Di Bisnis Properti Kawasan Industri Jadi Pendorong Investasi dan Pertumbuhan Ekonomi
Industri pengolahan atau manufaktur, adalah salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan investasi, penciptaan lapangan kerja, peningkatan nilai tambah, serta penguatan daya saing. Berkaitan dengan itu, peran kawasan industri menjadi sangat penting sebagai penyedia lahan industri.
Hal itu dinyatakan Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dalam sambutannya pada Malam Syukuran 38 Tahun Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI) di Jakarta akhir pekan ini (31/7/2026).
“HKI sejak 1988 telah tumbuh menjadi mitra strategis pembangunan nasional. Mulai dari Bekasi sampai kawasan timur Indonesia, kita telah membangun North Java Corridor. Seluruhnya diisi kawasan industri,” kata Airlangga dikutip dari keterangan Kemenko Perekonomian, Sabtu (1/8/2026).
Saat ini total terdapat 129 kawasan industri di 24 provinsi dengan total luas lahan sekitar 170 ribu hektare. Ratusan kawasan industri itu menjadi rumah sekitar 10.400 perusahaan manufaktur, yang menyerap sekitar 4,5 juta tenaga kerja.
Pemerintah sendiri terus mendorong kawasan industri melalui pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), sebagai bagian dari upaya memperluas pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di berbagai wilayah Indonesia.
“Kawasan industri menjadi penggerak bangsa, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan,” ujar Menko Airlangga.
Baca juga: Kawasan Industri Terus Melaju, Saat Properti Lain Masih Lesu
Ia menjelaskan, di tengah persaingan investasi global, Indonesia memiliki peluang besar untuk terus memperkuat posisi sebagai salah satu tujuan utama investasi.
Sejumlah negara pesaing mulai menghadapi berbagai tantangan. Mulai dari biaya tenaga kerja yang makin tinggi, ketersediaan lahan yang kian terbatas, hingga kebutuhan energi.
Kondisi tersebut menjadi peluang bagi Indonesia untuk terus meningkatkan daya saing dan menarik investasi berkualitas ke berbagai kawasan industrinya.
Airlangga mengutip hasil survei badan promosi perdagangan Jepang atau Japan External Trade Organization (JETRO) yang menyatakan, sekitar 70 persen perusahaan yang berinvestasi di Indonesia mencatatkan keuntungan dan menjadi yang tertinggi dibandingkan sejumlah negara lain.
Agar mampu bersaing, Menko Perekonomian mendorong kawasan industri makin adaptif terhadap transformasi digital.
Perkembangan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) misalnya, telah mendorong peningkatan kebutuhan terhadap data berkualitas dan infrastruktur digital, khususnya data center.
Baca juga: Opini: Kawasan Industri
Pemerintah telah mengantisipasi perkembangan tersebut, antara lain melalui inisiasi ASEAN Digital Economy Framework Agreement (DEFA) yang mencakup pengembangan ekosistem digital dan AI, yang diharapkan makin memperkuat integrasi ekonomi digital di kawasan ASEAN.
Peningkatan kebutuhan data center itu, membuka peluang investasi baru bagi Indonesia, melalui dukungan ketersediaan lahan, energi, dan potensi pengembangan energi terbarukan.
Pengembangan data center membutuhkan dukungan listrik, energi terbarukan, air, lahan, serta konektivitas yang memadai.
Peluang Indonesia pada sektor tersebut ke depan sangat besar sehingga perlu dimanfaatkan secara optimal, termasuk melalui percepatan penguatan konektivitas kelistrikan dan penyediaan energi hijau.
Menko Airlangga menegaskan, pemerintah akan terus mendorong pengembangan kawasan industri agar kegiatan industri makin tertata, memiliki ekosistem yang kuat, serta mampu meningkatkan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi.
Baca juga: Menko Airlangga: Sekarang Era Kawasan Industri Green and Smart
Ketua Umum HKI Akhmad Ma’ruf Maulana menyampaikan, pelaku kawasan industri terus berkomitmen membawa dan merealisasikan investasi di berbagai wilayah Indonesia.
Untuk itu, dukungan pemerintah sangat diperlukan dalam menyelesaikan berbagai hambatan di lapangan sehingga investasi yang telah masuk dapat segera terealisasi.
Rakernas XXV HKI menghimpun berbagai masukan mengenai aneka kendala dan hambatan yang dihadapi pelaku kawasan industri dalam menarik investasi dan realisasinya, dengan mendorong lebih jauh debottlenecking kebijakan.