Minggu, September 6, 2026
HomeBerita PropertiKinerja Mal Kian Ditentukan oleh Kemampuan Menciptakan Pengalaman yang Menarik

Kinerja Mal Kian Ditentukan oleh Kemampuan Menciptakan Pengalaman yang Menarik

Kesuksesan pusat perbelanjaan atau mal ditentukan oleh peritel (tenant) yang menjadi penyewanya. Para peritel kini makin selektif berekspansi, dengan memprioritaskan mal dengan arus pengunjung yang kuat, profil konsumen yang sesuai dengan target pasar mereka, dan memiliki ekosistem penyewa yang saling melengkapi.

Menurut Colliers Indonesia, kondisi itu menunjukkan, kinerja mal makin ditentukan oleh kualitas aset, relevansi tenant, standar operasional, serta kemampuannya menciptakan pengalaman yang menarik bagi pengunjung.

“Peritel Kini lebih memprioritaskan produktivitas gerai dan penguatan posisi merek, daripada melakukan ekspansi gerai secara cepat,” tulis Colliers dalam keterangannya akhir pekan ini.

Karena itu, mal yang mampu mempertahankan tingkat hunian yang sehat, membangun ekosistem tenant yang kuat, dan mampu menawarkan harga sewa yang lebih kompetitif, akan lebih unggul dalam menarik merek-merek baru.

Mengutip Jakarta Retail Market Report Q2 2026 dari Colliers Indonesia, pada triwulan II 2026, rata-rata sewa dasar untuk specialty store di mal-mal Jakarta mencapai Rp484.393 per m² per bulan, dan service charge Rp147.206 per m² per bulan.

Permintaan ruang ritel sepanjang periode ulasan, terutama berasal dari pelaku usaha makanan dan minuman, kecantikan dan kebugaran, pakaian olahraga, hiburan, serta gaya hidup. Sejumlah merek membuka gerai pertamanya di berbagai mal di Jakarta, seperti Plaza Indonesia, Puri Indah Mall, Lotte Mall, dan lain-lain.

“Sektor-sektor tersebut terus berkembang, seiring meningkatnya alokasi belanja konsumen untuk interaksi sosial, rekreasi, kesehatan, dan aktivitas berbasis pengalaman,” tulis Colliers.

Baca juga: Opini: Gerak Mal dari Pusat Belanja ke Lifestyle

Colliers juga mencatat rencana pembukaan sejumlah gerai baru di mal-mal utama di Jakarta dan sekitarnya sepanjang 2026. Termasuk merek internasional dari kategori fesyen, kecantikan, makanan dan minuman, perlengkapan rumah tangga, hiburan, buku, serta mainan.

Ferry Salanto, Head of Research Colliers Indonesia, menyebutkan, kini strategi ekspansi peritel lebih disiplin dan terukur. “Para peritel makin membutuhkan mal yang bukan hanya menyenangkan secara visual, tapi juga menawarkan profil konsumen yang sesuai, arus pengunjung berkelanjutan, konversi penjualan yang lebih kuat, serta ekosistem penyewa yang mendukung kinerja merek dalam jangka panjang,” jelasnya.

Tren itu harus mendorong pengelola mal menempatkan bauran penyewa (tenant mix) sebagai fokus. Penyewa utama yang menjadi daya tarik, pilihan kuliner, hiburan, kebugaran, layanan penunjang, serta merek-merek yang saling melengkapi, harus makin dipadukan untuk memperpanjang durasi kunjungan, mendorong kunjungan berulang, dan meningkatkan belanja konsumen.

Baca juga: Rohana dan Rojali Nggak Ngaruh. Peritel Asing Tetap Semangat Buka Gerai di Mal

Pandangan tersebut sejalan dengan insight terbaru Sander Halsema, Kepala Retail Services Colliers Indonesia, yang berjudul “Building Retail Relevance Through Strategic Tenant Curation.”

Menurutnya, kurasi atau seleksi penyewa bukan lagi sekadar mengisi ruang kosong di mal, melainkan membangun ekosistem ritel yang saling terhubung, sesuai dengan segmen yang dituju, memperkuat identitas mal, dan memberikan alasan yang jelas bagi pengunjung untuk kembali.

“Mal yang mampu menggabungkan aksesibilitas, penyewa yang relevan, kenyamanan, pengalaman gaya hidup, dan perencanaan berbasis data, akan berada pada posisi yang lebih kuat untuk mempertahankan daya saing jangka panjang,” ujar Sander.

Baca juga: Tren Pusat Belanja, Makin Mengarah ke Retailtainment

Merek-merek internasional dan lokal yang masuk ke berbagai mal di Jakarta dan sekitarnya, menghadirkan konsep baru yang memperluas pilihan konsumen. Keunggulan kompetitif pemilik mal, akan ditentukan oleh seberapa efektif merek-merek tersebut diintegrasikan ke dalam keseluruhan pengalaman pengunjung.

Pusat perbelanjaan yang secara konsisten mengkurasi bauran penyewa, dan merespons perubahan preferensi konsumen, akan mencatat tingkat okupansi yang lebih tinggi serta kinerja komersial yang lebih tangguh.

“Mal yang masih mengandalkan strategi penyewaan konvensional, akan menghadapi tantangan yang lebih besar dalam mempertahankan okupansi, pertumbuhan tarif sewa, dan nilai aset dalam jangka panjang,” tutup Sander.

Berita Terkait

Ekonomi

Menkeu: Penerimaan Negara Kuat, Juli Defisit Fiskal Baru 0,9 Persen

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan, penerimaan negara...

Kemenperin: Agustus Manufaktur RI Masih Ekspansif, S&P Bilang Sebaliknya

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat, industri pengolahan atau manufaktur RI...

Agustus Inflasi Kembali Meninggi, Dipicu Kenaikan Harga Bahan Makanan Termasuk Beras

Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Deputi Bidang Statistik Distribusi...

Berita Terkini