Kawasan Industri Kian Berkibar, Didorong Perkembangan AI dan Data Center
Perkembangan pesat teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), mempengaruhi aneka sektor termasuk bisnis properti. Salah satunya mendorong berkembangnya bisnis data centre sebagai pendukung utama teknologi tersebut.
Data centre berkembang, demikian pula kawasan industri yang menampung perusahaan-perusahaan-perusahaan data centre tersebut.
Karena itu saat sektor properti lain belum juga bergairah pasca pandemi, kawasan industri justru makin berkibar, dengan industri berbasis teknologi dan operator data centre sebagai occupiers primadonanya.
“Saat ini sektor industri dan logistik, tetap menjadi sektor properti dengan kinerja terkuat.” kata Ivana Susilo, Head of Capital Markets & Industrial Logistics CBRE Indonesia, perusahaan konsultan properti global, dalam media briefing Jakarta Property Market Update 3Q-2026 di Jakarta, Rabu (28/10/2026).
Ia berbicara bersama Managing Director CBRE Indonesia Angela Wibawa, Senior Director dan Co-Head of Office Services Judy Sinurat, Senior Director dan Co-Head of Office Services Albert Dwiyanto, serta Senior Director dan Head of Research & Consulting Anton Sitorus.
Menurut Ivana, saat ini tingkat hunian kawasan industri di Jabodetabek mencapai 91,6 persen dari sekitar 15.600 total stok lahannya.
Occupiers tetap terkonsentrasi di koridor industri yang sudah established seperti Cikarang dan Karawang, yang didukung infrastruktur yang kuat serta ekosistem industri yang matang. Sepanjang triwulan tiga 2026 saja, penyerapan (net take-up) lahan industri mencapai sekitar 59 hektare.
Ia menyebutkan, faktor pembeda yang makin penting di antara kawasan industri saat ini, adalah kualitas utilitas dan infrastruktur. Akses listrik, air, dan jaringan telekomunikasi yang dapat diandalkan, makin memengaruhi keputusan occupiers dalam memilih kawasan industri, terutama operator data center dan industri berbasis teknologi.
Tren ini mendorong kenaikan harga lahan di lokasi industri utama, yang dilengkapi infrastruktur dan utilitas yang dapat diandalkan. Di lokasi-lokasi utama, harga lahan industri disebut CBRE mencapai sekitar Rp2,6 juta per m2.
“Bagi banyak perusahaan, khususnya operator data center, utilitas dan ibfrastruktur yang dapat diandalkan, kini sama pentingnya dengan lokasi,” jelas Ivana.
Baca juga: Data Centre dan Otomotif Masih Menjadi Pendorong Utama Pasar Kawasan Industri
Bersama kawasan industri, juga tinggi tingkat hunian atau penyewaan fasilitas logistik atau pergudangan. Pada triwulan tiga tingkat huniannya mencapai sekitar 97,0 persen. Didukung permintaan yang terus berlanjut dari sektor e-commerce, manufaktur, penyedia jasa third-party logistics, dan operator cold-chain.
“Pasokan baru relatif terbatas, sehingga membantu menjaga fundamental pasar tetap sehat sekaligus mendukung pertumbuhan tarif sewa di koridor logistik Jabodetabek,” terang Ivana.
Perkantoran
Kendati tidak sekuat kawasan industri, CBRE menyatakan, sektor properti lain membaik. Di sektor perkantoran, Judy Sinurat melaporkan berlanjutnya peningkatan aktivitas leasing di berbagai kawasan.
Di kawasan CBD Jakarta, net take-up mencapai sekitar 22.900 m² pada triwulan tiga, dengan tingkat hunian meningkat menjadi 76,6 persen, level tertinggi pasca pandemi.
“Permintaan tetap terkonsentrasi pada gedung perkantoran premium grade dan grade A, seiring strategi flight-to-quality yang terus dilakukan tenants,” katanya.
