Sabtu, Agustus 8, 2026
HomeMoneterKredit Melaju, Likuiditas Mengetat, Kecukupan Modal Bank Pun Kian Tergerus

Kredit Melaju, Likuiditas Mengetat, Kecukupan Modal Bank Pun Kian Tergerus

Hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akhir Juli yang dirilis awal pekan ini mengungkapkan, pada Juni 2026 kredit tumbuh 12,67 persen secara tahunan (yoy) menjadi Rp9.081 triliun, dibanding 11,51 persen pada Mei 2026, 9,63 persen pada Desember 2025, 7,77 persen pada Juni 2025 dan 10,46 persen pada Desember 2024.

Laju kredit yang kian tinggi itu tidak diimbangi dengan kecukupan likuiditas. Tercermin dari penghimpunan simpanan masyarakat atau dana pihak ketiga (DPK) Juni 2026 yang hanya tumbuh 10,21 persen secara tahunan (yoy) menjadi Rp10.282 triliun, di banding 13,47 persen pada Mei 2026 dan 11,39 persen pada April 2026. Giro, deposito dan tabungan masing-masing hanya tumbuh 9,95 persen, 8,25 persen, dan 12,16 persen.

Pertumbuhan kredit yang lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan DPK itu, membuat rasio likuiditas industri perbankan pada Juni 2026 merosot.

Rasio Alat Likuid/Non-Core Deposit (AL/NCD) dan Alat Likuid/Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) masing-masing sebesar 101,92 persen dan 23,08 persen dibanding 108,20 persen dan 24,74 persen pada Mei 2026.

Masih di atas threshold (ketentuan minimal) masing-masing sebesar 50 persen dan 10 persen, dengan Liquidity Coverage Ratio (LCR) atau rasio kecukupan likuiditas berada di level 182,75 persen.

Sementara kualitas kredit membaik, dengan rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) gross turun ke level 2,09 persen (Mei 2026: 2,17 persen), dan NPL net terjaga di 0,82 persen (Mei 2026: 0,84 persen), serta Loan at Risk (LaR) atau kredit yang berisiko gagal bayar sebesar 8,47 persen (Mei 2026: 8,72 persen).

Baca juga: OJK: Kinerja Perbankan Tetap Terjaga, Tapi Kecukupan Modalnya Terus Menurun

Tingkat profitabilitas atau kemampuan bank menghasilkan laba (RoA) juga sedikit membaik dari 2,45 persen pada Mei 2026 menjadi 2,47 persen pada Juni 2026.

Ketahanan permodalan perbankan juga disebut OJK masih kuat, dengan buffer mitigasi risiko yang memadai. Tercermin dari rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) sebesar 23,70 persen dibanding 23,74 persen pada Mei 2026.

CAR itu terus menurun selama 7 bulan terakhir. Pada Desember 2024 CAR perbankan masih tercatat 26,68 persen, kemudian terus menurun menjadi 25,48 persen (Mei 2025), 25,87 persen (Desember 2025), 23,97 persen (April 2026), 23,74 persen (Mei 2026), dan 23,70 persen pada Juni 2026.

CAR dihitung dengan membagi Total Modal Bank dengan Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR). Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan bank dalam menampung potensi kerugian dari kredit macet atau risiko operasional lainnya.

Total modal terdiri dari modal inti (Tier 1) seperti ekuitas pemegang saham dan laba ditahan, serta modal pelengkap (Tier 2) seperti cadangan kerugian.

Sedangkan ATMR adalah total aset bank (seperti kredit atau surat berharga) yang nilainya telah disesuaikan berdasarkan tingkat risiko masing-masing. OJK mewajibkan perbankan menjaga rasio kecukupan modal antara 12-14 persen tergantung profil risiko dan ukuran bank, agar operasionalnya dikategorikan sehat.

Baca juga: Kredit Investasi dan Modal Kerja Terus Melaju, Kredit Konsumsi Kian Lesu

OJK tidak menjelaskan penyebab CAR perbankan terus menurun. Tapi, ekspansi kredit yang makin tinggi ditengarai menjadi penyebabnya, ditambah kurangnya tambahan modal disetor dari laba ditahan.

Penyaluran pinjaman atau aset produktif yang makin tinggi membuat total aset berisiko membesar, sehingga ATMR meningkat dan rasio CAR menyusut.

Berita Terkait

Ekonomi

Kadin: Perdagangan Indonesia-Tailan Akan Mencapai USD30 Miliar Tahun 2030

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia bersama Thai Chamber...

Manufaktur RI Tetap Ekspansif Bila Pasar Domestik Terus Membaik

S&P Global merilis Purchasing Manager’s Index (PMI) Manufaktur Indonesia...

Yang Full Nganggur Masih 7,22 Juta, Setengah Pengangguran 10,78 Juta

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, Rabu (5/8/2026), tingkat pengangguran...

Berita Terkini