CBRE: Mobilitas dan Konektifitas Kian Penting, TOD Jadi Katalis Pertumbuhan Properti Masa Depan
Laporan pasar properti Jakarta triwulan II (Q2) 2026 yang dipublikasikan CBRE Indonesia menyebut, pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, meningkatnya kepercayaan penyewa (occupier), mendorong permintaan yang makin tinggi terhadap aset properti berkualitas tinggi dengan konektivitas yang baik.
Menurut Anton Sitorus, Head of Research & Consulting CBRE Indonesia, beberapa hal fundamental membuat sektor properti kian menguat khususnya di sektor perkantoran, industri-logistik, dan ritel, dengan pengembangan proyek transit oriented development (TOD) akan menjadi katalis penting pertumbuhan properti di masa depan.
“Saat ini penyewa kian selektif memprioritaskan kualitas, aksesibilitas, efisiensi operasional, dan long term value. Di berbagai sektor penyewa dan tenant tetap aktif, dan kami melihat minat besar terhadap pengembangan yang menggabungkan properti berkualitas dengan konektivitas, khususnya di sekitar lokasi hub transportasi,” kata Anton di acara Media Briefing CBRE Indonesia mengenai pasar properti Jakarta Q2 2026 di Jakarta, Rabu (22/7/2026).
Di sektor perkantoran, Judy Sinurat dan Albert Dwiyanto selaku Co-Heads of Office Services CBRE Indonesia, melaporkan berlanjutnya momentum penyewaan di kawasan pusat bisnis utama (CBD) dan non-CBD. Di kawasan CBD Jakarta, penyerapan bersih mencapai sekitar 16.800 meter persegi pada Q2 2026, dengan okupansi meningkat menjadi 76,3 persen.
“Permintaan tetap didorong oleh tren flight-to-quality. Penyewa makin mencari gedung premium grade dan grade A yang menawarkan spesifikasi modern, fitur keberlanjutan (sustainability), dan fasilitas yang lebih baik,” ujar Judy.
Baca juga: Mal Tetap Ramai, Paling Ramai Mal High-End
Terbatasnya pasokan baru turut berkontribusi terhadap meningkatnya kondisi pasar serta prospek pertumbuhan tarif sewa. Tren pasar ini mencerminkan perubahan yang lebih luas dalam cara perusahaan mengevaluasi lokasi kantornya.
Alamat prestisius tetap memiliki peran penting, konektivitas dan aksesibilitas makin menjadi pertimbangan yang sama pentingnya dalam pengambilan keputusan terkait real estat korporat.
“CBD masa depan tidak lagi ditentukan semata-mata oleh alamat atau lokasinya, tapi juga seberapa baik kawasan tersebut menghubungkan masyarakat, dunia usaha, dan berbagai peluang. Dalam kondisi pasar saat ini, konektivitas bukan lagi sekadar nilai tambah, melainkan telah menjadi salah satu faktor utama yang mendorong daya saing bisnis properti dalam jangka panjang,” jelas Albert.
Sementara pasar perkantoran non-CBD Jakarta, mencatat penyerapan bersih sekitar 12.900 meter persegi sehingga tingkat okupansi meningkat menjadi 73,3 persen. Permintaan tetap terkonsentrasi pada gedung berkualitas tinggi dan lokasi dengan aksesibilitas yang berkembang.
Relokasi penyewa dan strategi optimalisasi ruang kerja, terus mendukung aktivitas pasar. Pasar industri dan logistik tetap menjadi salah satu sektor dengan kinerja paling baik.
Baca juga: Cushman: 2026 Bisnis Properti Makin Baik, Pembangunan MRT Salah Satu Pendorong
Menurut Ivana Susilo, Head of Capital Markets and Industrial Services CBRE Indonesia, penyerapan lahan industri mencapai sekitar 62 hektar selama triwulan dua, mendorong tingkat okupansi kawasan industri Jabodetabek menjadi 91,2 persen.
“Operator pusat data (data center) terus memainkan peran yang makin signifikan dalam permintaan lahan, khususnya di Cikarang, di mana persaingan mendapatkan lokasi dengan infrastruktur dan utilitas yang kuat berkontribusi pada peningkatan nilai lahan. Di sektor logistik, tingkat okupansi mencapai 97,4 persen, mencerminkan permintaan yang tetap kuat dari pelaku e-commerce, manufaktur, cold-chain, dan penyedia jasa logistik,” tutur Ivana.
Pasokan baru yang masih terbatas, membantu menjaga fundamental pasar tetap sehat, serta mendukung pertumbuhan tarif sewa di koridor-koridor logistik utama.
Baca juga: Opini: Aksesibilitas Berdampak Langsung pada Okupansi Perkantoran
Di sektor ritel, pasar pusat perbelanjaan Jakarta kembali mencatat kinerja positif pada kuartal ulasan. Tingkat okupansi mal meningkat menjadi 86,4 persen, didukung penyerapan bersih yang melampaui 20.000 meter persegi.
Mal kelas premium terus mencatat kinerja terbaik dengan tingkat okupansi di atas 95 persen. Sementara mal kelas menengah atas dan mal kelas atas, mencatat aktivitas penyewaan yang sehat.
Pelaku usaha ritel internasional, konsep kuliner premium, lifestyle brands, dan operator hiburan tetap menjadi kontributor utama permintaan ruang ritel di Jakarta.