CVIG Tawarkan Hunian Premium di Sydney untuk Investor Indonesia
Kekurangan pasokan hunian di Australia saat ini, membuat investasi dalam rumah tinggal menjadi menarik di negara tersebut. Terlebih di kota besar seperti Sydney, yang harga huniannya terbilang paling tinggi di Australia.
“Saat ini tingkat kekosongan (vacancy rate) hunian di Sydney berada di kisaran 1.3 persen, yang menurut SQM Research (Australia), mencerminkan pasokan yang masih sangat terbatas,” kata Chief Executive Officer (CEO) Capital Value International Group (CVIG) Chandra Leonardi dalam pertemuan dengan media di Jakarta, Senin (10/8/2026). Artinya, hampir 99 persen hunian di Sydney ditempati atau tersewa.
CVIG adalah pengembang properti berbasis di Australia yang didirikan Chandra pada 2013, dengan fokus mengembangkan hunian tapak premium di Sydney, Australia.
Melihat potensi pasar tersebut, CVIG terus mengembangkan proyek hunian premium di Sydney, guna memenuhi permintaan sekaligus memberikan nilai investasi jangka panjang bagi pembeli rumah.
Proyek terbaru yang ditawarkan CVIG berlokasi di Roselands, salah satu kawasan hunian yang berkembang pesat di Sydney dan hanya sekitar 20–30 menit berkendara dari pusat bisnis atau CBD Sydney.
Dikembangkan di atas lahan seluas sekitar 2.000 meter persegi, proyek di Roselands merupakan kompleks hunian eksklusif townhouse premium, dengan harga jual setiap unit sekitar Rp30 miliar.
Secara keseluruhan, proyek memiliki nilai pengembangan sekitar Rp225 miliar, mencerminkan tingginya permintaan terhadap hunian premium di Sydney, sekaligus mempertegas strategi CVIG dalam menghadirkan produk residensial berkelas di lokasi dengan prospek pertumbuhan jangka panjang.
Baca juga: CEO CVIG: Krisis Pasokan Hunian di Australia, Peluang Investasi bagi Investor Indonesia
Untuk memastikan kualitas desain proyek mampu bersaing di pasar hunian premium Australia, CVIG menggandeng M.A.R.S Architecture & Interior Design Australia, firma arsitektur yang dikenal luas melalui berbagai proyek hunian mewah dan bangunan komersial prestisius di Australia.
“Nilai properti tidak hanya ditentukan oleh lokasinya. Kepemilikan (land component) besar tanah, kualitas lifestyle, dan akses ke major roads, menjadi faktor yang juga menentukan. Karena itu kami bekerja sama dengan firma arsitek terbaik Australia, agar setiap proyek mampu memberikan nilai yang tumbuh sehat dalam jangka panjang,” jelas Chandra.

Menurut dia, keberanian CVIG membidik segmen hunian premium di Sydney, merupakan hasil dari perjalanan bisnis selama lebih dari satu dekade. Didirikan pada 2013, Chandra mengawali usaha sebagai agensi pemasaran properti yang menangani berbagai proyek pengembang terkemuka di Australia.
Sebagai perusahaan agensi pemasaran properti, CVIG berhasil meraih sejumlah penghargaan industri, sebelum mengambil langkah strategis pada 2017 dengan mulai mengembangkan proyeknya sendiri.
Transformasi tersebut menandai perubahan posisi perusahaan dari sekadar pemasar, menjadi pengembang properti. Selama hampir satu dekade, CVIG berhasil membangun portofolio pengembangan yang kini mendekati Rp500 miliar.
“Kami memulai bisnis tanpa nama besar, tanpa rekam jejak, dan dengan sumber daya yang sangat terbatas. Setiap tantangan menjadi proses pembelajaran yang membentuk cara kami membangun bisnis. Dari pengalaman kami memahami, integritas dan tanggung jawab kepada klien merupakan fondasi utama untuk membangun kepercayaan dalam jangka panjang,” terang pengusaha properti Australia kelahiran Jakarta itu.
Ia menyebut, perjalanan tersebut turut membentuk karakter perusahaan yang kini menjadi landasan dalam menjalankan bisnis. CVIG mengedepankan budaya kerja yang adaptif dalam membaca dinamika pasar, menjunjung tinggi integritas dan akuntabilitas, serta membangun lingkungan kerja yang kolaboratif dan inklusif.
Pendekatan itu juga menjadi bagian dari upaya perusahaan menjembatani kebutuhan investor Indonesia dan kawasan Asia, yang ingin berinvestasi di pasar properti Australia melalui layanan yang didukung pengalaman serta pemahaman mendalam terhadap industri.
Chandra menjelaskan, lokasi proyek di Roselands yang relatif dekat dari city dan city view, masih menjadi pertimbangan utama investor Indonesia dalam membeli properti di luar negeri. Namun, seiring meningkatnya pemahaman terhadap investasi global, keputusan pembelian kini makin didasarkan pada analisis yang lebih komprehensif.
Selain lokasi, investor juga mempertimbangkan berbagai faktor fundamental, seperti pertumbuhan populasi, pembangunan infrastruktur, tingkat permintaan sewa, serta potensi kenaikan nilai aset dalam jangka panjang. Australia, khususnya Sydney, dinilai masih memenuhi seluruh indikator tersebut.
“Peluang investasi terbaik selalu lahir dari fundamental pasar, bukan dari euforia pasar. Krisis pasokan hunian yang sedang dihadapi Australia, merupakan peluang struktural jangka panjang yang butuh waktu lama untuk ditanggulangi. Jadi, ini momentum yang tepat bagi investor Indonesia untuk mengambil bagian dalam pertumbuhan nilai properti Australia,” tutur Chandra.
Baca juga: Iwan Sunito: Keuntungan Investasi Properti Itu Saat Membeli, Bukan Ketika Menjual
Ia menyebut rental yield rumah tinggal di Sydney rata-rata mencapaoi 3,5 persen per tahun, bahkan di lokasi-lokasi tertentu bisa mencapai 5 persen dari nilai rumahnya.
Julie Kwan, Direktur Keuangan CVIG, yang juga pasangan hidup Chandra, menyatakan, pembelian rumah di Roseland bisa dilakukan dengan KPR dengan plafon maksimal 70 persen dan bunga saat ini sekitar 6 persen per tahun. Tenor KPR bisa sampai 30 tahun.
“Saat ini satu rumah di Roselands sudah terjual. Pembelinya investor asal Indonesia, yang sebelumnya sudah menjadi pembeli di proyek CVIG sebelumnya,” ungkap Julie. Penjualan rumah dilakukan secara inden, dengan target serah terima antara 12 sampai 16 bulan setelah pelunasan uang muka.