Selasa, September 22, 2026
HomeBahan BangunanGBCI dan RUJAK RCUS Kembangkan Toolkit "Rumah Sehat, Rumah Hemat"

GBCI dan RUJAK RCUS Kembangkan Toolkit “Rumah Sehat, Rumah Hemat”

Kondisi hunian sangat berpengaruh pada kualitas hidup seperti udara di dalam ruangan, pencahayaan, ventilasi, dan sebagainya. Pada akhirnya, rumah memegang peranan sentral dalam cara orang menjalani hidup, bekerja, beristirahat, maupun melakukan aktivitas kesehariannya.

Di saat yang sama, bangunan hunian juga berperan dalam upaya dekarbonisasi karena setiap rumah mengonsumsi energi, air, dan material, serta menghasilkan emisi selama masa penggunaannya. Menciptakan rumah yang lebih sehat dan nyaman dapat berjalan beriringan dengan penggunaan sumber daya yang lebih efisien serta pengurangan dampak lingkungan.

Menanggapi kebutuhan tersebut, Green Building Council Indonesia (GBCI) dan RUJAK Center for Urban Studies (RCUS) mengembangkan toolkit “Rumah Sehat, Rumah Hemat”. Ini adalah panduan praktis yang dirancang untuk membantu masyarakat memahami kondisi hunian mereka dan mengidentifikasi strategi perbaikan guna mewujudkan rumah yang lebih sehat, nyaman, dan hemat sumber daya.

Dikutip dari laman GBCI Selasa (22/9), pengembangan toolkit ini didasarkan pada pendekatan yang berpijak pada kondisi hunian nyata dan pengalaman para penghuni. Untuk menguji penerapannya dalam berbagai konteks, GBCI dan RUJAK RCUS menyelenggarakan kegiatan “Jelajah Kampung: Rumah Sehat, Rumah Hemat-Studi Lapangan Partisipatif dan Pengembangan Toolkit” pada 19 September 2026 di Kampung Susun Akuarium dan Kampung Muara Angke, Jakarta Utara.

Toolkit “Rumah Sehat, Rumah Hemat” dirancang agar dapat diterapkan pada berbagai jenis hunian kampung, baik rumah tapak maupun hunian kampung vertikal. Panduan ini juga bertujuan mendukung penghuni untuk secara mandiri mengidentifikasi kondisi hunian mereka dan menentukan strategi perbaikan yang tepat.

Toolkit ini diawali dengan memperkenalkan konsep rumah dalam konteks karbon. Bagian ini mengupas bagaimana rumah dipahami, kaitannya dengan krisis iklim, serta pendekatan untuk meninjau ruang hunian dalam konteks yang lebih luas tersebut.

Selanjutnya, toolkit juga membahas berbagai aspek yang memengaruhi kesehatan, kenyamanan, dan efisiensi rumah, termasuk ventilasi alami, pencahayaan alami, kenyamanan pergerakan dan tata ruang, pengelolaan limbah, serta aspek keselamatan terkait material dan air.

Baca juga: Syarat Rumah Green Menurut GBCI

Panduan ini juga membedakan pendekatan antara rumah yang belum dibangun dan rumah yang sudah ada. Pendekatan tersebut mencakup identifikasi tanda-tanda potensi masalah serta penggunaan standar yang relevan sebagai acuan dalam menyusun strategi perbaikan. Melalui studi lapangan, pendekatan-pendekatan ini diuji secara langsung untuk memahami bagaimana perangkat tersebut dapat diterapkan pada hunian dengan karakteristik, kebutuhan, dan tantangan yang beragam.

Kampung Susun Akuarium, yang terletak di kawasan Pasar Ikan, Penjaringan, Jakarta Utara, memiliki sejarah panjang sebagai permukiman warga yang bermula sejak tahun 1970-an. Kawasan ini mengalami penggusuran pada 11 April 2016 yang mengakibatkan pembongkaran 241 bangunan hunian.

Sebagian warga menolak relokasi ke unit perumahan umum karena dianggap terlalu jauh dari lokasi mata pencaharian mereka sebagai nelayan. Saat ini, pembangunan Kampung Susun Akuarium telah memasuki tahap penyelesaian untuk fase pertama dan kedua, dengan empat blok yang sudah dihuni oleh warga.

