Sabtu, September 26, 2026
HomeNewsEkonomiSungguh Berat Tantangan Memacu Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Sungguh Berat Tantangan Memacu Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Indonesia bermimpi menjadi negara maju dan berpendapatan tinggi. Salah satu caranya dengan menggenjot pertumbuhan ekonomi lebih tinggi.

Dalam ANTARA Business Forum 2026 “The Synergy Horizon: Positioning Indonesia for the Next Decade” di Jakarta, Rabu (23/9/2026), Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyebut cara kerja baru ekonomi makro untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Yaitu, melalui sinergi tiga pilar utama. Pertama, kebijakan fiskal pemerintah melalui APBN sebagai katalis pertumbuhan dan kesejahteraan, dengan mendorong berbagai kegiatan ekonomi melalui 8 kluster prioritas (kedaulatan pangan, kemandirian energi dan air, pendidikan, kesehatan, hilirisasi dan industrialisasi, infrastruktur, perumahan, dan ketahanan bencana, penguatan ekonomi kerakyatan dan pembangunan desa, serta penurunan kemiskinan).

Kedua, Badan Investasi Danantara Indonesia sebagai katalis investasi yang bekerja di luar APBN, dan bertindak sebagai pendorong investasi strategis bersama sektor swasta.

“Sinergi APBN dengan Danantara adalah horizon baru pengelolaan ekonomi kita,” kata Menkeu Suahasil dikutip dari keterangan Kemenkeu akhir pekan ini.

Ia menyebut APBN masuk ke titik-titik krusial ibarat titik refleksi atau akupuntur, yang dampaknya menjalar ke seluruh perekonomian. Sedangkan Danantara mendorong investasi lebih tinggi bersama swasra.

Ketiga, sinergi kebijakan fiskal dan moneter melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).

Baca juga: Ekonomi Global Belum Kuat, Ekonomi Domestik Masih Perlu Didorong

Menkeu menyatakan, saat ini pertumbuhan ekonomi atau Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia secara rata-rata baru di kisaran 5,16 persen, investasi 4,84 persen, dan manufaktur atau industri pengolahan (kontributor terbesar pertumbuhan ekonomi Indonesia dari sisi produksi) 3,77 persen.

Bila ingin menjadi negara maju dan berpendapatan tinggi, angka-angka tersebut masih jauh dari memadai mendorong pertumbuhan ekonomi. Suahasil pun membandingkan situasi RI dengan Kora Selatan saat dulu bertekad menjadi negara maju.

“Manufakturnya tumbuh di atas 10,7 persen, investasi di atas 10,6 persen, dan pertumbuhan ekonomi di angka 8,8 persen,” ungkapnya sebagaimana dikutip CNN Indonesia.

Suahasil menyebut 6 sektor prioritas yang diproyeksikan pemerintah akan menjadi mesin utama pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan, agar bisa menjadi negara maju dan berpendapatan tinggi.

Yaitu, infrastruktur digital, hilirisasi sumber daya alam, manufaktur bernilai tambah tinggi, industri hulu strategis/energi, ketahanan pangan, serta energi baru dan terbarukan.

Baca juga: Jangan Mimpi Ekonomi Bisa Tumbuh 8 Persen Kalau ICOR Masih 6

Meski demikian, ia mengingatkan, pembangunan seluruh sektor tersebut memerlukan enablers (faktor-faktor yang mendukung), agar pertumbuhan ekonomi yang tinggi itu tercapai.

Yaitu, modal manusia dan produktivitas, infrastruktur dan konektivitas yang andal, institusi yang efektif dan kepastian regulasi, stabilitas makroekonomi dan pembiayaan yang kompetitif, serta stabilitas politik dan keamanan.

Stabilitas ekonomi dan politik/keamanan mungkin sudah dan bisa dihadirkan pemerintah. Tapi, menyangkut modal manusia dan produktivitas, infrastruktur dan konektivitas yang andal, institusi yang efektif dan kepastian regulasi, serta pembiayaan yang kompetitif, Indonesia masih jauh ketinggalan.

SDM lemah, produktifitas rendah, infrastruktur dan konektivitas masih kedodoran sehingga biaya logistik dan produksi mahal, institusi dan aparatnya belum profesional dan korup, perizinan ribet dan berbiaya tinggi, regulasi ruwet, tumpang tindih atau tidak konsisten, dan pembiayaan masih jauh dari kompetitif yang tercermin dari bunga bank yang tinggi.

Baca juga: Menko Airlangga: Ekonomi Indonesia Sudah di Jalur yang Tepat

Cerminan paling gampangnya ICOR (Incremental Capital Output Ratio), indikator ekonomi yang mengukur besarnya tambahan modal atau investasi yang dibutuhkan untuk menaikkan satu unit output (pertumbuhan ekonomi).

ICOR Indonesia berada di kisaran 6-6,5, salah satu yang tertinggi dan paling tidak efisien di dunia.

Artinya, Indonesia membutuhkan tambahan investasi Rp6-6,5 untuk menghasilkan tambahan output (pendapatan/produk) sebesar Rp1.

Bandingkan dengan ICOR negara-negara tetangga: Singapura 3–3,7, Vietnam 3,6–4,6, Malaysia 4,0–4,5, Thailand 4,0–4,4, dan Filipina 3,7-4,1.

Jadi, sungguh berat langkah Indonesia untuk memacu pertumbuhan ekonomi lebih tinggi dan menjadi negara maju. Kendalanya, hampir semuanya bersifat struktural yang sulit diatasi.

Berita Terkait

Ekonomi

Berita Terkini