Pengembang Australia asal Jakarta Ini Jelaskan Kenapa Townhouse di Roselands Sangat Layak Investasi
Sebagai kota terbesar di Australia, Sydney, adalah metropolitan yang kian matang, dan karena itu pasokan lahannya untuk rumah tapak (landed house) makin terbatas.
Saat ini kawasan untuk pengembangan landed housing bergeser ke suburban Sydney, terutama ke arah barat, barat daya, dan selatan.
Berdasarkan cetak biru tata kota terbaru (The Sydney Plan), pemerintah New South Wales (NSW) memfokuskan pembangunan rumah vertikal (apartemen/kondominium) di wilayah timur dan pusat kota, sementara wilayah barat dan sekitarnya dialokasikan untuk pusat kerja baru serta kawasan rumah tapak dan townhouse.
Menurut Chandra Leonardi, Director & CEO Capital Value International Group (CVIG), salah satu perusahaan pengembang properti di Australia, bagi konsumen yang baru mengenal pasar Australia, ada satu prinsip penting yang perlu dipahami: lahan di kawasan suburban yang sudah matang tidak dapat diciptakan lagi.
Chandra adalah pengusaha kelahiran Jakarta, Indonesia, yang mendirikan CVIG pada 2013, setelah malang melintang menjadi agensi properti. CVIG fokus mengembangkan hunian tapak premium di Sydney, dengan membukukan total nilai pengembangan lebih dari Rp400 miliar saat ini.
Hampir seluruh kawasannya telah terbangun, sehingga hunian baru hanya bisa hadir dari sedikit lahan tersisa yang jarang sekali muncul di pasar. Kelangkaan inilah yang menjadikan setiap proyek hunian baru di kawasan seperti itu, sebagai rare investment opportunity—peluang yang belum tentu terulang di lokasi yang sama.
“Kelangkaan properti Sydney bukan hanya persoalan tingginya permintaan, tapi juga keterbatasan geografis yang membuat kota ini sulit terus berkembang ke luar,” kata Chandra melalui keterangan, Senin (7/9/2026).
Di timur, Samudra Pasifik menjadi batas absolut. Di utara, kawasan terjal Ku-ring-gai Chase National Park dan Hawkesbury River membatasi ekspansi. Di selatan, Royal National Park dan kawasan lindung Woronora membatasi pertumbuhan menuju Illawarra. Sementara di barat, Blue Mountains National Park menjadi batas alam yang sulit ditembus.
Akibatnya, dalam radius sekitar 30 menit dari Sydney Harbour, sebagian besar lahan telah lama terurbanisasi. Lahan kosong berskala besar makin langka, sementara kepemilikan yang terfragmentasi membuat pengembangan baru membutuhkan konsolidasi lahan yang kompleks.
Baca juga: CVIG Tawarkan Hunian Premium di Sydney untuk Investor Indonesia
Sydney pun semakin mengandalkan infill development, urban renewal dan densifikasi vertikal di kawasan seperti Parramatta, Macquarie Park dan sepanjang koridor metro, dibandingkan membuka kawasan suburban baru.
Mendorong pembangunan lebih jauh ke luar kota juga bukan tanpa konsekuensi. Kawasan seperti Penrith, Wilton dan Marsden Park dapat berjarak 50–70 kilometer dari CBD Sydney, meningkatkan waktu perjalanan serta kebutuhan investasi infrastruktur.
“Inilah paradoks Sydney. Membutuhkan lebih banyak rumah, tapi memiliki makin sedikit lahan untuk membangun rumah baru di lokasi yang dekat dengan pusat ekonomi dan fasilitas kota,” ujar Chandra.
Bagi foreign buyers termasuk dari Indonesia, jendelanya bahkan lebih sempit karena hanya bisa mengakses properti baru dan proyek off-the-plan. Ketika lahan baru makin langka, sementara akses foreign buyers terhadap hunian existing juga terbatas, kelangkaan menjadi makin nyata.
“Karena itu, pertanyaan investasinya bukan sekadar di mana Sydney akan berkembang, melainkan seberapa banyak lahan yang masih dapat dikembangkan di lokasi yang paling diinginkan, dan berapa banyak yang dapat diakses foreign buyers?,” jelas Chandra.

Bagi konsumen Indonesia yang mencari hunian tapak di Sydney, kawasan populer seperti Sydney CBD, Eastern Suburbs, atau Northern Beaches, mungkin lebih dulu masuk dalam radar.
Namun, tingginya harga properti di berbagai kawasan tersebut, membuat banyak orang mulai melirik daerah suburban yang menawarkan aksesibilitas, lingkungan, dan potensi pertumbuhan investasi jangka panjang.
Roselands long term capital growth
Roselands yang berada di barat saya Sydney, merupakan salah satu kawasan yang belum banyak dibidik, namun memiliki fundamental yang menarik bagi pembeli properti Indonesia yang ingin memiliki rumah tapak di Sydney.
