Senin, September 14, 2026
HomeBerita PropertiNew York Punya Museum Spionase

New York Punya Museum Spionase

Bagi Anda yang meminati seluk beluk dunia spionase atau intelijen, pasti kenal dengan International Spy Museum (ISM). Museum yang berlokasi di kawasan Pennsylavania Quarter, Washington DC, Amerika Serikat (AS), yang berdiri sejak 2002 ini dikenal dengan aneka koleksi artefak, film dan data yang terkait dengan dunia intelijen dari seluruh dunia dalam segala periode.

Foto: Adjaye Associates
Foto: Adjaye Associates

Kelengkapannya menandingi National Cryptologic Museum milik NSA (Dewan Keamanan Nasional) AS, museum milik KGB, agen rahasia Rusia di Moskow atau Imperial War Museum di London, Inggris. Nah, Desember mendatang ISM akan membuka museum kedua di dekat Times Square, Manhattan, New York, AS.

Sedikit lebih kecil daripada ISM perdana, ISM New York memiliki luas 5.500 m2. Yang menarik, ISM kedua ini mengedepankan unsur arsitektur terutama dalam pengolahan ruang interiornya yang didesain menyerupai sebuah kota kecil. Sejumlah paviliun dengan tujuh tema mengisi ”kota kecil” itu yang terbentang di bawah ruang beratap kanopi berbentuk kubah besar.

Pengunjung akan diajak menyusuri setiap sudut museum dan berinteraksi dengan perangkat multimedia, seakan merasakan pengalaman langsung terlibat dalam dunia intelijen. Adalah Adjaye Associates, biro arsitek yang didirikan Sir David Adjaye OBE, warga negara Inggris keturunan Tanzania dan Ghana, yang mendesain dan menamainya Spyscape.

Foto: Adjaye Associates
Foto: Adjaye Associates

Terinspirasi dengan dunia spionase yang tidak terang benderang dan mengulik rasa ingin tahu yang besar, begitulah nuansa yang diangkat dari Spyscape. Untuk itu Adjaye menggunakan sejumlah material seperti smoked glass, fiber cement, dark grey acoustic paneling, both mirror-polished dan weathered steel di hampir seluruh interior museum. Sistem pencahayaannya juga mendukung rasa penasaran pengunjung untuk menyelami sebuah kasus lebih lanjut.

“Sangat menyenangkan menciptakan Spyscape,” kata Lucy Tilley, Associate Director for Adjaye Associates. Museum ini, jelasnya, didesain dengan visi masa depan dan itu sebuah tantangan, karena didesain berbeda dengan tipologi tradisional sebuah museum.

Selain memasukkan banyak unsur digital, museum dilengkapi dengan kafe, ruang serba guna, area pameran temporer dan toko buku khusus intelijen yang akan menyediakan lebih dari seribu spy books. Serupa dengan ISM Washington, untuk bisa masuk ke Spyscape, pengunjung dikenai tarif USD39 (sekitar Rp527.500) untuk dewasa dan USD32 (sekitar Rp433.000) untuk anak-anak.

Sumber: Arch Daily &Adjaye Associates

Berita Terkait

Ekonomi

Lulusan Pascasarjana Pesimis dengan Lapangan Kerja, Sarjana Kurang Yakin

Survei Konsumen Bank Indonesia yang dilansir pekan ini mengungkapkan,...

OJK: Situasi Global Masih Mencemaskan, Diperburuk oleh El Nino

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai, risiko geopolitik di kawasan...

Kementerian Perindustrian: Neraca Dagang AC Surplus, Mesin Cuci Masih Defisit

Di tengah situasi perekonomian maupun dinamika global, industri manufaktur...

Berita Terkini