Sabtu, Oktober 24, 2026
HomeMoneterBelanja Pemerintah Kembali Ngegas, Uang Beredar Meningkat Sedikit

Belanja Pemerintah Kembali Ngegas, Uang Beredar Meningkat Sedikit

Uang beredar adalah indikator aktivitas ekonomi. Kenaikan atau penurunan uang beredar, mengindikasikan bertambah atau berkurangnya likuiditas perekonomian atau jumlah uang untuk bertransaksi.

Artinya, uang beredar adalah salah satu indikator lesu atau bergairahnya ekonomi. Kenaikan jumlah uang beredar menunjukkan, likuiditas makin longgar dan transaksi ekonomi meningkat, walaupun kalau berlebihan juga bisa memicu inflasi dan kenaikan suku bunga.

Pada September 2026, Bank Indonesia melaporkan akhir pekan ini, jumlah uang beredar dalam arti luas (M2) relatif stabil.

Mencapai Rp10.587,9 triliun atau tumbuh 8,3 persen secara tahunan (yoy), hanya sedikit meningkat atau relatif stabil dibanding Agustus 2026 yang tumbuh 8,2 persen (yoy).

Berdasarkan komponennya, perkembangan M2 itu didukung oleh pertumbuhan uang beredar sempit (M1) dan uang kuasi.

M1 terdiri dari uang kartal (uang kertas dan logam di tangan masyarakat di luar bank umum dan BPR), giro rupiah di bank (uang giral), dan tabungan yang bisa ditarik sewaktu-waktu. Sedangkan uang kuasi adalah uang yang tidak bisa langsung digunakan seperti deposito dan tabungan valas.

Di luar M1 dan uang kuasi, ada juga yang disebut dengan base money atau uang inti (M0), yang terdiri dari uang kartal, kas tunai (vault cash) yang disimpan di bank-bank umum, dan saldo rekening giro bank-bank umum yang ditempatkan di Bank Indonesia (sebagai bagian dari Giro Wajib Minimum/GWM).

Baca juga: Agustus Kredit Tumbuh Makin Tinggi, Jumlah Uang Beredar Pun Stabil

Menurut BI, M1 dengan pangsa 56,9 persen dari M2, pada September 2026 tercatat Rp6.029,3 triliun atau tumbuh stabil 9,0 persen (yoy) dibandingkan Agustus 2026.

Perkembangan M1 dipengaruhi oleh giro rupiah sebesar 8,4 persen (yoy ), meningkat dari pertumbuhan Agustus 2026 sebesar 7,1 persen (yoy).

Sementara uang kartal dan tabungan rupiah yang bisa ditarik sewaktu-waktu, tumbuh 12,6 persen (yoy) dan 8,0 persen (yoy), lebih rendah dibanding bulan sebelumnya yang tumbuh 12,9 persen (yoy) dan 8,9 persen (yoy).

Sedangkan uang kuasi dengan pangsa 42,5 persen dari M2, pada September 2026 tumbuh 7,3 persen (yoy) menjadi Rp4.498,8 triliun, meningkat dibandingkan Agustus 2027 sebesar 6,5 persen (yoy).

Peningkatan tersebut didukung oleh giro valas dan simpanan berjangka (deposito), yang masing-masing tumbuh 13,9 persen (yoy) dan 5,2 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan Agustus 2026 yang tumbuh 11,8 persen (yoy) dan 4,6 persen (yoy).

Tabungan lainnya tumbuh melambat 12,1 persen (yoy) dibandingkan pertumbuhan Agustus 2026 sebesar 13,9 persen (yoy). Surat berharga selain saham juga tumbuh sangat melambat sebesar 19,0 persen (yoy), dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 66,5 persen (yoy).

Baca juga: Demi Ekonomi Tetap Tumbuh, BI Tidak Naikkan BI Rate, Tetap 5,75 Persen

Belanja pemerintah
Perkembangan M2 pada September 2026 terutama dipengaruhi oleh tagihan bersih kepada pemerintah pusat, aktiva luar negeri bersih, dan penyaluran kredit.

Tagihan bersih kepada pemerintah pusat dan aktiva luar negeri bersih, masing-masing tumbuh 24,4 persen (yoy) dan 1,0 persen (yoy), setelah pada Agustus 2026 terkontraksi (minus) 7,0 persen (yoy) dan 6,6 persen (yoy). Artinya belanja pemerintah kembali ngegas setelah sempat mengendur pada beberapa bulan sebelumnya.

Sementara penyaluran kredit pada September 2026 tumbuh menurun menjadi 12,7 persen (yoy), dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya yang mencapai 13,3 persen (yoy).

Kredit di sini hanya berupa pinjaman (loans). Tidak termasuk instrumen keuangan yang dipersamakan dengan pinjaman, seperti surat berharga (debt securities), tagihan akseptasi (banker’s acceptances), dan tagihan repo.

Selain itu, kredit yang diberikan tidak termasuk kredit yang diberikan oleh kantor bank umum yang berkedudukan di luar negeri, dan kredit yang disalurkan kepada pemerintah pusat dan bukan penduduk (orang asing).

Dibanding awal tahun yang tumbuh 10 persen (yoy) dan Mei 2026 yang mencapai 10,8 persen (yoy), pertumbuhan jumlah uang beredar pada bulan-bulan selainnya termasuk pada September 2026, masih lebih rendah.

Hal itu menunjukkan adanya upaya menyeimbangkan antara mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi melalui penyaluran kredit lebih banyak dengan melonggarkan likuditas, dan menjaga inflasi, menahan kenaikan suku bunga, dan mengendalikan nilai tukar rupiah.

Baca juga: Q4 BI Prediksi Kredit Tumbuh Kian Tinggi, Tapi Outstanding Keseluruhan 2026 Masih di Bawah 9 Persen

Simpanan masyarakat
Penghimpunan simpanan masyarakat atau dana pihak ketiga (DPK) oleh perbankan, pada September 2026 mencapai Rp9.895,8 triliun atau tumbuh 8,2 persen (yoy).

Perkembangan tersebut terutama didorong oleh peningkatan pertumbuhan giro dan simpanan berjangka, masing-masing sebesar 10,9 persen (yoy) dan 5,2 persen (yoy), dibandingkan Agustus 2026 sebesar 9,4 persen (yoy) dan 4,7 persen (yoy). Sementara tabungan tumbuh melambat sebesar 9,0 persen (yoy), dibandingkan Agustus 2026 sebesar 9,5 persen (yoy).

Berdasarkan golongan nasabah, meningkatnya pertumbuhan DPK didorong oleh DPK korporasi dan lainnya, yang masing -masing tumbuh 11,3 persen (yoy) dan 18,0 persen (yoy), meningkat dibandingkan Agustus 2026 sebesar 11,0 persen (yoy) dan 11,9 persen (yoy). Sementara DPK perorangan tumbuh stabil sebesar 3,6 persen (yoy) atau sama dengan Agustus 2026.

Berita Terkait

Ekonomi

Luncurkan DNKK, Presiden Targetkan Penyaluran Kredit Rakyat Rp400 Triliun Tahun Depan

Pemerintah memperkuat orientasi inklusi keuangan, dengan tidak hanya memperluas...

Ekonomi Digital Jadi Andalan Capai Target Pertumbuhan 6 Persen. Menko Airlangga Jelaskan

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menempatkan ekonomi digital sebagai salah...

BI: Manufaktur Ekspansif, Tapi Serapan Tenaga Kerjanya Masih Minus

Serupa dengan S&P Global dan Kementerian Perindustrian, Bank Indonesia...

Berita Terkini