Berjarak sekitar 20–30 menit berkendara dari Sydney Central Business District (CBD), Roselands didominasi lingkungan residensial dengan komunitas keluarga yang kuat. Karakter tersebut menjadikannya alternatif bagi pembeli yang menginginkan lingkungan hunian yang lebih tenang tanpa harus terlalu jauh dari pusat kota.
Baca juga: CEO CVIG: Krisis Pasokan Hunian di Australia, Peluang Investasi bagi Investor Indonesia
Chandra menuturkan, di tengah makin terbatasnya lahan hunian di Sydney, Roselands menawarkan kombinasi yang makin langka: landed property di kawasan metropolitan, komunitas keluarga yang kuat, konektivitas yang baik, dan pasokan properti yang relatif terbatas. “Kombinasi ini memberikan dasar fundamental bagi potensi long-term capital growth,” katanya.
Roselands merupakan kawasan suburban yang didominasi hunian, dengan pusat aktivitas komersial di sekitar Roselands Shopping Centre, yang telah beroperasi sejak 1965.
Dari sisi konektivitas, kawasan terhubung melalui jaringan bus serta akses ke kereta, M5 dan M8. Akses terhadap transportasi dan fasilitas sehari-hari, menjadi faktor penting dalam menjaga daya tarik sebuah kawasan bagi end-user—dan pada akhirnya mendukung keberlanjutan permintaan terhadap properti.
Fundamental tersebut diperkuat oleh karakter demografinya. Lebih dari 53 persen rumah di Roselands dihuni pasangan dengan anak, sementara sekitar 70 persen penduduk merupakan pemilik rumah dan hanya 30 persen penyewa.
Data ini menunjukkan, permintaan di Roselands bukan semata berasal dari investor, tapi dari keluarga yang menjadikan kawasan tersebut sebagai tempat tinggal jangka panjang.
Bagi investor, komposisi tersebut penting karena pasar yang didominasi owner-occupiers cenderung menciptakan basis permintaan yang lebih stabil. Ketika sebuah kawasan memiliki proporsi pemilik rumah yang tinggi dan kebutuhan keluarga yang konsisten, permintaan terhadap rumah tidak semata bergantung pada siklus investasi atau aktivitas spekulatif.
Faktor lainnya adalah keterbatasan pasokan. Roselands merupakan pasar yang relatif tightly held, di mana pemilik cenderung mempertahankan properti mereka dalam jangka panjang. Artinya, jumlah rumah yang secara aktif beredar di pasar relatif terbatas.

Bagi investor, kombinasi permintaan keluarga yang berkelanjutan + tingkat kepemilikan rumah yang tinggi + pasokan yang terbatas, menciptakan dinamika supply-demand yang menarik.
Secara sederhana, ketika makin banyak orang membutuhkan rumah di sebuah kawasan tapi makin sedikit pemilik yang bersedia menjual, kompetisi terhadap aset yang tersedia dapat meningkat.
Inilah yang membuat Roselands menarik bukan hanya sebagai tempat tinggal, tapi sebagai aset residential yang memiliki fundamental untuk dipertahankan dalam jangka panjang.
“Bagi pembeli Indonesia, Roselands menawarkan sesuatu yang semakin sulit ditemukan di Sydney, yakni kesempatan memiliki properti landed di kawasan metropolitan dengan akses yang relatif dekat ke CBD, namun tetap memiliki karakter lingkungan keluarga yang sangat residential,” terang Chandra.
Dengan demikian, daya tarik Roselands tidak semata-mata terletak pada lokasi. Nilai investasinya dibangun oleh hubungan antara aksesibilitas, kebutuhan keluarga, tingginya owner-occupation dan terbatasnya pasokan.
Baca juga: One Global Ajak WNI Berinvestasi dalam Properti Bernilai Tinggi di Australia
Dalam pasar properti, ketika faktor-faktor tersebut bertemu, kelangkaan bukan lagi sekadar karakteristik kawasan—ia dapat menjadi salah satu fondasi penting bagi potensi pertumbuhan nilai aset dalam jangka panjang.
“Pasar properti Sydney sering kali dipersepsikan hanya melalui kawasan-kawasan yang sudah sangat populer. Padahal, bagi investor dengan perspektif jangka panjang, kawasan seperti Roselands justru menarik untuk diperhatikan, karena memiliki basis hunian yang kuat, pasokan yang relatif terbatas, serta permintaan yang didorong oleh kebutuhan keluarga,” tutur Chandra.
Ia menambahkan, bagi investor Indonesia, memahami pasar properti Australia bukan hanya tentang di mana harga yang paling tinggi, tapi juga di mana terdapat fundamental yang dapat mendukung pertumbuhan nilainya dalam jangka panjang.
“Roselands memberikan perspektif berbeda. Area suburban ini menawarkan kombinasi antara lingkungan keluarga, infrastruktur jalan yang baik, akses menuju kawasan metropolitan Sydney, serta pasar properti yang relatif terbatas,” tutup Chandra.