Colliers: Pasar Hotel Belum Pulih
Laporan Pasar Properti triwulan III (Q3) 2026 yang dilansir konsultan properti Colliers Indonesia pekan lalu mengungkapkan, pasar hotel Jakarta memasuki kuartal tiga 2026 dengan tanda-tanda pemulihan yang lebih jelas, dibandingkan paruh pertama yang lebih lemah, seiring meningkatnya aktivitas korporasi, penyelenggaraan acara, dan permintaan dari sektor pemerintah.
Namun, pemulihan masih belum sepenuhnya terjadi. Tingkat hunian masih berada di bawah periode yang sama pada 2025, menunjukkan pasar hotel belum mengalami pemulihan permintaan secara menyeluruh seperti sebelumnya.
Oleh karena itu, perubahan yang lebih penting bukan sekadar apakah permintaan sedang pulih, tapi segmen permintaan mana yang kembali, seberapa konsisten pergerakannya, dan seberapa efektif hotel dapat mengonversi permintaan tersebut menjadi pendapatan.
Kondisi ini, menurut Colliers, mengubah prioritas komersial bagi operator hotel. Dengan permintaan dari sektor pemerintah yang masih di bawah level tahun lalu, hotel perlu membangun bauran permintaan yang lebih seimbang antara perjalanan korporasi, Free Independent Travellers (FIT), MICE, wisata domestik, acara sosial, dan segmen komersial lainnya.
Diversifikasi sumber permintaan dapat mengurangi ketergantungan pada satu sumber (sewa kamar), serta menciptakan fondasi yang lebih kuat bagi kinerja tingkat hunian dan tarif kamar.
“Wisata domestik dan perjalanan yang didorong oleh penyelenggaraan acara menjadi makin relevan. Selama periode liburan sekolah, staycation dapat mempertahankan belanja wisata di dalam kota, sementara konser, acara olahraga, pameran, dan berbagai kegiatan berskala besar lainnya dapat menciptakan lonjakan permintaan dalam waktu tertentu,” tulis Colliers.
Baca juga: September Kunjungan Wisman dan Perjalanan Wisnus Menurun, Okupansi Hotel Juga
Hotel yang mampu menghubungkan akomodasi dengan fasilitas makanan dan minuman, pertemuan, hiburan, serta pengalaman yang dikurasi secara khusus, dapat memperoleh porsi pengeluaran tamu yang lebih besar sekaligus memperkuat pendapatan dari sumber non-kamar.
Implikasi strategisnya, pemulihan perlu dikelola sebagai tantangan kualitas pendapatan, bukan sekadar perlombaan meningkatkan tingkat hunian.
Strategi harga taktis dapat membantu menangkap permintaan jangka pendek, tapi kinerja yang berkelanjutan akan bergantung pada segmentasi yang lebih tajam, positioning yang lebih kuat, serta paket penawaran yang memberikan alasan yang jelas bagi tamu untuk memilih sebuah hotel.
“Di tengah persaingan yang makin ketat, yang unggul adalah operator hotel yang mampu memahami sumber terbentuknya permintaan, menetapkan harga secara tepat, dan mengoptimalkan pendapatan baik dari kamar maupun sumber pendapatan non-kamar,” jelas laporan Colliers.
Baca juga: INPP: Hotel Bintang 4 dan 5 Tidak Terpengaruh Gejolak Global, Tapi Justru Diuntungkan
Hotel Bali
Sementara kinerja hotel di Bali, sentra utama pariwisata Indonesia, disebut Colliers sedang memasuki fase yang lebih menantang.
Pertumbuhan jumlah wisatawan mulai melambat, kinerja hotel masih relatif moderat, dan pipeline pengembangan tetap didominasi oleh pasokan hotel kelas mewah.
Kombinasi kondisi ini memunculkan pertanyaan yang lebih penting daripada sekadar apakah Bali dapat terus menarik wisatawan, tapi apakah pasar mampu mengonversi permintaan pariwisata menjadi kinerja hotel yang lebih kuat dan berkelanjutan. Siklus pertumbuhan berikutnya kemungkinan tidak lagi ditentukan oleh volume kunjungan semata.
Bagi operator hotel, investor, dan pembuat kebijakan, prioritas kini bergeser menuju kualitas permintaan, lama tinggal yang lebih panjang, pengeluaran wisatawan yang lebih tinggi, peningkatan pendapatan non-kamar, serta pengalaman yang lebih terdiferensiasi. “Semua itu perlu didukung dengan kualitas destinasi dan kapasitas infrastruktur di Bali yang tetap terjaga,” tutup laporan Colliers.