

S&P Global mengungkapkan, dari 7 negara yang disurvei, 6 negara mengalami perbaikan PMI kecuali Myanmar, meskipun indeksnya masih di bawah rekor yang tercatat pada Februari 2026.

Aktivitas manufaktur ASEAN melambat sepanjang Maret-Juni, yang dipengaruhi oleh konflik di Timur Tengah, meskipun tetap berada di zona ekspansi.

Sama dengan Indonesia, membaiknya manufaktur ASEAN itu dipengaruhi oleh membaiknya permintaan pasar. Tercermin dari pertumbuhan pesanan baru yang menjadi yang tercepat sejak Februari 2026, diikuti kenaikan produksi dengan laju paling tinggi dalam 5 bulan terakhir.

Kenaikan produksi mendorong perusahaan menambah pembelian bahan baku meski pengiriman dari pemasok masih lambat karena terganggunya rantai pasok, dan merekrut tenaga kerja baru setelah 4 bulan tidak melakukannya.

Berita Terkait

Ekonomi

Juli Inflasi Tahunan Melandai, Secara Bulanan Deflasi

Setelah terus mencatat level yang tinggi sejak Januari 2026...

AHY Dorong Pembangunan Bali: Satu Pulau-Satu Tata Kelola

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (IPK) Agus...

Kadin: Multiplier Effect Industri Kesehatan, Rp1 Jadi Rp3

Sektor kesehatan dengan industri farmasi nasional bisa memberikan dampak...

Berita Terkini