Senin, Mei 18, 2026
HomeApartmentCushman: Triwulan Satu Hanya 2 Kondominoium di Jabodetabek yang Kelar, yang Lain...

Cushman: Triwulan Satu Hanya 2 Kondominoium di Jabodetabek yang Kelar, yang Lain Tertunda

Marketbeat Cushman & Wakefield triwulan satu (Q1) 2026 yang dirilis pekan lalu mengungkapkan, awal 2026 pasar kondominium (apartemen strata) di Jabodetabek hanya mencatat tambahan pasokan baru dari 2 proyek saja.

Yaitu, Newville Tower Zetta (144 unit) di Bekasi untuk segmen menengah bawah, dan Belton Residence (400 unit) di Jakarta Timur untuk segmen menengah.

Sejumlah proyek lain yang sebelumnya ditargetkan selesai pada Q1 2026 mengalami penundaan, melanjutkan tren keterlambatan penyelesaian dalam pipeline pengembangan kondominium.

Peluncuran proyek baru masih sangat selektif, dengan hanya 2 proyek yang dirilis selama triwulan pertama tahun ini. Yaitu, tower Eluna (376 unit) untuk segmen atas, dan sebagian dari pengembangan Kota Kasablanka Phase 4 (Jakarta Selatan), yang diperkirakan selesai pada 2029.

Keterbatasan pasokan baru diperkirakan berlanjut, dengan hanya pengembang besar di segmen menengah atas hingga atas yang tetap akan melansir proyek baru. Sementara pengembang lain, cenderung lebih berhati-hati dan menunda peluncuran proyek.

Cushman mencatat, sampai triwulan I 2026 total stok kondominium di Jabodetabek mencapai 400.771 unit. Sebagian besar (354.104 unit) ada di area sekunder, selebihnya di pusat bisnis atau CBD Jakarta (31.639 unit), dan area utama atau prime area (15.028 unit). Prime area adalah lokasi yang menjadi favorit kaum atas dan ekspatriat.

Sementara suplai yang akan masuk (bila pengembangan proyek tetap berlanjut), mencapai 83.766 unit. Yaitu, 81.573 unit di area sekunder, 1.631 unit di CBD, dan 562 unit di prime area.

Baca juga: Pasok Baru Kondominium Melonjak, Tapi yang Belum Laku Masih Sangat Banyak

Penyerapan bersih selama periode ulasan mencapai 2.422 unit. Terbanyak di area sekunder 2.280 unit, diikuti CBD 89 unit dan 53 unit di prime area.

Menurut Cushman, permintaan tetap relatif stabil, dengan tingkat penjualan kumulatif mencapai 94,4 persen, dan tingkat
pra-penjualan (marketing sales) 59,3 persen, yang menunjukkan minat pembeli yang selektif namun tetap terjaga di tengah kondisi pasar yang berhati-hati.

Sementara, tingkat hunian kondominium meningkat 2,1 persen secara tahunan (yoy) menjadi 65,9 persen, mencerminkan tren peningkatan minat terhadap hunian vertikal.

Dengan terbatasnya pasokan baru serta dukungan berkelanjutan dari insentif PPN DTP (PPN Ditanggung Pemerintah), tingkat penyerapan kondominium di area sekunder diperkirakan meningkat dalam beberapa bulan mendatang.

Namun, ketidakpastian geopolitik global yang masih berlangsung, dapat mendorong pembeli bersikap lebih berhati-hati dalam membeli kondominium, dengan kecenderungan memprioritaskan pembelian untuk kebutuhan sendiri dibandingkan investasi.

Baca juga: Kian Banyak End User yang Beli Kondominium, Okupansi Meningkat, Tertinggi Dalam 5 Tahun Terakhir

Minat pasar yang masih terbatas, berpengaruh terhadap harga. Dibandingkan kuartal sebelumnya, pasar kondominium Jabodetabek menunjukkan perbaikan harga yang terbatas. Rata-rata harga hanya meningkat 2,0 persen secara tahunan (yoy) menjadi Rp51.800.000/m2.

Dipimpin kondominium di kawasan CBD dengan kenaikan 2,7 persen (yoy) menjadi Rp63.600.000/m2, disusul kawasan utama dengan kenaikan 1,8 persen (yoy) menjadi Rp55.100.000/m2, dan kawasan sekunder 0,5 persen (yoy) menjadi Rp36.700.000/m2 kendati tingkat penyerapannya diprediksi meningkat dalam beberapa bulan ke depan.

“Kondominium di kawasan CBD dan area utama, menunjukkan kinerja yang lebih baik dibandingkan kawasan sekunder, seiring dengan proyek-proyek yang masih dalam tahap konstruksi tetap dipasarkan secara aktif,” tulis Cushman.

Ke depan, harga diperkirakan masih relatif stabil dengan pertumbuhan terbatas, seiring dengan sikap pembeli yang cenderung masih berhati-hati, mempertimbangkan ketidakpastian global yang berlanjut dan mempengaruhi kondisi ekonomi dan bisnis.

Berita Terkait

Ekonomi

Bank Mandiri: Penjualan Eceran Tetap Akan Meningkat, Ditopang Liburan dan Belanja

Survei Penjualan Eceran yang diterbitkan Bank Indonesia (BI) memprakirakan...

LPEM FEB UI Ragukan Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen, Ini Alasannya

Peneliti di Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi...

April Konsumen Tahan Belanja, Perbanyak Tabungan

Survei Konsumen Bank Indonesia April 2026 yang dipublikasikan awal...

Berita Terkini