Pertumbuhan Uang Primer Tetap Tinggi, Likuiditas di Pasar Kian Longgar
Bank Indonesia (BI) mencatat, uang primer (M0) adjusted pada Agustus 2026 tumbuh 16,3 persen secara tahunan (yoy) menjadi Rp2.281,5 triliun.
Kendati sedikit menurun dibandingkan Juli 2026 yang tumbuh 17,1 persen (yoy), pertumbuhan base money Agustus 2026 itu masih tetap tinggi.
Pada Juni dan Mei 2026 misalnya, uang primer adjusted hanya tumbuh 13,8 persen (yoy) dan 14,2 persen (yoy).
Uang primer atau uang inti, adalah uang kartal (uang kertas dan logam) yang beredar di masyarakat dan simpanan giro bank umum di bank sentral (BI).
Sedangkan uang primer adjusted, adalah base money yang telah memperhitungkan dampak pemberian insentif likuiditas oleh BI kepada perbankan untuk membiayai sektor-sektor prioritas.
Peningkatan uang primer sering dipandang sebagai indikator yang bagus bagi perekonomian, karena meningkatkan likuiditas di pasar keuangan, mendorong penurunan suku bunga dan selanjutnya meningkatkan penyaluran kredit oleh perbankan.
Baca juga: Ekspansi Belanja Pemerintah Mengendur, Juli Uang Beredar Kian Menurun
Menurut Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso melalui keterangan tertulis, Senin (7/9/2026), perkembangan uang primer adjusted itu, dipengaruhi oleh pertumbuhan giro bank umum di BI adjusted sebesar 19,0 persen (yoy) dan uang kartal yang diedarkan sebesar 12,9 persen (yoy).
Pada Juli dan Juni 2026, pertumbuhan giro bank umum di BI adjusted mencapai 17,1 persen (yoy) dan 12,6 persen (yoy). Sedangkan pertumbuhan uang kartal yang diedarkan sebesar 15,1 persen (yoy) dan 14,0 persen.
Hal itu menunjukkan likuiditas perbankan makin longgar, sehingga diharapkan mendorong penyaluran kredit lebih besar.