Di tengah ketidakpastian ekonomi global, pasar properti residensial Australia justru makin menarik. Bukan karena tren pasar, tapi karena persoalan yang lebih mendasar: kekurangan pasokan dalam skala besar (undersupply).

Hal itu diungkapkan Chief Executive Officer (CEO) Capital Value International Group (CVIG) Chandra Leonardi dalam pertemuan dengan media di Jakarta, Senin (10/8/2026).

“Kekurangan pasokan hunian di Australia itu, menciptakan peluang investasi jangka panjang yang makin menarik bagi investor Indonesia yang ingin melakukan diversifikasi aset ke pasar internasional,” katanya.

CVIG adalah pengembang properti berbasis di Australia yang didirikan Chandra pada 2013, dengan fokus mengembangkan hunian tapak premium di Sydney, Australia. Saat ini CVIG, ungkap pengusaha properti kelahiran Jakarta itu, membukukan total nilai pengembangan hampir Rp500 miliar.

Merespon situasi pasar properti residensial Australia itu, CVIG menawarkan proyek hunian terbaru di Roselands, salah satu kawasan yang berkembang pesat di Sydney dan hanya sekitar 20–30 menit berkendara dari pusat bisnis atau CBD.

Roselands adalah kompleks hunian eksklusif atau townhouse premium, dengan harga jual rumah sekitar Rp30 miliar per unit. Proyek dikembangkan di atas lahan 2.000 m2 dengan nilai pengembangan sekitar Rp225 miliar.

Menurut Chandra, pemerintah Australia melalui National Housing Accord menargetkan pembangunan 1,2 juta rumah baru hingga 2029. Namun, berbagai tantangan seperti tingginya biaya konstruksi, keterbatasan tenaga kerja, serta lamanya proses perizinan, membuat realisasi pembangunan belum mencapai target.

Baca juga: CVIG Tawarkan Hunian Premium di Sydney untuk Investor Indonesia

Di sisi lain, populasi Australia terus meningkat, didorong program migrasi tenaga kerja terampil, mahasiswa internasional, serta migrasi permanen. Sydney dan Melbourne menerima arus migrasi terbesar, sehingga permintaan hunian dan properti sewa di 2 kota itu akan tetap tinggi dalam jangka panjang.

Gambar artis proyek residensial terbaru CVIG di Roselands, Sydney, Australia (dok. CVIG)

Mengutip data Australian Bureau of Statistics (ABS), Chandra mengungkapkan, nilai pasar properti residensial Australia saat ini mencapai sekitar AUD12,8 triliun.

CoreLogic Australia mencatat, nilai hunian di Sydney masih menjadi yang tertinggi di Australia, dengan median harga rumah melampaui AUD1,2 juta per unit.

Baca juga: One Global Ajak WNI Berinvestasi dalam Properti Bernilai Tinggi di Australia

Sementara tingkat kekosongan (vacancy rate) hunian di Sydney masih berada di kisaran 1.3 persen, yang menurut SQM Research, mencerminkan pasokan masih sangat terbatas. Dengan kata lain hampir 99 persen hunian yang ada ditempati atau tersewa.

“Fundamental pasar Australia saat ini sangat kuat. Populasi terus bertambah, sementara pembangunan hunian belum mampu mengimbangi pertumbuhan permintaan. Bagi investor jangka panjang, kondisi ini merupakan peluang yang sangat menarik,” tutur Chandra.

“Nilai tukar bisa berubah, bunga bisa naik atau turun, namun kebutuhan akan tempat tinggal akan terus ada. Ketika permintaan terus meningkat, sementara pasokan terbatas, properti yang berkualitas akan menjadi instrumen pembangun kekayaan dalam jangka panjang,” jelasnya.

Baca juga: One Global Capital Melawan Arus Pasar Properti Australia

Apalagi, pada saat yang sama, peta investasi asing di Australia mulai berubah. Data terbaru Foreign Investment Review Board (FIRB) menunjukkan, investor Indonesia mencatat nilai persetujuan investasi properti residensial sekitar AUD100 juta. Menjadikannya sebagai salah satu kelompok investor terbesar dari Asia setelah China, Hong Kong, dan Taiwan.

Sementara dominasi investor asal China di pasar properti Australia, mulai menunjukkan tren menurun dalam beberapa tahun terakhir. Data Australian Taxation Office (ATO) dan Foreign Investment Review Board (FIRB) mencatat, nilai investasi properti dari China yang sempat mencapai sekitar A$31,9 miliar per tahun, kini mengalami penurunan signifikan.

Kondisi tersebut dipengaruhi oleh kombinasi sejumlah faktor. Mulai dari perlambatan ekonomi dan krisis sektor properti di China yang menggerus daya beli investor, dan kebijakan capital control yang membatasi aliran dana ke luar negeri.

Baca juga: Proyek Iwan Sunito di Five Dock Dapat Status Prioritas dari Pemerintah NSW Australia

Di tengah pergeseran tersebut, minat investor dari sejumlah negara Asia, termasuk Indonesia, India, Jepang, dan Vietnam, terhadap properti Australia menunjukkan tren peningkatan, sebagai instrumen diversifikasi aset, diversifikasi nilai tukar dan investasi jangka panjang.

“Pergeseran peta investasi tersebut, membuka peluang makin besar bagi investor Indonesia untuk mengisi ruang yang sebelumnya didominasi pembeli asal China, khususnya pada segmen hunian premium di Sydney yang didukung oleh fundamental ekonomi dan kekurangan pasokan perumahan,” tutup Chandra.