Baru Sedikit Pekerja yang Punya Dana Pensiun, OJK Canangkan Bulan Dana Pensiun
Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 mengungkapkan, indeks literasi dana pensiun masyarakat Indonesia baru mencapai 27,79 persen. Artinya baru sekitar 28 persen masyarakat yang memahami produk dan pentingnya dana pensiun. Tahun ini indeks literasi itu makin melorot menjadi 22 persen menurut SNLIK 2026.
Sementara indeks inklusi dana pensiun jauh lebih rendah lagi, tahun lalu baru mencapai 5,37 persen. Artinya baru sekitar 5 persenan masyarakat yang memanfaatkan atau memiliki dana pensiun. Indeks inklusi dana pensiun tahun ini menurut SNLIK 2026 tidak beranjak jauh dari angka itu.
Mengutip data OJK per April 2026, jumlah peserta program dana pensiun di Indonesia baru mencapai 30,11 juta orang atau 20,33 persen dari 147,67 juta pekerja.
Sebagian besar adalah peserta program dana pensiun wajib sebanyak 24,59 juta pekerja atau 16,65 persen daro total pekerja, sedangkan peserta dana pensiun sukarela baru 5,43 juta atau 3,68 persen dari total pekerja.
Itu artinya, 79,67 persen atau 117,65 juta orang, atau 8 dari 10 orang yang bekerja di Indonesia, belum dilindungi program pensiun. Maka, hari tuanya menjadi tidak pasti secara finansial dan akan menjadi beban keluarga atau anak-anaknya.
Karena masih begitu rendahnya, minat dan kesadaran pekerja untuk bergabung secara mandiri ke dana pensiun, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pun mencanangkan Bulan Dana Pensiun 2026 di Jakarta, Minggu (6/9/2026).
Event bertema “Muda Berkarya, Tua Bahagia” yang digelar di kawasan Senayan, Jakarta, itu dihadiri oleh Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica “Kiki” Widyasari Dewi, Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK Ogi Prastomiyono, Menaker Yassierly, Menteri PAN RB Rini Widyantini, serta para direktur perusahaan dana pensiun/asuransi BUMN, serta ketua asosiasi dana pensiun.
Pencanangan Bulan Dana Pensiun untuk pertama kali ini, juga dilaksanakan secara bersamaan di Bandung dan Semarang.
Baca juga: 80 Persen Masyarakat RI Rasakan Tekanan Biaya Hidup, Sulit Berinvestasi dan Menabung
Menurut Friderica, PR besar kita sekarang bukan hanya membesarkan dana kelolaan dana pensiun, tapi meningkatkan kepesertaannya.
“Apalagi, sekarang banyak banyak pekerja mandiri dan lain-lain. Ini PR kita bersama bagaimana meningkatkan kesadaran mereka untuk mengambil dana pensiun. Untuk itu kita perlu bersinergi dan berkolaborasi. OJK, industrinya, Menaker, Menteri PAN-RB, dan semuanya. Tidak bisa hanya OJK,” kata Kiki saat menyampaikan sambutan, seperti dikutip keterangan OJK.
Ia menyebutkan, kalau tingkat literasi dan inklusi keuangan nasional 2026 telah mencapai 69 persen dan 93 persen, literasi dana pensiun baru 22 persen. Indeks inklusi dana pensiun 2026 tidak disebutkan.
“Tantangannya bukan hanya meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai dana pensiun, tapi juga mendorong pemahaman itu menjadi tindakan nyata untuk mempersiapkan masa pensiun,” jelas Kiki.
Ogi menambahkan, dana pensiun sangat penting karena pekerja akan menghadapi biaya hidup yang tinggi setelah pensiun. Terutama biaya kesehatan, perawatan jangka panjang, selain tempat tinggal dan kebutuhan sehari-hari yang terus naik.
“Masa hidup setelah pensiun juga bisa berlangsung puluhan tahun, sehingga dana yang terkumpul perlu dikelola untuk menghasilkan pendapatan yang memadai dan berkelanjutan (bagi peserta),” jelasnya.
Urgensi dana pensiun makin kuat, seiring perubahan struktur demografi Indonesia. BPS menyatakan, sejak 2021 Indonesia sudah telah memasuki fase aging population (populasi menua), dengan sekitar 1 dari 10 penduduk merupakan lansia.
Tanpa kesiapan finansial yang memadai pada hari tua, peningkatan jumlah penduduk lansia itu akan menambah beban keluarga dan juga negara.
Baca juga: Otoritas Keuangan dan Moneter Ajak Kaum Milenial dan Gen Z Berinvestasi dengan Prinsip 3 C
Menaker Yassierli mendukung pencanangan Bulan Dana Pensiun 2026 dengan alasan yang sama, sehingga para pensiunan kelak tidak menjadi beban pekerja usia produktif dan negara.
“Apalagi, sekitar 60 persen pekerja kita ada di sektor informal (berupah rendah, dan masih sangat rendah kesadarannya untuk mempersiapkan dana pensiun),” ujarnya.
Sementara Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB) Rini Widyantini menyampaikan, dana pensiun harus disiapkan pekerja sejak dini. “Bukan ketika akan berhenti bekerja (baru mengambil dana pensiun), tapi sudah sejak mulai bekerja,” tegasnya.
Menurut keterangan OJK, Bulan Dana Pensiun 2026 yang diadakan selama sebulan penuh, akan diisi lebih dari 104 kegiatan literasi dan inklusi di berbagai daerah, guna meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya dana pensiun.
Meliputi edukasi, seminar, webinar, konsultasi perencanaan pensiun, kampanye digital, serta program perluasan kepesertaan yang menargetkan pekerja formal dan informal, ASN, anggota TNI dan Polri, pelaku UMKM, perempuan, generasi muda, dan berbagai kelompok masyarakat lainnya.