Makin Sedikit Konsumen yang Berani Beli Rumah Secara Tunai
Kemauan dan daya beli konsumen membeli barang-barang tahan lama (durable goods) termasuk rumah tinggal, terus menurun dalam beberapa tahun terakhir.
Hal itu tercermin dari terus menurunnya penyaluran kredit konsumsi termasik kredit rumah (KPR), juga dari proporsi konsumen yang berani membeli rumah secara tunai.
Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia yang dirilis, Jumat (6/11/2026), mengungkapkan, mayoritas pembelian rumah di pasar primer atau rumah baru dilakukan melalui skema KPR dengan pangsa 70,68 persen pada triwulan III 2026 dari total skema pembelian.
Sementara pembelian rumah primer melalui pembayaran tunai bertahap dan tunai (cash keras), masing-masing memiliki pangsa sebesar 20,96 persen dan 8,37 persen.
Baca juga: Triwulan III Penjualan Seluruh Tipe Rumah Jeblok
Proporsi pembelian rumah dengan KPR dan secara tunai meningkat dibanding triwulan II 2026 (lihat tabel). Sebaliknya, pangsa pembelian rumah secara tunai menurun cukup signifikan dibanding triwulan II 2026 yang tercatat sebesar 9,35 persen.
Mencerminkan bukan hanya tingkat daya beli, tapi juga penurunan kemauan dan keberanian konsumen membeli rumah secara cash di tengah ketidakpastian situasi ekonomi global dan domestik saat ini.
BI sendiri mencatat, pada triwulan III 2026 total nilai KPR (bukan pertumbuhan penyaluran) secara tahunan tumbuh 4,80 persen (yoy), sedikit meningkat dibandingkan 4,70 persen (yoy) pada triwulan II 2026.
Baca juga: Penjualan Rumah Anjlok, Kenaikan Harga Minimal
Secara triwulanan, nilai KPR juga tumbuh sebesar 1,40 persen (qtq), lebih tinggi dibandingkan 1,24 persen (qtq) pada triwulan sebelumnya.
Pangsa Pembiayaan Pembelian Rumah (%)
Periode KPR Tunai Bertahap Tunai
Triwulan III 2026 70,68 20,96 8,37
Triwulan II 2026 70,05 20,60 9,35
Triwulan I 2026 69,87 19,61 10,53
Triwulan IV 2025 70,88 19,18 9,94
Triwulan III 2025 74,41 17,00 8,59
Triwulan II 2025 73,06 17,75 9,19
Triwulan I 2025 70,68 19,53 9,79
Sumber: Bank Indonesia, diolah