Minggu, November 8, 2026
HomeNewsEkonomiCushman: Pertumbuhan Pasar Data Centre di Indonesia Salah Satu yang Tercepat di...

Cushman: Pertumbuhan Pasar Data Centre di Indonesia Salah Satu yang Tercepat di Asia Pasifik

Indonesia terus memperkuat posisinya sebagai salah satu pasar data centre yang berkembang pesat di Asia Pasifik. Berdasarkan laporan APAC Data Centre Investment Landscape 2026 dari Cushman & Wakefield, aktivitas pre-leasing di Indonesia meningkat hampir lima kali lipat dibandingkan 2025.

Seiring makin banyaknya pemain global yang memperkuat kehadirannya di Indonesia, termasuk Digital Realty, Equinix, dan Keppel Data Centres.

Menurut keterangan konsultan properti Cushman & Wakefield yang diterima akhir pekan ini, di kawasan Asia Pasifik, permintaan terhadap kapasitas data centre terus melampaui pasokan.

Dalam setahun terakhir, Asia Pasifik menambah lebih dari 2.200 MW kapasitas operasional baru, namun tingkat kekosongannya justru menurun dari 11,0 persen menjadi 10,3 persen, yang menunjukkan kuatnya permintaan.

Aktivitas pre-leasing di Asia Pasifik meningkat 115 persen (yoy), dengan lebih dari 7,8 GW kapasitas masa depan yang telah dikontrak.

Tren ini juga tercermin di Indonesia, dengan penyedia layanan cloud, perusahaan AI, dan korporasi domestik makin aktif mengamankan kapasitas lebih awal, bahkan sebelum fasilitas mulai dibangun.

“Perkembangan tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu dari lima pasar terbesar di Asia Pasifik, berdasarkan kapasitas data centre yang telah diamankan melalui pre-leasing,” tulis laporan Cushman.

Hal ini mencerminkan kuatnya permintaan dari berbagai segmen. Mulai dari penyedia cloud dan perusahaan AI, hingga korporasi yang membutuhkan kapasitas digital dalam skala besar.

Dengan hampir 2 GW kapasitas yang berada dalam pipeline pengembangan hingga 2030, Indonesia terus mencatat penambahan kapasitas untuk mendukung pertumbuhan permintaan data centre.

Baca juga: Kawasan Industri Kian Berkibar, Didorong Perkembangan AI dan Data Center

Pembiayaan
Aktivitas pembiayaan juga terus menuai momentum. Sejumlah transaksi pembiayaan data centre di Indonesia berhasil diselesaikan, termasuk fasilitas pinjaman senilai USD320 juta yang melibatkan Bank Permata, BCA, dan KB Bank, serta fasilitas pinjaman sebesar USD411 juta yang didukung DBS dan UOB.

Keterlibatan bank-bank nasional dan regional menunjukkan, data centre semakin dipandang sebagai salah satu kelas aset infrastruktur yang menarik bagi investor dan institusi keuangan.

Potensi pertumbuhan tinggi
Dari sisi permintaan, Indonesia memiliki basis pasar yang besar dengan ruang pertumbuhan yang masih luas. Saat ini, rasio populasi terhadap kapasitas data centre operasional di Indonesia mencapai sekitar 616.000 orang per MW. Jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata Asia Pasifik yang berada di kisaran 248.000 orang per MW.

Perbandingan ini mengindikasikan, kapasitas data centre Indonesia saat ini masih relatif terbatas dibandingkan dengan jumlah penduduk, yang mencerminkan potensi pengembangan kapasitas lebih lanjut seiring pertumbuhan kebutuhan infrastruktur digital.

“Pertumbuhan permintaan cloud, adopsi AI, digitalisasi korporasi, serta kebijakan kedaulatan data diperkirakan akan terus menjadi pendorong utama kebutuhan data centre dalam beberapa tahun ke depan,” tulis Cushman. Sejalan dengan tren tersebut, Indonesia diproyeksikan menghasilkan pendapatan colocation lebih dari USD3,4 miliar pada 2030.

Imbal hasil menarik
Dari sisi investasi, Indonesia juga menawarkan profil imbal hasil yang menarik. Laporan Cushman mencatat cap rate Indonesia berada sedikit di atas 7 persen. Sementara unlevered yield-on-cost berada di kisaran 10–12 persen.

Angka tersebut relatif lebih tinggi dibandingkan beberapa pasar Asia Pasifik lainnya, termasuk Malaysia, Jepang, Hong Kong, dan Tiongkok daratan.

Baca juga: Opini: Ancaman Lingkungan di Balik Ekspansi Data Center AI

Kebutuhan investasi USD17,9 miliar
Perkembangan tersebut mendorong kebutuhan investasi yang signifikan. Indonesia diperkirakan membutuhkan belanja modal (capital expenditure atau CapEx) sekitar USD17,9 miliar sepanjang 2026–2030 untuk memenuhi kebutuhan kapasitas data centre yang terus meningkat.

Dengan kombinasi permintaan yang terus meningkat dan imbal hasil yang kompetitif, Indonesia diproyeksikan membutuhkan investasi USD17,9 miliar hingga 2030, untuk memenuhi kebutuhan kapasitas data centre yang terus meningkat.

Menjadikannya salah satu pasar data centre dengan prospek pertumbuhan paling menarik di Asia Pasifik. Secara regional, Asia Pasifik, diperkirakan membutuhkan sekitar 22,7 GW kapasitas data centre baru untuk memenuhi kebutuhan kapasitas hingga 2030.

“Indonesia berada pada posisi strategis untuk memanfaatkan pertumbuhan data centre. Didukung populasi digital yang besar, kebijakan kedaulatan data, dan arus masuk modal internasional yang makin kuat. Menjadikan Indonesia salah satu pasar dengan prospek jangka panjang yang menarik di Asia Pasifik,” kata Pritesh Swamy, Head of Research & Consulting, Data Centre Group APAC, Cushman & Wakefield, seperti dikutip keterangan Cushman.

Berita Terkait

Ekonomi

Cadangan Devisa Kembali Meningkat, Oktober Bertambah USD500 Juta

Cadangan devisa RI terkuras sepanjang Desember 2025-Mei 2026 senilai...

Otorita IKN-Korea Selatan Gelar Nusantara Smart City Forum

Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) bersama Republik Korea Selatan...

Prediksi Para Ekonom Meleset, Triwulan III Ekonomi RI Tumbuh Lebih Tinggi

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, Kamis (5/11/2026), pertumbuhan ekonomi...

Berita Terkini