Sementara itu, Kampung Muara Angke merupakan komunitas nelayan pesisir di Jakarta Utara yang telah berkembang sejak tahun 1960-an. Dibangun di atas lahan rawa hasil reklamasi, permukiman ini menghadapi berbagai tantangan, termasuk banjir rob, suhu panas ekstrem, kenaikan permukaan air laut, akses terbatas terhadap air bersih, serta kurangnya ruang terbuka hijau.

Baca juga: Opini: Perumahan Kooperatif

Karakteristik komunitas di Muara Angke juga sangat erat kaitannya dengan lingkungan setempat dan mata pencaharian warga. Sebagian besar penduduknya adalah nelayan skala kecil sementara yang lain bekerja di industri ikan asin, sektor informal, dan perdagangan skala kecil. Akibatnya, kebutuhan perumahan di kawasan ini tidak dapat dipisahkan dari aktivitas ekonomi komunitas maupun lingkungan pesisirnya.

Perbedaan antara kedua lokasi tersebut menjadi bagian penting dalam proses pengembangan perangkat panduan. Studi lapangan ini memberikan kesempatan untuk mengkaji bagaimana aspek kesehatan, kenyamanan, keselamatan, dan efisiensi sumber daya hunian dapat diidentifikasi serta dinilai dalam konteks permukiman yang berbeda.

Kegiatan “Jelajah Kampung” juga melibatkan mahasiswa yang bekerja dalam kelompok untuk melakukan studi lapangan di kedua lokasi tersebut. Sebelum terjun ke lapangan, para peserta diperkenalkan dengan perangkat panduan Rumah Sehat, Rumah Hemat dan diberikan pengarahan mengenai proses penilaian.

Kelompok yang ditugaskan di Kampung Susun Akuarium mengikuti kegiatan susur kampung (kampung walk) untuk memahami lingkungan sekitar dan kondisi hunian. Sementara itu, kelompok yang mengunjungi Kampung Muara Angke mendatangi lokasi studi sebelum melakukan penilaian bersama dengan pemilik rumah.

Baca juga: GBCI Lansir Kriteria Kawasan Hijau

Selama studi lapangan, peserta menggunakan perangkat panduan tersebut untuk mengidentifikasi kondisi hunian secara langsung bersama warga. Temuan-temuan tersebut kemudian dibahas dalam sesi diskusi, di mana peserta merumuskan rekomendasi strategi berdasarkan permasalahan dan potensi yang teridentifikasi di setiap rumah.

Proses ini dilanjutkan dengan presentasi kelompok dan pemberian masukan dari tim penilai. Sesi ini memberikan kesempatan untuk mengkaji bagaimana hasil pengamatan lapangan dapat diterjemahkan menjadi rekomendasi yang relevan sekaligus menghasilkan masukan mengenai bagaimana perangkat panduan tersebut dapat diterapkan dan disempurnakan lebih lanjut.

Bagi GBCI dan RUJAK RCUS, studi lapangan merupakan bagian penting dari proses pengembangan, yang membantu memastikan bahwa perangkat panduan Rumah Sehat, Rumah Hemat tetap berpijak pada realitas kehidupan masyarakat. Pendekatan ini menempatkan pengalaman warga dan karakteristik hunian sebagai fokus utama dalam mengidentifikasi tantangan serta merancang strategi perbaikan yang praktis.

Berita Terkait

Ekonomi

Juli 2026 Kunjungan Turis asal Timur Tengah dan Eropa Naik Tinggi

Laporan terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) awal September 2026...

Jaga Kecukupan Likuiditas, Kemenkeu Lanjutkan Penempatan Dana SAL Rp200 Triliun di Perbankan

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) melanjutkan kebijakan penempatan dana Saldo Anggaran...

Menkeu: Agustus 2026 Penerimaan Negara Tumbuh 25,4 Persen, Utang on Track, Defisit Terjaga

Menteri Keuangan (Menkeu) Suahasil Nazara menyampaikan, kinerja Anggaran Pendapatan...

Berita Terkini