Utang Luar Negeri Pemerintah Terus Bertambah, Swasta Terus Menurun
Utang luar negeri (ULN) Indonesia terus bertambah. Pada triwulan I 2026 mencapai USD433,4 miliar, tumbuh 0,8 persen secara tahunan (yoy), dibanding 1,9 persen (yoy) pada triwulan IV 2025.
Dari jumlah utang itu, sebanyak USD214,7 miliar (lebih dari Rp3.600 triliun) merupakan ULN pemerintah, tumbuh 3,8 persen (ypy) pada triwulan I 2026 dibanding 5.5 persen (yoy) pada triwulan IV 2025.
Mengutip keterangan Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Ramdan Denny Prakoso, Senin (18/5/2026), penambahan ULN pemerintah itu terutama dipengaruhi oleh aliran masuk modal asing ke Surat Berharga Negara (SBN) internasional yang diterbitkan pemerintah.
ULN pemerintah dimanfaatkan antara lain untuk mendukung sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial (22,1 persen dari total ULN pemerintah), administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib (20,2 persen), jasa pendidikan (16,2 persen), konstruksi (11,5 persen), serta transportasi dan pergudangan (8,5 persen).
“ULN pemerintah didominasi utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 99,99 persen dari total ULN pemerintah,” kata Denny.
Baca juga: Utang Luar Negeri Pemerintah Naik Terus, Swasta Belum Pede Tambah Utang
Sementara ULN swasta terus menurun, yang sudah berlangsung sejak tahun lalu, yang mengindikasikan belum cukup pedenya dunia usaha berekspansi.
Pada triwulan I 2026 mencapai USD191,4 miliar, menurun dibanding triwulan IV 2025 sebesar USD194,2 miliar, atau secara tahunan (yoy) terkontraksi (minus) 1,8 persen.
Penurunan ULN swasta terjadi pada kelompok peminjam lembaga keuangan (financial corporations) dan bukan lembaga keuangan (nonfinancial corporations), yang masing-masing mencatat kontraksi 3,6 persen (yoy) dan 1,3 persen (yoy).
ULN swasta terbesar berasal dari industri pengolahan, jasa keuangan dan asuransi, pengadaan listrik dan gas, serta pertambangan dan penggalian, dengan pangsa mencapai 80,4 persen dari total ULN swasta. ULN swasta jugatetap didominasi utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 76,6 persen.
Secara keseluruhan, BI menilai struktur ULN Indonesia tetap sehat. Tercermin dari rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang turun menjadi 29,5 persen pada triwulan I 2026, dari 30,0 persen pada triwulan IV 2025, serta didominasi utang jangka panjang dengan pangsa 85,4 persen dari total ULN.