Selasa, Juni 9, 2026
HomeNewsEkonomi80 Persen Masyarakat RI Rasakan Tekanan Biaya Hidup, Sulit Berinvestasi dan Menabung

80 Persen Masyarakat RI Rasakan Tekanan Biaya Hidup, Sulit Berinvestasi dan Menabung

Sun Life Indonesia, Selasa (9/6/2026), meluncurkan Financial Resilience Index 2026, studi yang menunjukkan kenaikan biaya hidup sebagai faktor utama yang memengaruhi ketahanan rumah tangga.

Survei yang dilakukan bersama Genpop pada April 2026 terhadap 1.000 responden berusia 18 tahun ke atas di seluruh Indonesia itu, menemukan 80 persen masyarakat merasakan tekanan kenaikan biaya hidup.

Studi ini juga menegaskan pentingnya literasi keuangan sebagai fondasi ketahanan finansial di tengah ketidakpastian ekonomi, sekaligus mencatat peningkatan pemanfaatan teknologi berbasis kecerdasan artifisial (AI) sebagai sumber informasi dan panduan dalam mengelola keuangan.

Realitas keuangan
Mengutip keterangan Sun Life Indonesia, dari keseluruhan responden yang disurvei, hanya 14 persen yang merasa sangat aman secara finansial. Sementara 45 persen menyatakan mampu bertahan lebih dari enam bulan tanpa penghasilan. Kondisi ini mengindikasikan, masih banyak rumah tangga memiliki bantalan keuangan yang terbatas.

Secara keseluruhan, ketahanan finansial masyarakat RI memang mencatat sedikit perbaikan, dengan kelompok yang tergolong sangat tangguh meningkat dari 30 persen menjadi 34 persen.

“Namun, penurunan pada kelompok menengah membuat proporsi rumah tangga dengan ketahanan rendah justru meningkat, menandakan pemulihan yang belum merata,” tulis keterangan Sun Life Indonesia yang diterima housingestate.id.

Hasil studi juga menunjukkan, meningkatnya fokus masyarakat pada prioritas keuangan jangka pendek. Hampir separuh responden (48 persen), belum memiliki rencana keuangan jangka panjang, atau hanya merencanakan keuangan hingga satu tahun ke depan. Mengindikasikan tekanan finansial saat ini, dapat membatasi perencanaan keuangan jangka panjang.

Sejalan dengan kondisi tersebut, pengelolaan pengeluaran sehari-hari menjadi prioritas keuangan utama bagi 56 persen responden dalam 12 bulan ke depan. Melampaui menabung, berinvestasi, maupun tujuan keuangan jangka panjang lainnya.

Baca juga: Lebih dari 50 Persen Penduduk RI Terancam Rentan Miskin, Cemas dan Kehilangan Rasa Aman

Menurut studi terbaru Sun Life Indonesia, bagi banyak masyarakat Indonesia, kenaikan biaya hidup tidak hanya memengaruhi anggaran rumah tangga, tapi juga membatasi kemampuan mereka meningkatkan kondisi keuangan.

Sebanyak 30 persen responden menilai kenaikan biaya hidup sebagai tantangan terbesar dalam memperbaiki kondisi keuangan. Mengungguli faktor pendapatan yang tidak stabil dan keterbatasan pengetahuan keuangan.

Untuk mengelola peningkatan biaya hidup, banyak masyarakat mengambil langkah-langkah penyesuaian jangka pendek. Hampir seperempat responden (23 persen) memakan tabungan, 26 persen mengurangi atau menunda pengeluaran kebutuhan penting, dan 5 persen menunda kontribusi dana pensiun.

Meskipun langkah-langkah tersebut dapat membantu menghadapi tekanan finansial saat ini, dalam jangka panjang kondisi tersebut akan memengaruhi kesiapan dan ketahanan finansial mereka.

Albertus Wiroyo, President Director Sun Life Indonesia, menyatakan, hasil studi Sun Life mencerminkan banyak masyarakat Indonesia menyeimbangkan kebutuhan finansial jangka pendek dengan tujuan jangka panjang.

“Di tengah perubahan kondisi ekonomi, kesiapan finansial menjadi kunci utama untuk membangun ketahanan finansial. Di sinilah peran mitra keuangan yang dapat dipercaya, the one you can rely on, jadi makin penting, guna memberikan rasa tenang dalam menghadapi ketidakpastian saat ini sekaligus membantu merencanakan masa depan,” katanya.

Baca juga: Pakar UGM: Narasi Optimis Pemerintah Tidak Sesuai dengan Realitas

Namun, di tengah tekanan tersebut, studi ini juga menunjukkan pola yang jelas: mereka yang lebih siap secara finansial cenderung lebih mampu menghadapi situasi ketidakpastian dengan baik, dengan literasi keuangan menjadi faktor pembeda utama.

Artinya, meskipun tekanan ekonomi memengaruhi rumah tangga di seluruh kelompok pendapatan, kemampuan menghadapi tantangan tersebut makin dipengaruhi oleh pengetahuan dan kesiapan finansial masing-masing individu.

Literasi jadi kunci
Dengan kata lain, individu yang melek finansial, yang mampu memahami, mengelola, dan mengambil keputusan keuangan secara tepat, menunjukkan tingkat kepercayaan diri finansial yang jauh lebih tinggi.

Mereka mencatat skor 53 poin lebih tinggi dalam indeks kepercayaan finansial (skala 100 poin), dan tiga kali lebih mungkin merasa siap menghadapi kenaikan biaya hidup.

Mereka juga memiliki tingkat optimisme terhadap kondisi keuangan di masa depan, dengan 47 poin lebih tinggi dan secara signifikan lebih kecil kemungkinannya mengalami stres finansial berkelanjutan, dibandingkan mereka yang memiliki tingkat literasi keuangan lebih rendah.

Selain itu, mereka lebih siap menghadapi keadaan darurat, dan memiliki kebiasaan perencanaan jangka panjang yang lebih konsisten.

Baca juga: Kelas Menengah dan Daya Beli Lemah, Sebagian Bank Pesimis Capai Target Penyaluran Kredit

Manfaat perencanaan keuangan jangka panjang terlihat jelas. Di antara responden yang memiliki rencana keuangan jangka panjang, 86 persen merasa yakin dapat mencapai tujuan keuangan mereka, dibandingkan hanya 25 peresn di antara mereka yang tidak memiliki rencana keuangan.

Selain itu, 78 persen merasa siap menghadapi keadaan darurat finansial, jauh lebih tinggi dibandingkan 13 persen pada responden yang tidak memiliki perencanaan keuangan jangka panjang.

Temuan ini menunjukkan, literasi keuangan tidak hanya meningkatkan kepercayaan diri, tapi juga membentuk cara seseorang merespons tekanan ekonomi.

Di tengah kenaikan biaya hidup, kemampuan mengevaluasi pilihan, memprioritaskan pengeluaran, dan membuat perencanaan ke depan menjadi kian penting. Dan, sekarang teknologi AI bisa membantu meningkatkan kemampuan tersebut.

Berita Terkait

Ekonomi

Berita Terkini