Pasar Hotel Hadapi Tekanan Jangka Pendek, Permintaan Domestik Jadi Penopang
Kinerja sektor perhotelan khususnya di Jakarta secara historis cenderung mencatatkan tingkat okupansi terlemah pada awal tahun ini yang diakibatkan pola musiman maupun berbagai situasi ekonomi hingga geopolitik.
Kondisi ini semakin diperberat oleh meningkatnya ketegangan geopolitik, yang meningkatkan potensi pembatalan berbagai acara internasional. Situasi tersebut diperkirakan akan mengurangi sumber pendapatan, khususnya bagi hotel bintang lima yang lebih bergantung pada permintaan global dan aktivitas MICE.
Menurut Ferry Salanto, Senior Associate Director Colliers Indonesia, pada saat yang sama segmen pemerintahan masih menghadapi tantangan untuk kembali ke kondisi normal khususnya situasi seperti sebelum pandemi sementara arus perjalanan dari Eropa dan Timur Tengah semakin terdampak oleh ketidakpastian geopolitik.
“Faktor-faktor ini memberikan tekanan tambahan terhadap kinerja pasar hotel secara keseluruhan. Sebagai dampaknya, periode hingga pertengahan 2026 diperkirakan akan menjadi masa yang semakin menantang bagi pelaku industri perhotelan,” ujarnya dikutip dari siaran pers Minggu (26/4).
Baca juga: Bisnis Hotel Kian Babak Belur, Okupansi Tinggal 34,88 Persen
Aktivitas MICE yang juga merupakan andalan sektor perhotelan, diperkirakan tetap terbatas sementara permintaan dari segmen korporasi masih sangat bergantung pada stabilitas makro ekonomi dan tingkat kepercayaan dunia usaha.
Menghadapi tantangan yang semakin kompleks, pelaku hotel diperkirakan akan mengalihkan fokus mereka ke kawasan Asia-Pasifik dan pasar domestik untuk mengimbangi penurunan kedatangan wisatawan internasional.
“Selain itu peningkatan kreativitas serta fleksibilitas operasional menjadi faktor penting untuk menangkap segmen permintaan yang lebih spesifik dan mengoptimalkan peluang pendapatan,” imbuh Ferry.