Kamis, Mei 7, 2026
HomeBerita PropertiQ1 Kawasan Industri Catat Transaksi 90 Hektar, Purwakarta dan Subang Kian Naik...

Q1 Kawasan Industri Catat Transaksi 90 Hektar, Purwakarta dan Subang Kian Naik Daun

Laporan terbaru Quarterly Property Market Report Q1 2026 yang dirilis pekan lalu mengungkapkan, terjadi perubahan besar dalam pasar kawasan industri di Bodetabek (Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi).

Karena kawasan industri matang dan populer seperti Bekasi dan Karawang mulai kehabisan lahan, permintaan makin bergeser ke arah timur menuju Purwakarta dan Subang. Wilayah-wilayah ini kini menjadi pusat baru bagi pertumbuhan manufaktur.

Menurut Ferry Salanto, Head of Industrial & Logistics Services Colliers Indonesia, meskipun ekonomi global masih diwarnai ketidakpastian, pasar industri Indonesia menunjukkan daya tahan yang solid.

Penyerapan lahan pada triwulan pertama (Q1) 2026 mencapai hampir 90 hektar, jauh melampaui pencapaian pada periode yang sama tahun lalu. “Fenomena ini menandakan, minat pasar tetap tinggi meski investor cenderung lebih selektif dalam mengambil keputusan,” katanya.

Di kawasan industri yang sudah matang di Bekasi dan Karawang, ketersediaan lahan makin terbatas, karena tidak ada pasokan baru yang masuk pada Q1 2026. Situasi ini memaksa para pelaku industri mengevaluasi lokasi alternatif yang menawarkan fleksibilitas ekspansi jangka panjang.

“Keterbatasan lahan di kawasan matang, mendorong penyewa mempertimbangkan lokasi lebih ke timur, di mana lahan luas dan harga yang lebih kompetitif masih tersedia,” ungkap Ferry.

Baca juga: Kawasan Industri Terus Melaju, Saat Properti Lain Masih Lesu

Purwakarta pun mulai menunjukkan taringnya, dengan transaksi mencapai 22 hektar di Jatiluhur Industrial Smart City (JISC), yang didominasi perusahaan manufaktur lokal. Sementara Subang diproyeksikan menjadi pusat pertumbuhan masa depan, dengan kehadiran pabrik mobil listrik BYD dan dukungan Pelabuhan Patimban.

Pertumbuhan kawasan industri Q1 2026 tidak hanya bergantung pada satu sektor. Selain manufaktur, sektor pusat data (data center) dan kimia memberikan kontribusi besar, mencakup lebih dari 36 persen dari total akuisisi lahan. Transaksi terbesar tercatat di koridor barat (Cilegon) dengan luas 26 hektar, mencakup industri petrokimia dan pipa.

Baca juga: Kawasan Industri Berkembang ke Berbagai Area Baru

Rata-rata harga permintaan lahan industri naik menjadi USD181,59 per meter persegi. Pertumbuhan harga paling terlihat di wilayah berkembang seperti Subang, yang didorong oleh perbaikan infrastruktur dan momentum investasi yang terus menguat.

Colliers memprediksi pasar industri akan memasuki fase konsolidasi. Keberhasilan pengelola kawasan industri di masa depan, sangat bergantung pada kesiapan infrastruktur, keandalan utilitas, dan kemudahan proses perizinan untuk menarik minat investor teknologi tinggi dan operator pusat data.

Berita Terkait

Ekonomi

BPS: Penduduk Indonesia Kini 284,67 Juta, 68,92 Persen Milenial, Gen Z, dan Post Gen Z

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, jumlah penduduk Indonesia berdasarkan...

Menkeu: Kita Sudah Keluar dari Jebakan Pertumbuhan Ekonomi 5 Persen

Menteri Keuangan (Mnekeu) Purbaya Yudhi Sadewa sumringah, karena perekonomian...

Supaya Ekonomi Tetap Tumbuh Tinggi, Pemerintah Akan Lakukan Ini

Badan Pusat Statistik (BPS) sudah melansir aneka pencapaian positif...

Full Nganggur 7,24 Juta, Setengah Nganggur 10,73 Juta, Proporsi Pekerja Informal Meningkat

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, Selasa (5/5/2026), pengangguran terbuka...

Berita Terkini