Kamis, Mei 21, 2026
HomeMoneterBI Naikkan BI Rate dan Yield SRBI, Rupiah Menguat, Modal Asing Kembali...

BI Naikkan BI Rate dan Yield SRBI, Rupiah Menguat, Modal Asing Kembali Masuk

Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan, memburuknya kondisi global akibat perang di Timur Tengah, mendorong berlanjutnya pelarian modal keluar dari berbagai negara termasuk negara emerging markets seperti Indonesia, ke aset yang memberikan imbal hasil (yield) tinggi dan lebih aman (safe-haven assets) khususnya obligasi Amerika Serikat (AS).

Perkembangan ini mendorong kuatnya Indeks dolar AS, dan menimbulkan tekanan pelemahan baik terhadap mata uang negara maju (DXY) maupun mata uang negara berkembang (ADXY) termasuk rupiah. Itulah yang menyebabkan rupiah terus melemah hingga tembus lebih dari Rp17.700 per dolar AS (USD) pekan ini.

Perry menyampaikan hal itu dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulanan Bank Indonesia (BI), 18-19 Mei 2026, Selasa pekan ini (19/5/2026).

Untuk mengatasinya, BI sudah melalukan intervensi valas ke pasar, baik di pasar domestik maupun luar negeri. Dilanjutkan dengan menaikkan bunga acuan BI Rate 50 basis poin menjadi 5,25 persen awal pekan ini, dan menaikkan suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) menjadi 6,21 persen, 6,31 persen, dan 6,45 persen untuk tenor 6, 9 dan 12 bulan pada 13 Mei 2026.

Ditopang kenaikan yield Surat Berharga Negara (SBN) terbitan pemerintah Indonesia hingga 6,8 persen, berbagai kebijakan itu berhasil menarik masuk arus modal asing portofolio dari sebelumnya keluar.

Baca juga: Perkuat Rupiah, BI Naikkan BI Rate 50 bps Jadi 5,25 Persen

Pada triwulan I 2026, BI mencatat aliran modal keluar bersih (net outflows) sebesar USD0,8 miliar dolar AS. Tapi, berbagai respon kebijakan di atas, mendorong kembali masuknya modal asing portofolio pada triwulan II 2026 senilai USD5,5 miliar (hingga 18 Mei 2026). “Terutama ke SRBI dan SBN, karena meningkatnya imbal hasil kedua instrumen tersebut,” ujar Perry.

Nilai tukar rupiah menguat menjadi Rp17.673 (21 Mei 2026) setelah BI menaikkan BI Rate menjadi 5,25 persen. Per 19 Mei 2026 nilai tukar rupiah tercatat sebesar Rp17.700 per USD, melemah 2,20 persen (ptp) dibandingkan level akhir April 2026.

Ke depan, BI meyakini nilai tukar rupiah akan stabil dan cenderung menguat, didukung komitmen BI, imbal hasil surat utang yang menarik, serta prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap baik.

BI memprakirakan defisit transaksi berjalan 2026 dalam kisaran 1,3 persen sampai dengan 0,5 persen dari PDB. Sementara cadangan devisa pada akhir April 2026 mencapai USD146,2 miliar, setara pembiayaan 5,8 bulan impor atau 5,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

“Kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) perlu terus diperkuat, di tengah memburuknya perekonomian dan pasar keuangan global. Surplus neraca perdagangan barang (Indonesia) turun dari USD7,6 miliar pada triwulan IV 2025 menjadi USD5,5 miliar pada triwulan I 2026,” ungkap Gubernur BI.

Baca juga: Cadangan Devisa Kian Terpangkas untuk Jaga Rupiah, April Tinggal USD146,2 Miliar, Terendah Dalam 22 Bulan

Di dalam negeri, permintaan valas pada triwulan II 2026 meningkat cukup tinggi. Dipengaruhi faktor musiman, antara lain untuk pembayaran dividen dan utang luar negeri.

“Karena itu, sinergi kebijakan pemerintah dan BI perlu diperkuat untuk meningkatkan surplus neraca modal dan finansial, guna menjaga ketahanan eksternal perekonomian nasional sekaligus memperkuat nilai tukar rupiah,” tutup Gubernur Perry.

Berita Terkait

Ekonomi

Kebijakan WFH Sehari dalam Seminggu Berlanjut Juni-Juli

Pemerintah masih mempersiapkan sejumlah regulasi lintas kementerian/lembaga, terkait kebijakan...

Prabowo Targetkan Ekonomi 2027 Tumbuh Hingga 6,5 Persen

Presiden Prabowo Subianto menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan...

Daya Beli Masyarakat Masih Terjaga, Purbaya Tunjukkan Datanya

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan, per akhir April...

Berita Terkini