Jumat, September 11, 2026
HomeNewsEkonomiOJK: Situasi Global Masih Mencemaskan, Diperburuk oleh El Nino

OJK: Situasi Global Masih Mencemaskan, Diperburuk oleh El Nino

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai, risiko geopolitik di kawasan Timur Tengah tetap tinggi seiring berlarutnya konflik AS-Iran, dan masih tertutupnya Selat Hormuz.

Mengutip hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) OJK Agustus 2026 yang dirilis awal pekan ini, gangguan jalur distribusi energi tersebut menyebabkan volatilitas harga minyak dan komoditas, sehingga tekanan inflasi global tetap tinggi.

Tekanan inflasi yang timggi itu, diperberat oleh El Nino yang berkepanjangan dan berdampak pada kekeringan serta kebakaran hutan di berbagai kawasan. “Kondisi tersebut meningkatkan risiko gagal panen dan kenaikan harga pangan global,” tulis laporan hasil RDKB OJK.

Kondisi di atas, membuat momentum pertumbuhan ekonomi global cenderung termoderasi. Tercermin dari mayoritas negara yang mencatatkan perlambatan pertumbuhan pada triwulan II 2026.

Di Amerika Serikat (AS), ekonomi terbesar dunia, pertumbuhan ekonomi turun dan berada di bawah ekspektasi, disertai pasar tenaga kerja yang termoderasi, dan inflasi yang tetap tinggi meski dalam tren menurun.

Di Tiongkok, ekonomi terbesar kedua dunia, pertumbuhan ekonomi (PDB) triwulan II-2026 melambat menjadi 4,3 persen (yoy), dengan data terkini mengindikasikan pelemahan yang masih berlanjut, baik pada sektor produksi maupun permintaan domestik.

Baca juga: Menkeu: Penerimaan Negara Kuat, Juli Defisit Fiskal Baru 0,9 Persen

Di pasar keuangan global, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah negara maju melanjutkan kenaikan, didorong meningkatnya kebutuhan pendanaan belanja modal hyperscalers di tengah kebijakan moneter yang tetap restriktif.

Kenaikan yield surat utang itu akan meningkatkan beban fiskal pemerintah yang sudah dipenuhi utang. Aliran keluar dana nonresiden (asing) di pasar keuangan global juga masih terjadi, terutama pada sebagian negara berkembang (emerging markets).

Aliran keluar modal asing portofolio itu makin melemahkan nilai tukar mata uang negara-negara tersebut.

Meski situasi global masih jauh dari menggembirakan, sejauh ini kondisi Indonesia masih cukup baik.

Baca juga: OJK: Kinerja Perbankan Tetap Terjaga, Tapi Kecukupan Modalnya Terus Menurun

Ekonomi triwulan II-2026 masih tumbuh 5,29 persen (yoy), kendati menurun dibanding triwulan I-2026 yang tumbuh 5,61 persen (yoy), didukung investasi dan ekspansi belanja pemerintah. Konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama pertumbuhan.

Kendati demikian, inflasi Agustus 2026 meninggi baik secara tahunan (yoy) maupun bulanan (mtm). Inflasi tahunan Agustus 2026 mencapai 3,19 persen (yoy) dibanding Juli 2026 sebesar 2,88 persen (yoy). Inflasi bulanan juga naik menjadi 0,21 persen pada Agustus 2026, dari deflasi (penurunan harga) sebesar 0,14 persen pada Juli 2026.

Aktivitas manufaktur, penopang utama pertumbuhan ekonomi bersama pertanian dan perdagangan, juga berada juga turun ke zona kontraksi dengan PMI Manufaktur 49,8 (<50).

Baca juga: Setelah Dua Bulan Defisit, Juli Neraca Dagang RI Kembali Surplus

Neraca perdagangan juga masih defisit pada Juni 2026 kendati menurun jauh dari defisit Mei 2026 (Juli 2026 sudah kembali surplus, Red), dan defisit transaksi berjalan triwulan II-2026 meningkat menjadi 3,3 persen dari PDB.

Di tengah ketidakpastian geopolitik dan tekanan inflasi global (serta kondisi domestik) itu, sektor jasa keuangan (SJK) tetap stabil, dengan pasar saham dan nilai tukar rupiah kembali menguat, kinerja intermediasi (penyaluran kredit) perbankan terus meningkat dengan laju pertumbuhan yang makin solid, dan ketahanan kuat dengan buffer mitigasi risiko memadai. Tercermin dari rasio kecukupan modal (CAR) sebesar 23,84 persen, naik tipis dibanding Juni 2026 sebesar 23,70 persen.

Berita Terkait

Ekonomi

Kementerian Perindustrian: Neraca Dagang AC Surplus, Mesin Cuci Masih Defisit

Di tengah situasi perekonomian maupun dinamika global, industri manufaktur...

Semua Warga Ber-KTP Akan Dibuatkan Rekening Bank, Total Sekitar 200 Juta Warga

Pemerintah menargetkan program pembuatan rekening bank menyasar sekitar 200...

Walhi: Karhutla RI Setara Emisi Kuba Hingga Kazakhstan Setahun Penuh

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sepanjang tahun 2026 ini...

Berita Terkini