Q4 BI Prediksi Kredit Tumbuh Kian Tinggi, Tapi Outstanding Keseluruhan 2026 Masih di Bawah 9 Persen
Survei Perbankan Bank Indonesia yang dilansir akhir pekan ini melaporkan, penyaluran kredit baru pada triwulan IV 2026 atau Q4 diprakirakan tumbuh makin tinggi.
Tercermin dari nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) penyaluran kredit baru triwulan IV 2026 sebesar 91,31 persen, lebih tinggi dari SBT 90,08 persen pada triwulan III 2026. Penyaluran kredit baru itu juga lebih tinggi dari SBT 88,92 persen pada triwulan IV 2025.
Prioritas utama responden dalam penyaluran kredit baru pada triwulan IV 2026 diprakirakan masih sama dengan periode sebelumnya. Yaitu, Kredit Modal Kerja (KMK), diikuti Kredit Investasi dan Kredit Konsumsi.
Pada kredit konsumsi, penyaluran Kredit Multiguna diprakirakan menjadi prioritas utama, diikuti KPR/KPA, dan Kredit Kendaraan Bermotor (KKB).
Berdasarkan sektor, penyaluran kredit baru pada triwulan IV 2026 diprakirakan terbesar pada sektor Industri Pengolahan, Perdagangan Besar dan Eceran, serta Perantara Keuangan.
Menurut BI, responden memprakirakan outstanding kredit sampai dengan akhir 2026 tumbuh 8,20 persen (yoy). Prakiraan tersebut lebih tinggi dibandingkan prakiraan periode survei sebelumnya sebesar 7,51 persen (yoy).
Namun, prakiraan pertumbuhan outstanding kredit 2026 tersebut, masih lebih rendah dibandingkan realisasi pertumbuhan kredit 2025 sebesar 9,69 persen (yoy).
Baca juga: Luncurkan DNKK, Presiden Targetkan Penyaluran Kredit Rakyat Rp400 Triliun Tahun Depan
Dana pihak ketiga
Secara kumulatif (ytd), penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) atau simpanan masyarakat oleh perbankan sampai triwulan IV 2026 juga diprakirakan tumbuh lebih tinggi.
Terindikasi dari nilai SBT 89,76 persen, lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya dengan SBT 87,52 persen, meskipun tetap masih lebih rendah dibandingkan triwulan IV 2025 dengan SBT 93,97 persen.
Berdasarkan jenis, pada triwulan IV 2026 instrumen tabungan dan giro diprakirakan tumbuh lebih tinggi dengan nilai SBT 90,29 persen dan 89,64 persen, lebih tinggi dibandingkan SBT triwulan III 2026.
Sementara instrumen deposito diprakirakan tumbuh lebih rendah dibandingkan triwulan III 2026 dengan nilai SBT sebesar 28,74 persen.
Standar penyaluran kredit pada triwulan IV 2026 lebih longgar dibandingkan triwulan sebelumnya, meski masih berada di zona ketat.
Tercermin dari Indeks Lending Standard (ILS) triwulan IV 2026 sebesar 0,15, jauh lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 0,28.
Penurunan ILS tersebut sejalan dengan prakiraan penyaluran kredit baru yang makin meningkat pada triwulan IV 2026.
Berdasarkan jenis kredit, standar penyaluran kredit yang lebih longgar pada triwulan IV, diprakirakan didorong oleh KMK dan KPR/KPA.
Sementara berdasarkan aspek penyaluran kredit, pelonggaran standar penyaluran kredit terjadi khususnya pada aspek plafon kredit, jangka waktu kredit, suku bunga kredit, dan persyaratan administrasi.