Jumat, Oktober 2, 2026
HomeNewsEkonomiSeptember Kepercayaan Industri Melandai, Tapi Masih di Fase Ekspansi

September Kepercayaan Industri Melandai, Tapi Masih di Fase Ekspansi

Kinerja industri pengolahan atau manufaktur RI pada September 2026 masih berada di fase ekspansi (indeks >50), di tengah dinamika perekonomian global dan domestik.

Tercermin dari Indeks Kepercayaan Industri (IKI) sebesar 51,93, meskipun mengalami perlambatan 0,37 poin dibandingkan Agustus 2026 sebesar 52,30.

Menurut Juru Bicara Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Febri Hendri Antoni Arif, kinerja manufaktur pada September 2026 bertumpu pada peningkatan permintaan baru. Namun, variabel produksi sedikit menurun dan stok makin menumpuk.

“Salah satu penyebabnya, adalah peningkatan biaya logistik produk industri untuk ekspor dan pasar domestik. Selain itu, industri juga masih wait and see melihat dinamika pasar domestik sehingga menunda pengiriman barang dari gudang,” katanya melalui keterangan dikutip, Kamis (1/10/2026).

Perubahan iklim atau El Nino juga berdampak pada industri. Kenaikan suhu udara ikut meningkatkan permintaan produk industri minuman dan utilisasi industrinya, sehingga subsektor industri minuman mencapai IKI tertinggi dibandingan 23 subsektor industri lainnya.

Kemenperin telah mendapatkan laporan, bahwa pasokan air terkait proses produksi dan pengiriman bahan baku dan barang melalui sungai mulai dirasakan oleh industri.

“Menteri Perindustrian telah memerintahkan jajarannya agar memitigasi dampak El Nino pada industri baik terhadap bahan baku, energi, pekerja, pergudangan mapun pengiriman barang, sehingga kinerja ekosistem rantai pasok industri selama musim ini tidak terganggu. Para pembina industri diminta untuk terus berkomunikasi dengan industri binaan mengenai hal ini,” tutur Febri.

Baca juga: Manufaktur RI Melaju Lagi, Tertinggi dalam 7 Bulan, Didorong Kenaikan Permintaan

Berdasarkan 23 subsektor industri pengolahan yang dianalisis, sebanyak 15 subsektor mengalami ekspansi, 8 subsektor mengalami kontraksi (indeks <50).

Subsektor yang berada dalam fase ekspansi tersebut memiliki kontribusi sebesar 84,4 persen terhadap PDB industri pengolahan nonmigas triwulan II 2026.

Dua subsektor dengan nilai IKI tertinggi pada September 2026 adalah industri minuman, serta industri alat angkutan lainnya.

Sementara 8 subsektor yang mengalami kontraksi meliputi industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki, industri kayu, barang dari kayu dan gabus, industri kertas dan barang dari kertas, industri pencetakan dan reproduksi media rekaman, industri karet, barang dari karet dan plastik, industri komputer, barang elektronik dan optik; industri peralatan listrik, serta industri mesin dan perlengkapan.

Pesanan meningkat
Dari sisi variabel pembentuk IKI, indeks pesanan pada September 2026 berada pada level 53,40, atau naik 0,27 poin dibandingkan Agustus.

Sementara indeks produksi tercatat 53,78, masih dalam fase ekspansi tapi turun 1,32 poin. Adapun indeks persediaan berada pada level 45,45, atau masih dalam fase kontraksi dan turun 0,57 poin.

“Pesanan masih ekspansif dan bahkan mengalami peningkatan. Artinya, permintaan terhadap produk industri masih ada. Namun, pada saat yang sama pelaku industri melakukan penyesuaian terhadap produksi dan persediaan. Kondisi ini perlu kita lihat secara menyeluruh karena masing-masing subsektor menghadapi karakteristik dan tantangan yang berbeda,” ujar Febri.

Berdasarkan orientasi pasar, IKI industri yang berorientasi ekspor pada September 2026 berada pada level 52,60, melambat 0,49 poin dibandingkan Agustus 2026 sebesar 53,09.

Sedangkan IKI industri yang berorientasi pasar domestik sebesar 50,94, melambat 0,19 poin dibandingkan Agustus 2026 sebesar 51,13. Meski mengalami perlambatan, kedua indikator tersebut masih berada dalam fase ekspansi.

Baca juga: Kemenperin: Agustus Manufaktur RI Masih Ekspansif, S&P Bilang Sebaliknya

Perkembangan tersebut memperlihatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara pasar domestik dan pasar ekspor. Sejumlah subsektor industri masih menghadapi tekanan berupa persaingan produk impor, kenaikan biaya produksi, serta dinamika perdagangan global.

“Pasar ekspor tetap menjadi bagian penting bagi industri manufaktur nasional, namun kekuatan pasar domestik juga perlu terus dijaga. Dengan demikian, industri memiliki basis permintaan yang lebih berimbang dan dapat lebih adaptif menghadapi perubahan kondisi ekonomi global,” jelasnya.

Sekretaris Direktorat Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Feby Setyo Hariyono menyampaikan, pada September 2026 industri alat angkutan lainnya (KBLI 30) menunjukkan performa yang menggembirakan.

Subsektor ini menjadi penyumbang ekspansi terbesar kedua pada IKI September 2026, dan berada pada tingkat ekspansi tertinggi kedua di antara seluruh sektor industri, dengan pesanan dan produksi yang juga berada dalam fase ekspansi.

Salah satu penopangnya adalah industri sepeda motor. Sepanjang Januari–Agustus 2026, penjualan sepeda motor di pasar domestik mencapai 4,36 juta unit, atau meningkat 2,16 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

“Tidak hanya pasar domestik, kinerja ekspornya juga menunjukkan perkembangan yang positif. Secara kumulatif, ekspor sepeda motor dalam bentuk CBU meningkat 18,19 persen, sedangkan ekspor komponen tumbuh 28,87 persen,” ungkap Feby.

Berita Terkait

Ekonomi

Inflasi Dekati Kisaran Sasaran, BI Bilang Masih Terkendali

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, inflasi Indeks Harga Konsumen...

Agustus Surplus Neraca Dagang RI Melonjak Jadi USD3,55 Miliar

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, neraca perdagangan Indonesia pada...

Manufaktur RI Melaju Lagi, Tertinggi dalam 7 Bulan, Didorong Kenaikan Permintaan

Kinerja industri pengolahan atau manufaktur Indonesia kembali ke zona...

Berita Terkini