Senin, Mei 11, 2026
HomeBerita PropertiINPP: Hotel Bintang 4 dan 5 Tidak Terpengaruh Gejolak Global, Tapi Justru...

INPP: Hotel Bintang 4 dan 5 Tidak Terpengaruh Gejolak Global, Tapi Justru Diuntungkan

Pasar hotel bintang 4 dan 5 tidak terpengaruh gejolak geopolitik seperti perang di Timur Tengah. Perang itu memang meningkatkan harga minyak dunia, mengganggu rantai pasok dan menaikkan harga barang dan jasa atau inflasi.

Di sisi lain gejolak politik tersebut juga memicu pelarian modal asing portofolio ke instrumen safe haven seperti dolar AS, obligasi negara maju, emas dan lain-lain, yang membuat mata uang negara emerging market seperti Indonesia makin melemah.

Menurut Presiden Direktur-CEO PT Indonesia Paradise Property Tbk (INPP/Paradise Indonesia) Anthony Prabowo Susilo, pasar hotel bintang 4 dan 5 kebanyakan orang asing. Berbeda dengan pasar hotel bintang 3 dan hotel bujet yang didominasi wisatawan domestik.

Karena itu pasar hotel bintang 5 tidak terpengaruh oleh gejolak geopolitik tersebut, tapi justru diuntungkan karena wisatawan asing membayar tarif hotel lebih murah dengan mata uangnya.

“Okupansi hotel bintang lima kami di Jakarta dan Bali seperti Sheraton dan Hyatt, tetap meningkat selama triwulan pertama tahun ini,” kata Anthony dalam media gathering di Jakarta, Senin (11/5/2026). Ia didampingi Direktur Keuangan INPP Surina.

Berbeda dengan hotel bintang tiga, pasarnya memang terpengaruh karena wisatawan domestik harus membayar tarif hotel lebih mahal menyusul kian lemahnya nilai tukar rupiah. “Tapi, kami hanya punya dua hotel bintang tiga seperti Yello,” ujarnya.

Baca juga: Triwulan I Okupansi Hotel Membaik, Hotel Bintang 5 Catat Okupansi Tertinggi

Paradise Indonesia mengandalkan pendapatan (lebih dari 70-80 persen) pada recurring income (pendapatan berulang dari penyewaan), dari pengelolaan 8 pusat belanja dan 13 hotel, ditambah sekitar 20 persen dari penjualan properti dari 6 proyek seperti apartemen Antasari Place.

Pada kuartal satu tahun ini, Paradise Indonesia mencatat pendapatan Rp326,9 miliar, meningkat 14 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Dari jumlah itu, segmen komersial (pusat belanja dan ritel) menyumbang Rp157,14 miliar atau naik 19 persen secara tahunan (yoy), segmen hospitality (perhotelan dan apartemen servis) Rp135,50 miliar atau naik 4 persen (yoy), dan segmen penjualan properti Rp34,26 miliar atau melesat 38 persen menyusul serah terima unit apartemen di Antarasi Place.

Dari pendapatan itu, Paradise Indonesia mencatat EBITDA (laba kotor) Rp100,67 miliar, meningkat 20 persen dibanding kuaeral I 2026, dan laba bersih Rp41 miliar.

Pada kuartal dua tahun ini, Paradise Indonesia akan mengoperasikan mal baru 23 Semarang Shopping Center di Semarang, dan memulai konstruksi proyek mixed use low density 88 Plaza Balikpapan di Balikpapan.

Baca juga: Okupansi Hotel Di Koridor Sudirman Ini Salah Satunya Ditopang CFD

Direktur Keuangan Paradise Indonesia Surina mengungkapkan, pada kuartal dua 2026 akan ada lonjakan pendapatan INPP dari pengoperasian 23 Semarang, karena mal baru yang dikeonsep sebagai leisure destination itu sudah terisi lebih dari 70 persen.

“Tenant sudah booking sejak 2-3 tahun lalu (sebelum pusat belanjanya dikembangkan). Sampai akhir tahun ini okupansinya akan mencapai 85-87 persen dengan net saleable are 48.000 m2 dari awalnya 38.000 m2,” terang Surina.

Terkait hotel, ia mengungkapkan hotel INPP Harris Suites fX Sudirman di pusat bisnis utama Jakarta yang selalu fully booked, akan direnovasi dan ditambah jumlah kamarnya. Sementara hotel INPP di Batam dan Yogyakarta akan dipercantik.

Berita Terkait

Ekonomi

Harga Beras Selalu Naik, Tapi Daya Beli Petani Makin Turun

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan awal pekan ini (4/5/2026),...

Kredit Bermasalah Pinjol Masih Bertahan Tinggi

Hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) Otoritas Jasa Keuangan...

Wamenkeu: Defisit Fiskal Tahun Ini Maksimal 2,9 Persen

Defisit fiskal atau kekurangan anggaran RI terancam melebar tahun...

Berita Terkini