Senin, September 14, 2026
HomeNewsEkonomiKonsumen Tingkatkan Belanja, Kurangi Tabungan. Akankah Berlanjut?

Konsumen Tingkatkan Belanja, Kurangi Tabungan. Akankah Berlanjut?

Survei Konsumen Bank Indonesia yang dilansir pekan lalu mengungkapkan, pada Agustus 2026 rata-rata proporsi pendapatan konsumen yang digunakan untuk konsumsi (average propensity to consume ratio), mencapai 74,2 persen, meningkat cukup signifikan dibandingkan proporsi pada bulan sebelumnya sebesar 72,7 persen.

Survei tidak menyebut penyebab belanja konsumen itu meningkat pada Agustus 2025. Yang jelas konsumsi masyarakat adalah penopang utama pertumbuhan ekonomi (PDB) Indonesia, dengan shara sekitar 53 persen.

Sementara itu, proporsi pembayaran cicilan/utang (debt installment to income ratio) relatif stabil di level 10,0 persen pada Agustus 2026, dibandingkan proporsi pada bulan sebelumnya sebesar 10,5 persen.

Sedangkan, proporsi pendapatan konsumen yang disimpan (saving to income ratio) mencapai 15,8 persen, lebih rendah dibandingkan proporsi pada bulan sebelumnya sebesar 16,8 persen.

Proporsi konsumsi terhadap pendapatan terindikasi meningkat pada seluruh kelompok pengeluaran, kecuali pada kaum menengah (pengeluaran Rp3,1-4 juta), yang sedikit menurun menjadi 72,6 persen dibanding 73 persen pada Juli 2026.

Baca juga: Kondisi Keuangan Konsumen Terkini: Cicilan Utang Naik, Tabungan Berkurang, Belanja Dibatasi

Sementara porsi pendapatan yang ditabung, mengalami penurunan pada sebagian besar kelompok pengeluaran, kecuali kaum menengah atas (pengeluaran Rp4,1-5 juta) yang meningkat porsi tabungannya dari 15,9 persen menjadi 16,2 persen pada Agustus 2026.

Penurunan porsi tabungan terbesar terjadi pada kaum menengah bawah (pengeluaran Rp2,1-3 juta), dari 16,3 persen (Juli 2026) menjadi 14,7 persen (Agustus 2026). Sementara tiga kelompok lain, porsi tabungannya hanya turun kurang dari 1 persen pada Agustus 2026.

Baca juga: Paylater, Pinjol, Gadai Terus Tumbuh Tinggi, Saat Kredit Konsumsi Terus Melemah

Para ekonom berharap peningkatan konsumsi masyarakat itu berlanjut, guna menopang pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Untuk itu pemerintah didesak menelurkan kebijakan yang pro pembukaan lapangan kerja formal sebanyak-banyaknya.

Secara umum, hanya lapangan kerja formal yang memungkinkan masyarakat mendapatkan penghasilan yang lebih baik, yang selanjutnya diharapkan meningkatkan konsumsi dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Sejauh ini pengangguran terbuka memang menurun, namun yang menyerapnya kebanyakan sektor informal. Sementara sektor formal hanya mampu mmembuka sedikit lapangan kerja.

Berita Terkait

Ekonomi

Berita Terkini