Gedung yang menawarkan spesifikasi modern, fitur sustainability, fasilitas lengkap, serta lingkungan kerja yang berkualitas, terus mencatat kinerja lebih baik di pasar.
Pasar perkantoran non-CBD Jakarta juga mencatat momentum positif dengan net take-up sekitar 21.600 m², dengan tingkat hunian stabil di level 73,2 persen.
Albert Dwiyanto menambahkan, permintaan ruang perkantoran terutama berasal dari instansi pemerintah serta perusahaan yang bergerak di sektor barang konsumsi (FMCG), teknologi, kimia, dan energi.
Kemudahan akses dan konektivitas dengan jaringan transportasi utama, tetap menjadi pertimbangan penting bagi perusahaan dalam memilih lokasi kantor. Karena itu, kawasan dengan akses transportasi yang baik terus menarik minat tenants.
“Perusahaan kini makin mempertimbangkan keseimbangan antara kemudahan akses, efisiensi biaya, dan kualitas gedung dalam memilih lokasi kantor,” ungkapnya.
Baca juga: Kawasan Industri Terus Melaju, Saat Properti Lain Masih Lesu
Pusat perbelanjaan
Anton Sitorus juga menyampaikan, pasar ritel Jakarta juga mencatat penguatan kinerja pada kuartal ketiga. Tingkat hunian pusat perbelanjaan secara keseluruhan meningkat menjadi 86,8 persen, didukung penyerapan positif dan ekspansi para peritel.
“Mal premium terus mencatat kinerja terbaik dibandingkan segmen lainnya, dengan tingkat hunian di atas 95 persen,” ujarnya. Peritel makin memilih destinasi ritel berkinerja tinggi yang mampu menghadirkan customer experience yang berbeda.
“Konsumen kini makin memandang mal sebagai destinasi dengan pengalaman unik, bukan sekadar tempat berbelanja. Perubahan ini terus menguntungkan mal premium yang memiliki kombinasi tenant yang kuat, penawaran lifestyle yang menarik, dan elemen pengalaman yang lebih lengkap,” terang Anton.
Dampak AI
Khusus mengenai booming AI, Anton menyatakan AI bukan lagi konsep masa depan. Teknologi ini sudah mempengaruhi cara berbisnis, cara karyawan bekerja, dan cara pengguna ruang mengevaluasi kebutuhan ruang mereka.
Analisis CBRE menunjukkan, AI lebih mungkin mengubah jenis pekerjaan yang ada dan meningkatkan efisiensi kerja, daripada secara signifikan mengurangi permintaan ruang kantor dalam jangka pendek.
“Di kawasan Asia Pasifik, hanya sebagian kecil pekerjaan yang dianggap sangat rentan terhadap disrupsi AI. Sementara sebagian besar pekerja masih memiliki kapasitas yang kuat untuk beradaptasi, melalui peningkatan keterampilan (reskilling) dan mobilitas pekerjaan,” tutupnya.
Baca juga: Di Bisnis Properti Kawasan Industri Jadi Pendorong Investasi dan Pertumbuhan Ekonomi
Sementara itu Angela Wibawa menyatakan, kondisi makroekonomi domestik masih mendukung aktivitas pasar properti meskipun terdapat ketidakpastian global.
“Pertumbuhan ekonomi stabil, inflasi terkendali, aktivitas investasi berkelanjutan, dan pertumbuhan populasi menopang pasar domestik. Konsumen tetap aktif, namun makin selektif dengan berfokus pada kualitas, efisiensi, dan long-term value creation,” katanya.
Karena itu, meskipun ada ketidakpastian global, fundamental pasar properti Jakarta berangsur membaik di sebagian besar sektor, khususnya industri, logistik, dan data center.
“Ke depan, transformasi teknologi yang dipimpin oleh AI, akan menghadirkan tantangan sekaligus peluang, namun prospek jangka panjang pasar real estat Jakarta tetap positif,” tutup Angela.