Presiden: Pembangunan Rumah Rakyat Perlu Lebih Masif, India Bisa Jadi Contoh
Presiden Prabowo Subianto menghadiri Akad Massal 62.000 unit Kredit Pemilikan Rumah (KPRsubsidi FLPP dan Kredit Usaha Rakyat (KUR) Perumahan senilai Rp880 miliar, yang dipusatkan di kawasan Puri Delta City Side, Batang, Jawa Tengah, Kamis (30/7/2026).
Akad massal luring (langsung di lokasi) dan daring (online) itu merupakan yang ketiga dilakukan Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) bersama Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera).
Akad massal pertama dan kedua (luring dan daring), yang juga dihadiri Presiden, dilakukan pada September dan Desember 2025 di Cileungsi, Bogor (Jawa Barat), dan Serang, Banten.
Dalam sambutannya pada akad massal di Batang, Presiden Prabowo mengapresiasi berbagai capaian yang telah diraih Kementerian PKP melalui kerja sama dengan BP Tapera, pengembang, perbankan, dan pemangku kepentingan lainnya.
Namun, ia juga menegaskan, perlunya inovasi dan terobosan untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) itu, karena kebutuhannya masih sangat besar. Untuk itu perlu upaya yang lebih cepat dan masif untuk mengadakan perumahan bagi MBR.
“Apa yang sudah kita capai sudah cukup membanggakan. Tapi, kita sadar juga bahwa kebutuhannya masih sangat sangat banyak. Dan kita sedang merencanakan, kita sedang mempelajari, cara-cara yang lebih inovatif (dalam membangun perumahan rakyat),” kata Presiden dikutip dari keterangan resmi BPMI Sekretariat Negara.
Baca juga: Setelah 62.000 di Batang, Menteri PKP Juga Siapkan Akad Massal 71.000 KPR FLPP di Jawa Timur
Terkait hal itu, Presiden menekankan pentingnya keberanian untuk belajar dari pengalaman negara lain. Salah satu yang tengah dipelajari pemerintah, adalah keberhasilan India dalam membangun sekitar 40 juta rumah dalam kurun waktu 12 tahun.
“Saya tertarik pada pengalaman, sebagai contoh pengalaman bangsa India. Mereka mampu membuat rumah 40 juta unit dalam 12 tahun. Jadi, kira-kira 3 jutaan rumah setahun. Ini saya sedang pelajari bagaimana caranya,” ujar Prabowo.
Menurut Presiden, metode yang selama ini telah berjalan dengan baik tetap perlu diteruskan. Pada saat yang sama, pemerintah harus berani mencari teknik baru, mengambil risiko yang terukur, serta menghadirkan inovasi yang dapat mempercepat pembangunan perumahan rakyat.
“Tapi kita harus, menurut saya bangsa Indonesia, saya percaya dengan keberanian. Keberanian berpikir, keberanian belajar dari orang lain, keberanian mengambil risiko, keberanian berbuat, keberanian mencari inovasi dan terobosan. Mungkin kita bisa dapat hal-hal yang baik,” jelas Presiden.
Presiden juga menyatakan, percepatan penyediaan rumah membutuhkan kolaborasi seluruh unsur. Mulai dari pemerintah, Bank Indonesia, perbankan Himbara, pengembang, hingga swasta nasional. Kerja sama tersebut mencerminkan semangat Indonesia Incorporated, pihak yang besar membantu yang kecil agar dapat terus bekerja dan produktif.
“Kita harus jadi satu, satu tim, satu kesebelasan. Kuncinya adalah kerja sama,” ucap Presiden. Ia menyebut persoalan perumahan sebagai kebutuhan yang sangat vital dan krusial, karena rumah memberikan perlindungan serta rasa aman bagi masyarakat.
Baca juga: BP Tapera Kembali Gelar Akad Massal 62.000 KPR FLPP, plus Rp880 Miliar KUR Perumahan
Dengan jumlah penduduk yang besar, Indonesia membutuhkan tekad, semangat, dan keberanian yang juga besar untuk menjawab tantangan tersebut.
“Saya percaya kita akan lebih, lebih deras, lebih cepat, dan lebih masif. Bangsa kita adalah bangsa yang besar. Jumlah penduduk kita besar. Masalah-masalah yang kita hadapi adalah besar,” tutup Presiden.
Setelah dari Batang, Presiden kembali ke Jakarta menumpang kereta Nusantara Explorer, kereta mewah baru karya Balai Yasa Surabaya, yang sedang dalam tahap uji coba untuk diluncurkan sebagai kereta penunjang pariwisata.