Selasa, September 8, 2026
HomeBankDitopang UMKM, Penyaluran Kredit Bank BRI Tumbuh di Atas Rata-rata Industri

Ditopang UMKM, Penyaluran Kredit Bank BRI Tumbuh di Atas Rata-rata Industri

Bank BRI terus menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan kualitas aset melalui penerapan prinsip kehati-hatian serta pengelolaan risiko yang disiplin. Strategi ini membawa perusahaan dalam menyalurkan kredit dan pembiayaan tumbuh di atas rata-rata indutsri perbankan pada periode akhir triwulan kedua 2026.

Pertumbuhan ini juga disertai dengan perbaikan sejumlah indikator kualitas aset. Menurut Direktur Manajemen Risiko Bank BRI Ety Yuniarti, pertumbuhan tersebut merupakan bagian dari strategi Bank BRI untuk mendorong ekspansi secara sehat dan berkualitas.

“Dalam menjalankan strategi pertumbuhan, Bank BRI tidak semata-mata mengejar volume penyaluran kredit tetapi memastikan setiap ekspansi tetap berada dalam koridor risk appetite dan prinsip kehati-hatian,” ujarnya dikutip melalui siaran pers Selasa (8/9).

Pertumbuhan kredit dan penyaluran pembiayaan Bank BRI pada triwulan kedua 2026 berada di atas industri perbankan dan diikuti dengan perbaikan kualitas aset secara berkelanjutan. Hal ini mencerminkan bahwa ekspansi yang dilakukan tetap berjalan secara sehat dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian. Situasi itu yang terus dijaga supaya pertumbuhan dan kualitas kredit tetap berkelanjutan dalam jangka panjang.

Kualitas pertumbuhan tersebut tercermin dari membaiknya rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) dari 3 persen pada triwulan II 2025 menjadi 2,9 persen pada akhir triwulan II 2026. Perbaikan NPL menjadi salah satu indikator efektivitas strategi pengelolaan risiko yang dijalankan Bank BRI di tengah akselerasi penyaluran kredit.

Menurut Ety, Bank BRI secara konsisten menerapkan strategi selective growth atau pertumbuhan selektif dengan mengarahkan ekspansi kepada segmen, sektor, dan nasabah yang memiliki profil risiko terukur. Strategi tersebut diikuti dengan penguatan early warning system serta optimalisasi fungsi collection dan recovery untuk menjaga kualitas portofolio secara menyeluruh.

“Kami ingin memastikan bahwa setiap pertumbuhan memiliki kualitas yang baik sejak awal. Karena itu pengelolaan risiko dilakukan secara end-to-end, mulai dari proses pipeline akuisisi dan seleksi debitur, monitoring kualitas kredit, hingga collection dan recovery,” imbuhnya.

Baca juga: Triwulan II Laba Bersih Bank BRI Rp31,2 Triliun

Perbaikan kualitas kredit Bank BRI juga tercermin pada indikator yang lebih forward-looking, yakni Loan at Risk (LaR). Hingga akhir triwulan II 2026, rasio LaR Bank BRI membaik menjadi 9,1 persen dari 9,6 persen pada akhir 2025. Penurunan tersebut menunjukkan perbaikan profil risiko portofolio sekaligus mencerminkan perbaikan kualitas penyaluran kredit baru.

Sejalan dengan membaiknya NPL dan LaR, Cost of Credit (CoC) Bank BRI juga turun dari 3,4 persen pada Q2 2025 menjadi 3,1 persen pada akhir triwulan II 2026. Perbaikan CoC menunjukkan bahwa peningkatan kualitas aset turut berdampak positif terhadap biaya risiko perseroan.

Di sisi lain, Bank BRI memiliki keunggulan berupa jaringan yang tersebar luas dan basis nasabah yang terdiversifikasi. Karakteristik tersebut memungkinkan Bank BRI membangun portofolio kredit yang terdiversifikasi secara geografis maupun sektoral sehingga memperkuat daya tahan perseroan dalam menghadapi dinamika perekonomian.

Baca juga: KPR Bank BRI September 2026: Bunga Spesial 1,75 Persen

Pengelolaan kualitas kredit tersebut juga menjadi penting mengingat UMKM merupakan core business perusahaan. Bagi Bank BRI, besarnya eksposur UMKM bukan hanya sebagai instrumen untuk memperluas inklusi keuangan dan menggerakkan ekonomi kerakyatan tetapi juga sebagai portofolio bisnis yang harus dikelola secara sehat dengan disiplin pemantauan risiko yang kuat.

“Model bisnis berbasis UMKM memiliki dampak sosial dan ekonomi yang besar karena langsung menyentuh aktivitas produktif masyarakat. Pada saat yang sama, kami terus membuktikan bahwa portofolio tersebut dapat dikelola dengan tingkat risiko yang memadai. Dengan pengelolaan risiko yang disiplin, UMKM dapat terus menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan perusahaan sekaligus memperkuat kontribusi perseroan terhadap ekonomi kerakyatan,” beber Ety.

Perbaikan kualitas aset tersebut turut menopang kinerja Bank BRI yang solid. Hingga triwulan II 2026, total aset BRI Group mencapai Rp2.352 triliun atau tumbuh 11,7 persen (yoy) sementara penyaluran kredit tumbuh 16,2 persen (yoy) menjadi Rp1.646 triliun. Pada periode yang sama, laba bersih konsolidasian perusahaan tercatat sebesar Rp31,2 triliun atau meningkat 17,5 persen (yoy).

Berita Terkait

Ekonomi

Menkeu: Penerimaan Negara Kuat, Juli Defisit Fiskal Baru 0,9 Persen

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan, penerimaan negara...

Kemenperin: Agustus Manufaktur RI Masih Ekspansif, S&P Bilang Sebaliknya

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat, industri pengolahan atau manufaktur RI...

Berita Terkini