Penyerapan Ruang Kantor Masih Tertekan
Laporan Colliers Indonesia untuk bisnis properti periode kuartal pertama (Q1) 2025 menyebut bisnis properti masih mengalami dinamika dengan beberapa pasar seperti ritel dan kawasan industri menunjukkan situasi yang positif. Namun begitu untuk sektor perhotelan mengalami penurunan khususnya akibat kebijakan efisiensi belanja pemerintah.
Salah satu yang juga akan memberikan dampak pada bisnis properti yaitu maraknya pemberitaan perang tarif khususnya antara Amerika dan China. Sementara itu penurunan perekonomian Indonesia khususnya dari berkurangnya aktivitas ekspor akan memberikan dampak pada bisnis properti.
Menurut Head of Research Colliers Indonesia Ferry Salanto, di tengah situasi bisnis properti yang masih melemah ada potensi dari sektor industrial yang bisa memicu perusahaan multinasional untuk merelokasi pabriknya ke Indonesia. Potensi ini bisa menciptakan peluang yang lebih besar untuk sektor lainnya.
“Di tengah situasi ini performa setiap sektor properti memang berbeda-beda untuk periode Q1 2025. Beberapa sektor memang memiliki potensi yang cukup baik namun beberapa lainnya masih terus terkoreksi kendati tidak menghilangkan berbagai peluang yang ada,” ujarnya dalam rilis pers yang diterbitkan Minggu (04/05).
Untuk sektor perkantoran, Ferry menyebut periode Q1 2025 masih mencatatkan sedikit permintaan dibandingkan periode yang sama tahun 2024. Potensi untuk meningkat tetap ada dengan kondisi yang terbatas sehingga penyerapan ruang kantor diprediksi masih akan terus tertekan.
Meskipun kondisi ini diperkirakan akan membaik, situasi pemulihannya akan berlangsung secara moderat. Hal ini akan membuat para pemilik properti (landlord) untuk tetap berhati-hati dalam menerapkan biaya sewa terutama untuk gedung perkantoran yang kesulitan mencapai tingkat okupansi yang sehat.
Baca juga: Mau Diapakan Gedung Kantor Pemerintah di Jakarta Setelah Pindah Ibu Kota?
Lansekap ekonomi yang penuh ketidakpastian juga kemungkinan akan terus mempengaruhi kinerja sewar uang kantor. Masih banyak kalangan penyewa yang ragu untuk berkomitmen jangka panjang sehingga membuat landlord terus menerapkan strategi penyewaan yang fleksibel.
Berbagai strategi lain yang akan diterapkan antara lain biaya sewa yang dapat disesuaikan, jangka waktu kontrak yang berpihak pada sisi penyewa, hingga tata letak (layout) ruangan untuk mengakomodasi bisnis sesuai keinginan penyewa. Landlord juga akan meningkatkan kualitas gedung misalnya dengan mengintegrasikan fitur bangunan hijau.
“Sejalan dengan meningkatnya minat gedung berbasis environmental, social and government (ESG) khususnya dari penyewa internasional akan meningkatkan daya tarik gedung. Fokus pada keberlanjutan dan modernisasi properti dapat memposisikan gedung perkantoran sebagai pilihan menarik bagi pebisnis,” imbuh Ferry.