Minggu, April 26, 2026
HomeNewsEkonomiKontribusi Manufaktur Terhadap Pertumbuhan Ekonomi dan Penyerapan Tenaga Kerja Terus Menanjak

Kontribusi Manufaktur Terhadap Pertumbuhan Ekonomi dan Penyerapan Tenaga Kerja Terus Menanjak

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyatakan, kinerja industri pengolahan atau manufaktur Indonesia terus menunjukkan tren positif, solid, resilien, dan tetap menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi di tengah dinamika geopolitik global, perlambatan ekonomi dunia, dan ketidakpastian pasar internasional.

“Kinerja manufaktur Indonesia menunjukkan hasil yang kuat. Kontribusinya terus meningkat, penyerapan tenaga kerja bertambah, investasinya makin tumbuh, dan tetap menjadi penopang utama ekonomi nasional. Ini bukti struktur industri Indonesia makin kokoh,” kata Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri Antoni Arief melalui keterangan akhir pekan ini (24/4/2026).

Tahun lalu industri pengolahan nonmigas atau manufaktur tumbuh 5,30 persen, lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,11 persen. Capaian ini menjadi momentum penting, karena untuk pertama kalinya dalam 14 tahun terakhir, pertumbuhan manufaktur kembali melampaui pertumbuhan ekonomi.

Kontribusi manufaktur terhadap total PDB atau pertumbuhan ekonomi, juga terus meningkat sepanjang triwulan II 2022 hingga triwulan IV 2025. Pada triwulan II 2022, kontribusi manufaktur 17,92 persen terhadap total PDB nasional. Setelah itu, porsi manufaktur secara umum terus menguat, kendati mengalami fluktuasi musiman antartriwulan.

Tahun 2023 kontribusi manufaktur naik dari 18,26 persen pada triwulan II menjadi 19,08 persen pada Triwulan IV 2023. “Kenaikan ini menunjukkan, sektor manufaktur makin berperan sebagai penggerak utama aktivitas ekonomi nasional,” ujar Febri.

Tahun 2024, tren penguatan berlanjut dengan kontribusi 19,13 persen pada triwulan IV 2024, lebih tinggi dibanding posisi akhir tahun sebelumnya. Bahkan, pada triwulan I 2024, kontribusinya sempat menyentuh 19,28 persen, yang menjadi salah satu level tertinggi selama periode pengamatan.

Baca juga: Triwulan I Manufaktur Catat Realisasi Investasi Baru Rp418,62 Triliun

Pada 2025, kontribusi sektor manufaktur tetap terjaga pada level tinggi. Setelah 18,67 persen pada triwulan II 2025, meningkat menjadi 19,15 persen pada triwulan III 2025 dan menjadi 19,20 persen pada triwulan IV 2025.

“Secara keseluruhan sejak triwulan II 2022 (17,92 persen) hingga triwulan IV 2025 (19,20 persen), kontribusi PDB manufaktur meningkat 1,28 poin persentase. Ini menegaskan, dalam tiga tahun terakhir, sektor manufaktur makin memperkuat posisinya sebagai kontributor terbesar dan motor pertumbuhan ekonomi nasional,” jelas Febri.

Bukan hanya itu, kontribusi manufaktur dalam penyerapan tenaga kerja juga terus menanjak. Berdasarkan data Sakernas 2015–Agustus 2025, jumlah tenaga kerja di industri manufaktur naik dari 15,49 juta pada 2015 menjadi 18,90 juta pada 2019. Sempat terdampak pandemi pada 2021 sehingga turun menjadi 17,44 juta orang, setelah itu kembali pulih.

Pada Agustus 2025 penyerapan tenaga kerjanya mencapai 20,26 juta, meningkat dari 18,65 juta orang pada 2022 , sekaligus menjadi level tertinggi selama periode pengamatan. “Data itu menunjukkan, industri pengolahan nonmigas tetap berperan penting sebagai penyedia lapangan kerja dan memiliki ketahanan yang kuat dalam mendukung perekonomian nasional,” kata Febri.

Baca juga: Jelang Lebaran Ekspansi Manufaktur RI Catat Rekor Tertinggi Dalam 2 Tahun Terakhir

Peningkatan kontribusi terhadap PDB, serapan tenaga kerja, dan investasi tersebut, tidak terlepas dari kebijakan Menteri Perindustrian yang pro-industri, seperti reformasi kebijakan TKDN, penerapan kebijakan non-tariff barrier, pembangunan kawasan industri, serta perlindungan industri nasional dari gempuran produk impor.

Kemenperin optimistis, tren positif itu akan berlanjut seiring implementasi kebijakan hilirisasi industri, substitusi impor, penguatan TKDN, transformasi industri 4.0, serta perluasan pasar ekspor nontradisional.

“Kami mengajak seluruh pihak melihat sektor manufaktur secara objektif berbasis data. Industri Indonesia terus bergerak menuju fase penguatan struktur ekonomi nasional,” pungkas Febri.

Berita Terkait

Ekonomi

Triwulan I Manufaktur Catat Realisasi Investasi Baru Rp418,62 Triliun

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat, berdasarkan data Sistem Informasi Industri...

Menkeu: Pemerintah dalam “Mode Bertahan” Jaga Pertumbuhan Ekonomi

Para menteri ekonomi di kabinet Presiden Prabowo Subaitno berulangkali...

APBN dan Ekonomi Kuat, Menkeu Bidik Pertumbuhan 5,7 Persen pada Triwulan II

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa kembali menegaskan, kondisi ekonomi...

Realisasi Investasi Triwulan I 2026 Hampir Rp500 Triliun, Lampaui Target

Pemerintah terus memperkuat reformasi struktural, guna menciptakan iklim investasi...

Berita Terkini