Bank Dunia Naikkan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi RI Tahun Ini Jadi 5 Persen
Bank Dunia (World Bank) merevisi ke atas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 menjadi 5,0 persen, dari proyeksi pada April 2026 sebesar 4,7 persen.
Proyeksi 4,7 persen ini merupakan revisi Bank Dunia atas proyeksi pertumbuhan pada Oktober 2025 untuk ekonomi RI 2026 sebesar 4,8 persen.
Bank Dunia menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi RI 2026 menjadi 4,7 persen, menyusul pecahnya perang di Timur Tengah pada akhir Februari yang melonjakkan harga minyak dunia, mengganggu rantai pasok global, serta menaikkan harga barang dana jasa (inflasi).
Indonesia adalah net importir migas, dan karena itu langsung terpengaruh oleh lonjakan harga minyak dunia itu. Ekonomi Indonesia makin rentan, karena melemahnya nilai tukar rupiah dan terbatasnya ruang fiskal (anggaran pemerintah), karena penerimaan negara yang juga terbatas.
Melalui laporan “Indonesia Economic Prospects” edisi Juni 2026, Bank Dunia merevisi lagi proyeksi pertumbuhan ekonomi RI itu menjadi 5 persen, menyusul realisasi pertumbuhan ekonomi triwulan I 2026 sebesar 5,61 persen, lebih tinggi dari perkiraan.
“Perekonomian Indonesia mengalami akselerasi pesat sepanjang paruh kedua 2025, dan mendorong pertumbuhan PDB hingga 5,61 persen secara tahunan pada triwulan satu 2026, pertumbuhan triwulanan paling tinggi sejak triwulan dua 2021,” tulis Bank Dunia dalam laporan tersebut, dikutip Jumat (12/6/2026).
Baca juga: Tekanan Global, OECD: Ekonomi RI 2026 Hanya Akan Tumbuh 4,8 Persen, Inflasi 3,4 Persen
Kendati merevisi ke atas proyeksi pertumbuhan ekonomi RI 2026 menjadi lebih tinggi, Bnak Dunia juga memberikan sejumlah catatan.
Antara lain, ketergantungan pemerintah terhadap konsumsi sebagai penyangga pertumbuhan ekonomi, ruang fiskal yang kian terbatas, serta beban subsidi energi yang membengkak akibat kenaikan harga minyak dunia.
Selain itu, ketahanan ekonomi RI juga diuji oleh sentimen negatif di pasar modal dan keuangan, yang membuat nilai tukar rupiah kian terpuruk, dan juga indeks harga saham, serta inflasi. Bank Dunia memproyeksikan inflasi RI tahun ini akan mencapai 3,4 persen, dan defisit fiskal 2,8 persen PDB.
Tahun 2027 hingga 2028, Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia makin naik menjadi 5,2 persen. Namun realisasi proyeksi itu tergantung pada keberhasilan implementasi reformasi struktural, yang mampu mendorong produktivitas melalui investasi, peningkatan kualitas SDM, dan penciptaan lapangan kerja berkualitas.
Baca juga: LPEM FEB UI Ragukan Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen, Ini Alasannya
Menurut Bank Dunia, skema insentif dan stimulus dari sisi permintaan untuk mendongkrak konsumsi, hanya meningkatkan pertumbuhan ekonomi untuk sementara, dan sulit dipertahankan secara berkelanjutan.
Terlebih ruang fiskal pemerintah juga makin terbatas, akibat pembengkakan beban subsidi energi menyusul kenaikan harga minyak dunia, serta kenaikan beban pembayaran bunga utang akibat kenaikan imbal hasil (yield)-nya demi menahan kejatuhan nilai tukar rupiah lebih dalam.
Pemerintah Indonesia sendiri dengan optimis menargetkan pertumbuhan ekonomi 5,4 persen tahun ini, di atas proyeksi banyak lembaga global termasuk Bank Dunia, dengan inflasi di kisaran 2,5 persen +/- 1 persen, dan defisit fiskal 2,68 persen PDB.