Senin, September 28, 2026
HomeNewsEkonomiKementerian Pariwisata: Ada Potensi Besar dari Sektor MICE

Kementerian Pariwisata: Ada Potensi Besar dari Sektor MICE

Kementerian Pariwisata terus mendorong pengembangan sektor Meetings, Incentives, Conventions, Exhibitions (MICE) sebagai salah satu pengungkit untuk menciptakan nilai ekonomi yang lebih besar dari aktivitas pariwisata sekkaligus memperkuat daya saing destinasi indonesia.

Menurut Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa, kinerja sektor pariwisata Indonesia terus menunjukkan perkembangan yang positif dengan sepanjang September 2026 mencatat 15,39 juta kunjungan wisatawan mancanegara dan 1,20 miliar perjalanan wisatawan Nusantara dengan devisa pariwisata mencapai sekitar 18,27 miliar dolar Amerika.

“Tren positif tersebut berlanjut pada semester pertama 2026. Berdasarkan data BPS, kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 7,45 juta kunjungan, tumbuh 5,71 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya,” ujarnya melalui siaran pers Senin (28/9).

Namun menurut Ni Luh, pertumbuhan pariwisata tidak cukup hanya dilihat dari jumlah kunjungan. Tantangan ke depan adalah bagaimana pertumbuhan tersebut dapat diterjemahkan menjadi masa tinggal yang lebih panjang, belanja wisatawan yang lebih tinggi, pengalaman yang berkualitas, serta manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.

“Salah satu segmen yang memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan adalah sektor MICE. Berdasarkan data ICCA GlobeWatch Business Analytics-Country & City Rankings 2025, Indonesia mencatatkan 110 pertemuan asosiasi internasional dan capaian tersebut menempatkan Indonesia pada peringkat ke-37 dunia, ke-10 di Asia Pasifik, dan keempat di ASEAN,” imbuhnya.

Dalam Indonesia Tourism Outlook 2025-2026, ekosistem MICE dan bleisure, yakni perpaduan perjalanan bisnis dan rekreasi, juga teridentifikasi sebagai satu dari enam tren utama pariwisata nasional. Tren ini menunjukkan perjalanan bisnis semakin erat dengan aktivitas rekreasi dan pencarian pengalaman di destinasi.

Baca juga: Juli 2026 Kunjungan Turis asal Timur Tengah dan Eropa Naik Tinggi

Berbagai kegiatan MICE membuka peluang bagi peserta untuk memperpanjang masa tinggal sekaligus meningkatkan aktivitas ekonomi di destinasi. Setelah mengikuti kegiatan utama, peserta dapat menikmati wisata perkotaan, kuliner, kebugaran (wellness), berbelanja produk lokal, serta mengunjungi beragam daya tarik wisata di sekitar lokasi acara.

Wisatawan yang datang untuk urusan bisnis atau menghadiri acara tidak lagi sekadar mengikuti konferensi, rapat, atau menyaksikan konser. Mereka juga ingin menikmati daya tarik daerah setempat, mulai dari berbelanja dan menikmati wisata kuliner hingga mengunjungi berbagai atraksi wisata. Hal inilah yang perlu diperkuat integrasinya sehingga seluruh elemen tersebut saling terhubung menjadi satu ekosistem yang solid.

Oleh karena itu, pengembangan MICE di Indonesia ke depan perlu bertransformasi dari sekadar penyelenggaraan acara menjadi penciptaan pengalaman yang bernilai. Pengalaman tersebut diharapkan mampu memperkuat karakter destinasi, menggerakkan perekonomian lokal, sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia di panggung MICE global.

Indonesia tidak hanya menawarkan tempat penyelenggaraan (venue) tetapi juga pengalaman khas dan berkesan yang menyertai setiap kegiatan. Dampak ekonomi sebuah acara juga tidak berhenti ketika kegiatan berakhir. Manfaat ekonominya mengalir ke berbagai sektor, mulai dari perhotelan, restoran, transportasi, UMKM, ekonomi kreatif, hingga penyerapan tenaga kerja lokal.

Program Event by Indonesia sepanjang 2025 misalnya, tercatat menarik 12,20 juta pengunjung, melibatkan 20.877 UMKM, menyerap 257.561 tenaga kerja, serta menghasilkan perputaran ekonomi hingga Rp23,76 triliun.

“Ketika peserta datang, mereka menggunakan transportasi, menginap di hotel, menikmati kuliner, berbelanja produk lokal atau oleh-oleh, dan mengunjungi daya tarik wisata di daerah tersebut. Karena itu, nilai sebuah event tidak berhenti ketika lampu panggung dimatikan atau ruang konferensi ditutup,” papar Ni Luh.

Baca juga: Tiket Pesawat Kian Mahal, Tapi Kunjungan Turis Asing Tetap Meningkat

Ni Luh juga menyoroti pentingnya adaptasi teknologi dalam memasuki era Tourism 5.0. Pemanfaatan teknologi dinilai semakin penting untuk memberikan pelayanan dan pengalaman perjalanan yang relevan dengan kebutuhan wisatawan.

Salah satu implementasinya adalah pemanfaatan MaiA, platform berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) pada laman Indonesia.travel yang membantu wisatawan merencanakan perjalanan secara lebih personal.

Penguatan teknologi perlu berjalan beriringan dengan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan dalam meningkatkan kesiapan destinasi, konektivitas, serta kualitas sumber daya manusia.

Berita Terkait

Ekonomi

Mudahkan Aktivitas Bisnis UMKM, Bank Mandiri Perkuat Platform Livin’ Merchant

Dalam aktivitas bisnis, kemudahan merupakan hal penting dan harus...

Sungguh Berat Tantangan Indonesia Memacu Pertumbuhan Ekonomi

Indonesia bermimpi menjadi negara maju dan berpendapatan tinggi. Salah...

Ekonomi Global Belum Kuat, Ekonomi Domestik Masih Perlu Didorong

Hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia, 22-23 September 2026,...

Berita Terkini