Museum Rumah Pengasingan Hatta-Sjahrir di Sukabumi Diresmikan
Menteri Kebudayaan Fadli Zon meresmikan Museum Rumah Pengasingan Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir di kawasan Sekolah Pembentukan Perwira Lemdiklat Polri, Kota Sukabumi, Jawa Barat, Sabtu (12/9/2026).
Peresmian museum dihadiri Meutia Farida Hatta (putri sulung Bung Hatta), Siti Rabyah Parvati Sjahrir atau Upik Sjahrir (putri bungsu Sutan Sjahrir), Walikota Sukabumi Ayep Zaki, Wakil Wali Kota Bobby kurator museum Erwin Kusuma, Kepala Setukpa Lemdiklat Polri Brigjen Pol Dirin, para seniman dan budayawan,
Dirjen Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Restu Gunawan, Staf Khusus Menteri Bidang Diplomasi Budaya dan Hubungan Internasional Annisa Rengganis, Sekretaris Ditjen Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Lita Rahmiati, Penasihat Menteri Bidang Penguatan dan Pengembangan Sastra Indonesia Taufik Ismail, Direktur Sejarah dan Permuseuman Endah Budi Heryani, Direktur Warisan Budaya Agus Widiatmoko, dan Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Barat Retno Raswaty.
Museum hasil kolaborasi Kementerian Kebudayaan, Kepolisian Negara Republik Indonesia melalui Lemdiklat (Lembaga Pendidikan dan Pelatihan) dan Setukpa (Sekolah Pembentukan Perwira) Polri, serta Pemerintah Kota Sukabumi, itu direvitalisasi guna menghidupkan kembali ruang sejarah sebagai sarana pembelajaran sekaligus memperkuat perlindungan dan pemanfaatan warisan budaya.
Museum Rumah Pengasingan Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir, menyimpan jejak perjuangan dua tokoh penting dalam perjalanan menuju kemerdekaan Indonesia.
Pada Februari 1942, Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir dipindahkan dari pengasingan di Banda Neira, ke kompleks Sekolah Polisi Sukabumi sebagai tahanan politik.
Meskipun berada dalam pengawasan kolonial yang ketat, dari rumah tersebut usaha, pemikiran, dan rintisan perjuangan kemerdekaan Indonesia bisa terus dinyalakan.
Baca juga: Museum Kekinian untuk Segala Zaman
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyatakan, peresmian museum bukan sekadar penanda dibukanya sebuah bangunan bersejarah, tapi menjadi momentum menghidupkan kembali ruang ingatan bangsa yang menyimpan jejak perjuangan, keteguhan hati, pemikiran, dan pengorbanan Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir.
“Museum ini harus kita maknai sebagai lebih dari sekadar tempat penyimpanan benda bersejarah. Museum harus menjadi ruang pembelajaran yang hidup, tempat masyarakat, terutama generasi muda, dapat berdialog dengan sejarah,” kata Fadli Zon seperti dikutip keterangan Kementerian Kebudayaan, Minggu (13/9/2026).
Menteri Fadli menjelaskan, keberadaan museum penting untuk memperkenalkan para pendiri bangsa secara lebih dekat kepada generasi muda. Sejarah tidak hanya perlu dipahami melalui nama dan peristiwa yang tercantum dalam buku pelajaran, tapi juga melalui pengalaman manusia yang menghadapi tekanan, kesepian, ketidakpastian, dan pilihan-pilihan sulit dalam memperjuangkan cita-cita kemerdekaan.
“Semoga makin banyak masyarakat yang mengunjungi museum ini untuk belajar dan meneladani perjuangan para pahlawan kita,” ujarnya.
Kementerian Kebudayaan disebut Fadli terus mendorong transformasi museum, agar tidak berhenti sebagai tempat penyimpanan dan perlindungan koleksi sejarah. Museum diarahkan menjadi ruang edukasi, literasi, penelitian, pengarsipan, serta ruang kreatif yang relevan dan interaktif bagi masyarakat.
Baca juga: Membangun Kota Humanis Melalui Museum
Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan regulasi dan kebijakan pengembangan museum, peningkatan infrastruktur, digitalisasi koleksi untuk memperluas akses masyarakat, serta penguatan kemitraan dan kolaborasi.
Tahun ini Kementerian Kebudayaan melalui program revitalisasi museum, keraton, dan taman budaya, telah menyelesaikan revitalisasi arsitektur fisik serta penataan interior dan kuratorial Museum Rumah Pengasingan Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir.
Penataan tersebut memperkuat penyajian sejarah kedua tokoh, melalui konten yang lebih informatif dan kontekstual.
Pada bangunan utama sisi kanan, museum menyajikan linimasa perjuangan Mohammad Hatta, ruang kerja yang memuat karya tulis dan kliping koran era Jepang hingga kemerdekaan, serta peta perjalanan pengasingan Bung Hatta.
Sementara pada sisi kiri, pengunjung dapat melihat linimasa Sutan Sjahrir, gramophone lagu kesukaan Sjahrir, display radio pemberitaan luar negeri, serta kearsipan surat kabar Daulat Ra’yat.
Baca juga: New York Punya Museum Spionase
Wali Kota Sukabumi Ayep Zaki menyambut baik peresmian Museum Rumah Pengasingan Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir. Pemerintah Kota Sukabumi siap memperkuat kolaborasi dengan Kementerian Kebudayaan, agar museum terus terawat dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Kehadiran museum ini bukan hanya menjadi bagian penting dari sejarah Kota Sukabumi, tapi juga ruang edukasi yang dapat memperkenalkan keteladanan para pendiri bangsa kepada generasi muda,” jelasnya.
Kepala Setukpa Lemdiklat Polri Brigjen Pol Dirin menyampaikan apresiasi atas revitalisasi dan peresmian museum tersebut.
“Rumah pengasingan ini memiliki nilai penting sebagai bagian dari sejarah perjuangan dan kemerdekaan Indonesia sehingga perlu dijaga, serta dimanfaatkan sebagai ruang pembelajaran bagi masyarakat. Setukpa Polri berkomitmen menjaga dan merawat rumah bersejarah ini, agar tetap menjadi bagian penting dari sejarah bangsa,” tutupnya.
