Survei Ahli Ekonomi LPEM UI: Target Pertumbuhan Ekonomi 6 Persen Tahun Depan Sulit Tercapai
Hasil Survei Ahli Ekonomi Semester II 2026 yang dirilis Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) mengungkapkan, para ekonom menyimpan keraguan yang cukup besar terhadap kemungkinan tercapainya target pertumbuhan ekonomi 6 persen yang diasumsikan dalam RAPBN 2027.
Menurut survei itu, dari 63 responden, sebanyak 37 ekonom (59 persen) menilai, target tersebut sebagai asumsi makroekonomi yang paling kecil kemungkinannya untuk tercapai.
“Menjadikannya asumsi yang paling banyak dipilih (sebagai target yang paling sulit dicapai), dengan selisih cukup besar dibandingkan asumsi lainnya,” tulis laporan hasil survei dikutip, Senin (26/10/2026).
Asumsi nilai tukar rupiah sebesar Rp17.500 per dolar AS menempati urutan kedua, dipilih oleh 12 responden (19 persen), sebagai target yang kecil peluangnya untuk tercapai.
Sebaliknya, relatif sedikit ekonom yang menjadi responden menilai asumsi makroekonomi lainnya sebagai yang paling sulit dicapai.
Hanya 4 responden (6 persen) yang menilai asumsi harga minyak mentah Indonesia sebesar USD75 per barel sulit dicapai, diikuti 3 responden (5 persen) untuk asumsi inflasi sebesar 2,5% ± 1 poin persentase, dan 1 responden (2 persen) untuk asumsi imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun sebesar 6,9 persen.
Baca juga: LPEM FEB UI Ragukan Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen, Ini Alasannya
Sementara 6 responden (10 persen) menyatakan keyakinan, seluruh asumsi makroekonomi di RAPBN 2027 dapat tercapai.
Menurut survei LPEM FEB UI, secara keseluruhan hasil survei menunjukkan, para ekonom memandang target pertumbuhan ekonomi 2027 sebagai komponen yang paling menantang dalam proyeksi makroekonomi pemerintah. Sementara kekhawatiran terhadap kemungkinan tercapainya asumsi-asumsi lainnya reltif lebih rendah
Kondisi ekonomi saat ini
Sebanyak 49 dari 63 ahli (78 persen) menilai tekanan inflasi terhadap perekonomian Indonesia saat ini tinggi. Dari jumlah tersebut, 44 ahli (70 persen) menjawab tinggi, dan 5 ahli (8 persen) menjawab sangat tinggi. Sisanya, 13 ahli (21 persen) netral, dan 1 ahli (2 persen) menilai rendah.
Sebanyak 38 dari 63 ahli (60 persen) memperkirakan, tekanan inflasi pada 1 bulan mendatang lebih tinggi. Dari jumlah tersebut, 34 ahli (54 persen) menjawab lebih tinggi dan 4 ahli (6 persen) menjawab jauh lebih tinggi. Sisanya, 22 ahli (35 persen) memperkirakan tidak berubah, dan 3 ahli (5 persen) memperkirakan lebih rendah.
Baca juga: Respon Pesimisme Pengamat, Pemerintah Kembali Tegaskan Ekonomi RI Tetap Kuat
Survei tersebut juga mengungkapkan, sebanyak 33 dari 63 ahli (52 persen) menilai kondisi ekonomi Indonesia saat ini memburuk dibandingkan 3 bulan lalu. Sisanya, 25 ahli (40 persen) menilai tidak berubah dan 5 ahli (8 persen) menilai membaik.
Sebanyak 33 dari 63 ahli (52 persen) memperkirakan, laju pertumbuhan ekonomi 3 bulan mendatang tidak berubah dari angka terbaru. Sebanyak 21 ahli (33 persen) menjawab melambat dan melambat signifikan, 9 ahli (14 persen) memperkirakan melaju.