Selasa, Oktober 27, 2026
HomeBerita PropertiKurang dari 2 Tahun, Nilai Mal One Global di Sydney Ini Naik...

Kurang dari 2 Tahun, Nilai Mal One Global di Sydney Ini Naik 2 Kali Lipat

One Grand Eastlakes Shopping Centre—pusat belanja milik One Global Capital di Sydney, Australia—menjadi bukti potensi penciptaan nilai (value creation) melalui investasi properti yang strategis.

Diakuisisi pada akhir 2024 senilai AU$19,5 juta, properti komersial ini mengalami kenaikan valuasi menjadi AU$33 juta pada akhir 2025, atau meningkat sekitar 69 persen (AU$13,5 juta) dari nilai akuisisi awal.

Tren positif itu berlanjut pada 2026, ketika penilaian independen CBRE mencatat nilai properti tersebut mencapai AU$38 juta, naik 15 persen (AU$5 juta) dibandingkan valuasi akhir 2025.

Dengan demikian, secara keseluruhan nilai One Grand Eastlakes Shopping Centre (d/h One Global Gallery) telah meningkat AU$18,5 juta atau sekitar 95 persen sejak diakuisisi.

Menurut Iwan Sunito, Chairman dan Group CEO One Global Capital, perkembangan tersebut menunjukkan, pengelolaan aset, kualitas penyewa, dan strategi investasi jangka menengah, sebagai aspek penting untuk dicermati dalam investasi properti komersial di Australia.

“Perkembangan One Grand Eastlakes berkaitan erat dengan strategi yang dirancang sejak awal akuisisi. Sejak awal, kami menyusun strategi dengan mempertimbangkan fundamental aset, potensi pendapatan, serta peluang peningkatan nilai dalam jangka waktu investasi yang direncanakan,” katanya dikutip dari keterangan tertulis, Senin (26/10/2026).

Kinerja operasional menjadi bagian penting dari kenaikan valuasi One Grand Eastlakes Shopping Centre. Okupansinya telah mencapai 100 persen, dengan supermarket ALDI dan Woolworths sebagai penyewa utama.

Omzet bulanan Woolworths pun mengalami peningkatan dari sekitar AU$150.000 menjadi lebih dari AU$520.000 sejak awal pengambilalihan mal.

Baca juga: Valuasi Mal One Global Gallery Melonjak Pasca Diakuisisi Iwan Sunito dari Crown Group

Iwan mengutip Rob Pignataro, Managing Agent dari Strathfield Partners, yang memasarkan One Grand Eastlakes yang menyatakan, sangat jarang sebuah pusat perbelanjaan dengan luas 3.300 m² seperti One Grand Eastlakes memiliki penyewa berkualitas tinggi (triple-A tenants) seperti Aldi, Australia Post, dan Woolworths.

“Dengan karakteristik dan kualitas penyewa tersebut, estimasi nilai pasar properti ini berada di kisaran AU$40 juta hingga AU$46 juta,” ungkap Rob Pignataro.

One Grand Eastlakes Shopping Centre dirancang sebagai investasi dengan horizon kepemilikan hingga akhir 2027. Seiring perkembangan valuasi aset dan prospek realisasi nilai yang makin terbuka, One Global Capital mempertimbangkan sejumlah opsi bersama para pemegang saham untuk menentukan langkah yang paling optimal bagi kepentingan investor.

Selain penjualan aset, perusahaan juga membuka kemungkinan memperpanjang periode kepemilikan hingga satu tahun. Opsi ini dapat dipertimbangkan bila para pemegang saham menilai, tambahan waktu itu berpotensi memberikan ruang untuk mengoptimalkan nilai aset dan hasil investasi.

Peluang investasi baru
Dampak kinerja One Grand Eastlakes Shopping Centre tidak hanya tercermin pada perkembangan valuasi. Menurut Iwan Sunito, pihaknya kini mulai mendapat banyak pertanyaan dari calon investor mancanegara, seperti dari Timur Tengah dan Amerika Serikat, yang tertarik menjajaki peluang investasi bersama One Global Capital.

Baca juga: Perluas Portofolio, One Global Capital Lansir Hotel Butik di Sydney

Ketertarikan itu menjadi salah satu pertimbangan One Global Capital mempersiapkan gebrakan berikutnya. Salah satunya rencana peluncuran proyek terbaru di Sydney, One Five Dock, pada pertengahan 2027.

“Kami melihat peluang membawa momentum ini ke tahap berikutnya melalui One Five Dock Masterplan Project. Kami ingin memberikan kesempatan investor menjajaki peluang baru melalui portofolio kami, dengan tetap mengedepankan fundamental aset dan disiplin investasi,” jelas Iwan.

Pasar properti komersial Australia
One Grand Eastlakes Shopping Centre sendiri, menurut Iwan, berkembang di tengah pasar properti komersial Australia yang tetap menarik perhatian investor, meskipun kondisi pembiayaan dan perekonomian global masih dinamis.

Mengutip data CBRE Australia, investasi properti komersial Australia pada semester I 2026 meningkat 16 persen secara tahunan menjadi AU$19 miliar.

Pusat perbelanjaan yang melayani kebutuhan sehari-hari, memiliki karakteristik yang berbeda dibanding pusat belanja yang menawarkan hiburan dan gaya hidup.

Kehadiran tenant supermarket dan penjual kebutuhan pokok, berpotensi mendukung arus kunjungan yang relatif konsisten, meskipun kinerja setiap aset tetap dipengaruhi lokasi, persaingan, kondisi penyewa, dan struktur sewa.

Baca juga: One Global Gelar World Roadshow, Ajak Investasi Properti dan Bangun Koneksi Global

Fitri Hilman, Director, Commercial Services, Savills Indonesia, menuturkan, properti ritel berbasis komunitas (community retail asset) layak dicermati karena didukung oleh kebutuhan sehari-hari masyarakat, dan potensi pendapatan sewa yang berulang (recurring income).

Dalam hal ini investor perlu melihat lebih dari sekadar lokasi. Kualitas dan keberlanjutan bisnis penyewa, kesesuaian tenant mix dengan kebutuhan masyarakat sekitar, tingkat okupansi, serta potensi pertumbuhan pendapatan sewa menjadi faktor penting.

“Bagi investor Indonesia yang ingin melakukan ekspansi ke pasar Australia, aset seperti ini dapat menawarkan peluang untuk memperoleh pendapatan sewa yang relatif stabil, sepanjang didukung oleh fundamental lokasi dan pengelolaan aset yang baik,” terang Fitri Hilman.

Dengan kata lain, daya tarik investasi lintas negara jangan hanya dinilai dari kenaikan valuasi, tapi investor juga perlu memahami risiko nilai tukar, biaya pendanaan, pajak, biaya pengelolaan, serta likuiditas saat aset akan dijual.

Berita Terkait

Ekonomi

Pemerintah: Tingkat Pengangguran Dekati Level Terendah, Penciptaan Lapangan Kerja Baru Dua Kali Lipat

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menyatakan, indikator ketenagakerjaan nasional tahun...

Survei Ahli Ekonomi LPEM FEB UI: Ekonomi RI Memburuk Dibanding 3 Bulan Lalu

Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis...

Survei LPEM UI: Penciptaan Lapangan Kerja Indonesia Makin Buruk

Survei Ahli Ekonomi Semester II 2026 yang dirilis Lembaga...

Berita Terkini