Inflasi Dekati Kisaran Sasaran, BI Bilang Masih Terkendali
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada September 2026 mencapai 3,28 persen secara tahunan (yoy), naik makin tinggi dibanding Agustus 2026 sebesar 3,19 persen (yoy), atau September 2025 sebesar 2,65 persen.
Sementara secara bulanan (mtm), inflasi September tercatat 0,30 persen, juga naik tinggi dibanding Agustus 2026 sebesar 0,20 persen (mtm).
Kendati inflasi naik makin tinggi baik secara bulanan, tahunan maupun tahun kalender, Bank Indonesia (BI) menyatakan, angka inflasi itu masih terkendali dan terjaga di kisaran sasaran 2,5±1%.
“Inflasi yang tetap terjaga dalam kisaran sasaran itu, merupakan hasil dari konsistensi kebijakan moneter serta eratnya sinergi pengendalian inflasi antara Bank Indonesia dan pemerintah melalui Tim Pengendalian Inflasi,” tulis keterangan BI dikutip Jumat (2/10/2026).
Inflasi kelompok inti pada September 2026 tercatat sebesar 0,10 persen (mtm), lebih rendah dari realisasi bulan sebelumnya sebesar 0,21 persen (mtm).
Perkembangan inflasi inti tersebut dipengaruhi oleh ekspektasi inflasi yang tetap terjaga, di tengah masih tingginya harga komoditas global.
Adapun komoditas yang dominan memberikan andil inflasi komponen inti adalah biaya kuliah akademi/perguruan tinggi.
Secara tahunan, inflasi inti pada September 2026 tercatat sebesar 2,84 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan realisasi bulan sebelumnya sebesar 2,92 persen (yoy).
Inflasi inti secara tahunan ini antara lain banyak disumbang oleh komoditas emas perhiasan sejalan dengan kenaikan harga emas dunia.
Baca juga: Inflasi Makin Tinggi, September Capai 3,28 Persen, Dipicu Kenaikan Harga Bahan Pangan
Inflasi kelompok volatile food pada September 2026 mengalami inflasi 1,46 persen (mtm), lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya dengan inflasi 0,88 persen (mtm).
Inflasi kelompok volatile food disumbang terutama oleh komoditas cabai rawit, cabai merah, daging ayam ras, beras, dan telur ayam ras, seiring penurunan produksi di beberapa daerah sentra terutama akibat gangguan cuaca, serta kenaikan biaya input produksi.
Secara tahunan, kelompok volatile food mengalami inflasi sebesar 5,03 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan realisasi bulan sebelumnya sebesar 4,06 persen (yoy).
Kelompok administered prices mencatat inflasi rendah mendekati 0 persen (mtm), sedikit lebih tinggi dibandingkan realisasi pada bulan sebelumnya yang mencatatkan deflasi 0,33 persen (mtm).
Inflasi kelompok administered prices terutama disumbang oleh bensin dan solar, seiring peningkatan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex pada September 2026 di tengah penurunan tarif angkutan udara.
Baca juga: Agustus Inflasi Kembali Meninggi, Dipicu Kenaikan Harga Bahan Makanan Termasuk Beras
Secara tahunan, kelompok administered prices tercatat inflasi sebesar 3,25 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan inflasi bulan sebelumnya sebesar 3,32 persen (yoy).