Agustus Kredit Tumbuh Makin Tinggi, Jumlah Uang Beredar Pun Stabil
Jumlah uang beredar adalah indikator likuiditas perekonomian. Makin besar jumlahnya, lazimnya kian bergairah perekonomian karena tersedia lebih banyak uang untuk bertransaksi.
Selama beberapa bulan terakhir, jumlah uang beredar terus menurun. Pada Juli 2026 misalnya, nilainya jumlah uang beredar dalam arti luas (M2) mencapai Rp10.371 ,1 triliun. Tumbuh 8,3 persen secara tahunan (yoy), lebih rendah dibanding Juni 2026 sebesar 8,7 persen (yoy) dan Mei 10,8 persen.
Penurunan terutama dipengaruhi oleh ekspansi belanja pemerintah yang terus mengendur, menjadi 17 persen atau kurang, tidak setinggi pada bulan-bulan sepanjang semester pertama yang mencapai di atas 20-30 persen.
Tercermin dari tagihan bersih bank sentral (BI) kepada pemerintah pusat yang terus menurun. Sebagaimana diketahui, rekening pemerintah ada di BI.
Pada Agustus 2026, BI melaporkan, Kamis (24/9/2026), pertumbuhan uang beredar itu relatif stabil, dengan posisi M2 tercatat sebesar Rp10.448,1 triliun, atau tumbuh 8,2 persen (yoy) dibanding 8,3 persen (yoy) pada Juli 2026.
Baca juga: Ekspansi Belanja Pemerintah Mengendur, Juli Uang Beredar Kian Menurun
Berdasarkan komponennya, perkembangan M2 didukung oleh pertumbuhan uang beredar sempit (M1) dan uang kuasi.
M1 terdiri dari uang kartal (uang kertas dan logam di tangan masyarakat di luar bank umum dan BPR), giro rupiah di bank (uang giral), dan tabungan yang bisa ditarik sewaktu-waktu. Sedangkan uang kuasi adalah uang yang tidak bisa langsung digunakan seperti deposito dan tabungan valas.
M1 dengan pangsa 56,9 persen dari M2, pada Agustus 2026 tercatat Rp5.943 ,0 triliun, atau tumbuh 9,0 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan pertumbuhan Juli 2026 sebesar 10,0 persen (yoy).
Perkembangan M1 dipengaruhi oleh giro rupiah serta uang kartal di luar bank umum dan BPR, yang masing-masing tumbuh 7,1 persen (yoy) dan 12,9 persen (yoy), lebih rendah dibanding pertumbuhan Juli 2026 sebesar 10,9 persen (yoy) dan 15,7 persen (yoy).
Sementara tabungan rupiah yang bisa ditarik sewaktu-waktu tumbuh 8,9 persen (yoy), meningkat dibandingkan pertumbuhan Juli sebesar 6,8 persen (yoy).
Uang kuasi dengan pangsa 42,4 persen dari M2, pada Agustus 2026 tumbuh 6,5 persen (yoy) menjadi Rp4.426,2 triliun, meningkat dibandingkan Juli 2026 yang tumbuh 5,6 persen (yoy).
Peningkatan tersebut didukung oleh giro valas yang tumbuh 11,8 persen (yoy), meningkat dibandingkan Juli 2026 sebesar 5,1 persen (yoy).
Sementara simpanan berjangka tumbuh relatif stabil sebesar 4,6 persen (yoy), dan tabungan lainnya tumbuh melambat 14,0 persen (yoy) dibandingkan 17,2 persen (yoy) pada Juli 026.
Sedangkan surat berharga selain saham tumbuh 66,5 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan peningkatan bulan sebelumnya sebesar 53,6 persen (yoy).
Baca juga: Menkeu: Supaya Ekonomi Bisa Tumbuh 8 Persen, Cukupi Likuiditas Perbankan
Menurut BI, stabilnya M2 pada Agustus 2026 dipengaruhi oleh penyaluran kredit, yang pada Agustus 2026 tercatat sebesar Rp9.019 ,3 triliun atau tumbuh 13,3 persen (yoy), lebih tinggi dibanding Juli 2026 yang tumbuh 13,0 persen (yoy).
Sementara tagihan bersih kepada pemerintah pusat, makin merosot, mengalami kontraksi (minus) sebesar 7,0 persen (yoy), dibanding Juli 2026 yang masih tumbuh 4,6 persen (yoy).
Sebagai perbandingan, tagihan bersih BI kepada pemerintah pusat pada Juni 2026 mencapai 10,1 persen (yoy), dan Mei 37,4 persen.
Kendati uang beredar turun, uang primer (M0) adjusted masih tumbuh tinggi. Pada Agustus 2026 tercatat sebesar Rp2.281,5 triliun atau tumbuh 16,3 persen (yoy), kendati sedikit menurun dibanding pertumbuhan Juli 2026 sebesar 17,1 persen (yoy).
Perkembangan ini dipengaruhi oleh pertumbuhan giro bank umum di Bank Indonesia adjusted sebesar 19,0 persen (yoy), dan uang kartal yang diedarkan sebesar 12,9 persen (yoy).
Uang primer atau base money adalah uang yang paling likuid dalam suatu perekonomian. Uang primer berfungsi sebagai dasar terciptanya uang beredar dalam arti luas (M1 dan M2) lewat aktivitas perbankan.
Artinya, base money memiliki arti penting sebagai fondasi utama seluruh perputaran uang dan stabilitas ekonomi suatu negara. Tanpa uang primer yang mencukupi, sistem perbankan tidak memiliki bahan baku untuk menciptakan kredit dan menggerakkan roda ekonomi.
Sementara uang primer adjusted, adalah base money yang telah memperhitungkan dampak pemberian insentif likuiditas oleh BI kepada perbankan untuk membiayai sektor riil (pengendalian moneter adjusted).