Daya Beli Masyarakat Masih Terjaga, Purbaya Tunjukkan Datanya
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan, per akhir April 2026 pendapatan negara tumbuh 13,3 persen secara tahunan (yoy) senilai Rp918,4 triliun, atau setara 29,1 persen dari target APBN 2026 sebesar Rp3.153,6 triliun.
Pendapatan negara itu disumbang penerimaan perpajakan, yang tumbuh 13,7 persen sebesar Rp746,9 triliun, turun dibanding 31 Maret 2026 yang tumbuh lebih dari 20,7 persen.
Terdiri dari penerimaan pajak Rp646,3 triliun atau tumbuh 16,1 persen, penerimaan bea dan cukai Rp100,6 triliun atau tumbuh 0,6 persen, dan pendapatan negara bukan pajak (PNBP) mencapai Rp171,3 triliun atau tumbuh 11,6 persen.
“Ini (penerimaan pajak) lebih bagus dibanding April tahun lalu yang minus 10,8 persen. Kita akan kejar penerimaan perpajakan untuk tumbuh lebih tinggi hingga 20 persen ke depan,” kata Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa 2026 di Jakarta, Selasa (19/5/2026), seperti dikutip dari keterangan Kemenkeu, Rabu (20/5/2026).
Ia menyebutkan, peningkatan penerimaan pajak pada April 2026 itu disumbang antara lain oleh penerimaan PPN dan PPnBM yang melesat 40,2 persen menjadi Rp221,2 triliun. Selain itu, Pajak Penghasilan (PPh) Orang Pribadi (gaji karyawan) juga meningkat 25 persen.
“Peningkatan pesat PPN dan PPnBM serta PPh Orang Pribadi itu, menunjukkan aktivitas ekonomi tetap kuat, dan masyarakat masih memiliki daya beli. Mematahkan tuduhan ekonomi kita (setelah triwulan satu akan) melambat (karena tak ada lagi faktor pendorong musiman seperti Idul Fitri),” kata Menkeu.
Baca juga: April Keseimbangan Primer Surplus, Defisit Anggaran Turun, Kendati Belanja Negara Kian Ngegas
Purbaya pun menunjuk penjualan kendaraan bermotor setelah Idul Fitri, yang tumbuh 28,1 persen secara tahunan (yoy) per akhir April 2026, dibanding Maret 2026 yang masih terkontraksi (minus) 17,1 persen (yoy). Penjualan mobil bahkan meningkat lebih tajam hingga 55 persen (yoy), setelah pada Maret 2026 terkontraksi 13,8 persen.
Sementara pertumbuhan konsumsi BBM, listrik, dan semen domestik, mengindikasikan peningkatan aktivitas industri dan investasi, yang kesemuanya menjaga optimisme pertumbuhan ekonomi pada triwulan II.
Menkeu juga merujuk data pertumbuhan konsumsi rumah tangga, penyumbang utama pertumbuhan ekonomi, yang pada triwulan I 2026 mencapai 5,52 persen dari biasanya 4,9-5 persen.
Menurut dia, pertumbuhan 5,52 persen itu menunjukkan tingginya daya beli masyarakat, yang ditopang juga oleh belanja pemerintah yang tumbuh 21,8 persen.
Baca juga: Menkeu: Pemerintah dalam “Mode Bertahan” Jaga Pertumbuhan Ekonomi
Ia juga tak lupa menyebut upaya pengendalian inflasi bersama Bank Indonesia, sehingga inflasi April 2026 bisa dijaga di 2,42 persen, dan keputusan pemerintah mempertahankan harga BBM bersubsidi, yang ikut berperan menjaga daya beli masyarakat.
“Semyua data ini mengagetkan saya juga. Tadinya saya agak pesimis tentang (pertumbuhan ekonomi pada awal) triwulan kedua. Tapi, setelah melihat data-datanya, ternyata bagus. Artinya apa? Daya beli masyarakat masih terjaga,” terang Purbaya.