Penjualan Eceran April Terkontraksi, Ekonomi Triwulan II Tidak Akan Tumbuh Lebih Tinggi
Pada triwulan I 2026 (Januari-Maret) pertumbuhan ekonomi tercatat 5,61 persen (yoy), tertinggi dalam 12 tahun terakhir. Sebagian besar (sekitar 53 persen) disumbang konsumsi rumah tangga melalui antara lain transaksi di pasar ritel atau penjualan eceran.
Konsumsi rumah tangga meningkat terutama pada momentum hari besar keagamaan sepanjang Januari-Maret: Imlek, Nyepi, dan yang terbesar selama ramadan dan Idul Fitri.
Survei Penjualan Eceran (SPE) Bank Indonesia yang dirilis, Selasa (12/5/2026), mengkonfirmasi lonjakan konsumsi rumah tangga tersebut.
Tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) Maret 2026 sebesar 256,7, atau tumbuh 3,4 persen secara tahunan (yoy) dibanding Maret 2025, meski tidak setinggi pertumbuhan pada Februari 2026 sebesar 6,5 persen (yoy).
Kinerja penjualan itu didorong pertumbuhan penjualan pada kelompok suku cadang dan aksesori (indeks 168,1, tumbuh 15,5 persen yoy), barang budaya dan rekreasi (indeks 68,7, tumbuh 14,8 persen (yoy), makanan, minuman, dan tmbakau (indeks 367,2 atau tumbuh 4,7 persen yoy).
Sementara secara bulanan (mtm), pertumbuhan IPR pada Maret 2026 tercatat sebesar 10,3 persen, meningkat tinggi dibanding periode sebelumnya yang hanya tumbuh 4,1 persen (mtm).
Seluruh kelompok mencatatkan peningkatan penjualan. Tertinggi pada kelompok barang budaya dan rekreasi (12,9 persen mtm), diikuti makanan, minuman, dan tembakau (10,8 persen mtm); bahan bakar kendaraan bermotor (9,3 persen mtm), serta subkelompok sandang (26,2 persen mtm), sejalan dengan kenaikan permintaan saat Ramadan dan Idulfitri 1447 H.
Baca juga: Jelang Lebaran, Penjualan Eceran Meningkat Secara Bulanan dan Tahunan
Namun, pada April 2026, IPR secara tahunan diprakirakan tercatat sebesar 231,0, atau jauh menurun dibanding Maret dengan indeks sebesar 256,7.
Sejumlah kelompok masih tumbuh dan menjadi penopang penjualan pada periode laporan. Antara lain kelompok suku cadang dan aksesori (indeks 163,1, tumbuh 18,8 persen yoy), perlengkapan rumah tangga lainnya (indeks 83,4, tumbuh 1,4 persen yoy), dan subkelompok sandang (indeks 99,9, tumbuh 4,4 persen yoy).
Sementara penjualan kelompok lain diprakirakan terkontraksi (minus). Terutama kelompok barang budaya dan rekreasi, makanan, minuman dan tembakau, serta bahan bakar kendaraan bermotor, masing-masing dengan indeks 59,0 (-1,1 persen yoy), 327,9 (-2,1 persen yoy), dan 103,5 (-2,8 persen yoy).
Sedangkan secara bulanan (mtm), kinerja penjualan eceran pada April 2026 diprakirakan terkontraksi cukup dalam, sejalan dengan berakhirnya Ramadan dan Idulfitri 1447 H.
IPR April 2026 tercatat sebesar -10,0 persen (mtm), setelah pada maret 2026 tumbuh 10,3 persen (mtm). Penurunan terjadi pada seluruh cakupan kelompok, dengan kontraksi terdalam pada kelompok barang budaya dan rekreasi (-14,1 persen mtm), makanan, minuman dan tembakau (-10,7 persen mtm), dan peralatan informasi dan komunikasi (-10,9 persen mtm).
Baca juga: Penjualan Eceran Maret Tumbuh Tinggi Secara Bulanan, Tapi Anjlok Secara Tahunan
Responden juga memperkirakan, penjualan eceran pada 3 dan 6 bulan mendatang juga menurun. Tercermin dari Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) Juni dan September 2026 sebesar 136,8 dan 137,8, lebih rendah dari 147,2 dan 162,4 pada Mei dan Agustus 2026.
Responden menginformasikan, penurunan pada IEP Juni 2026 dipengaruhi oleh musim ujian sekolah, sementara penurunan pada IEP September 2026 dipengaruhi oleh kembali normalnya aktivitas masyarakat seiring dengan tidak adanya cuti bersama dan event besar.
Para ekonomi menyatakan, merosotnya konsumsi masyarakat pada April hingga Juni 2026, akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi triwulan dua.
Pertumbuhannya sulit diharapkan sama, apalagi lebih tinggi, dibanding realisasi pertumbuhan triwulan I 2026 sebesar 5,61 persen, bahkan seandainya pemerintah melansir aneka stimulus sekalipun.