Senin, November 2, 2026
HomeApartmentQ3 Pasar Apartemen Jakarta Tidak Ada Pasokan Baru

Q3 Pasar Apartemen Jakarta Tidak Ada Pasokan Baru

Menutup periode kuartal ketiga 2026, pasar apartemen di Jakarta tidak ada pasokann baru sehingga total akumulasi unit tetap berada di angka 260.236 unit. sebelumnya sempat ada penambahan unit baru namun dengan jeda ini menjadi sejalan dengan tren umum di mana kalangan pengembang tetap bersikap hati-hati di tengah tingkat penyerapan yang melambat.

Situasi ini tidak terlepas dari volatilitas makro ekonomi baik di tingkat nasional maupun global. Kendati demikian, pasokan unit apartemen diperkirakan akan kembali meningkat pada kurtal berikutnya seiring dengan rencana peluncuran Eluna Tower di Casa Grande, Jakarta Selatan.

“Situasi ini membuat permintaan pasar apartemen di Jakarta turun signifikan pada kuartal ini dengan tingkat penyerapan per kuartal hanya sebesar 116 unit. Ini hampir separuh dari volume yang tercatat pada kuartal sebelumnya,” ujar Hendra Hartono, CEO Leads Property Services Indonesia melalui siaran pers Senin (2/11).

Jika dibandingkan secara tahunan (yoy), penurunan penyerapan unit apartemen menjadi lebih tajam pada periode yang sama tahun lalu. Situasi ini membuat tingkat penjualan bertahan stabil di angka 83,2 persen selama tiga kuartal terakhir.

Baca juga: Colliers: Pengembang Apartemen Fokus Optimalisasi Stok, Bukan Ekspansi

Dari kalangan konsumen, sektor apartemen juga masih didominasi oleh segmen pengguna akhir (end user). Segmen ini tertarik membeli terutama karena dukungan perpanjangan insentif PPN DTP untuk unit siap unit yang menawarkan harga lebih kompetitif.

Permintaan segmen ini juga tetap tangguh terutama di segmen kelas atas yang mencsri unit dengan tata ruang lebih luas. Pasar apartemen di Jakarta memang menunjukkan tingkat penyerapan dengan aktivitas transaksi di masa depan masih akan lebih banyak bersumber dari segmen menengah ke atas.

Kendati insentif PPN DTP sebesar 100 persen sempat menjadi katalis sementara bagi likuiditas pasar sepanjang tahun 2026, sektor hunian vertikal ini masih menghadapi persaingan struktural yang kian ketat khususnya dari pasar rumah tapak di wilayah Jabodetabek.

“Segmen pasar massal mungkin akan beralih menjalin kemitraan dengan hotel, operator hunian bersama (co-living), atau perusahaan manajemen aset untuk memonetisasi unit tipe studio dan satu kamar tidur. Dengan mempertimbangkan tren-tren tersebut, harga pasar diperkirakan akan tetap stabil,” pungkas Hendra.

Berita Terkait

Ekonomi

Oktober Neraca Dagang RI Tetap Surplus Kendati Sedikit Turun

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, Senin (2/11/2026), neraca perdagangan...

Kendati Menurun, Inflasi Oktober Masih Tinggi, Disumbang Lonjakan Harga Bahan Makanan

Laporan Badan Pusat Statistik, Senin (2/11/2026), mengungkapkan, inflasi Indeks...

Manufaktur RI Makin Ngegas, Tapi Penyerapan Tenaga Kerjanya Masih Lemah

Serupa dengan Indeks Kepercayaan Industri (IKK) versi Kemenperin, S&P...

Meningkat Pelaku Manufaktur yang Bilang Kondisi Usahanya Membaik

Industri pengolahan atau manufaktur Indonesia kian ekspansif. Tercermin dari...

Berita Terkini