Kamis, Mei 14, 2026
HomeMoneterBI Rilis Kalkulator Hijau Versi 2 untuk Hitung Emisi Lebih Presisi

BI Rilis Kalkulator Hijau Versi 2 untuk Hitung Emisi Lebih Presisi

Penguatan sektor keuangan berkelanjutan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan masa kini untuk mendorong ketahanan ekonomi di tengah tantangan perubahan iklim. Penguatan perlu didukung data emisi karbon yang kredibel, terstandar, andal, dan dapat diperbandingkan.

Karena itu Bank Indonesia sebagai otoritas moneter pun melansir Kalkulator Hijau untuk membantu lembaga keuangan menghitung emisi karbon lebih presisi, saat menyalurkan pembiayaan hijau atau yang mendukung keberlanjutan (sustainability).

Selasa (12/5/2026), BI melansir Kalkulator Hijau versi 2 yang memungkinkan lembaga keuangan menghitung emisi karbon itu secara lebih presisi.

“Kalkulator Hijau versi 2 menjadi instrumen strategis dalam meningkatkan konsistensi dan standardisasi penghitungan emisi karbon,” kata Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti, sat acara peluncuran.

Kalkulator Hijau versi 2 diharapkan membantu pelaku usaha dan lembaga keuangan menghitung emisi karbon secara lebih akurat dan konsisten, sebagai dasar pelaporan keberlanjutan, pengembangan pembiayaan hijau, dan pengelolaan risiko iklim.

Peluncuran dihadiri Wakil Menteri Keuangan, komisioner Otoritas Jasa Keuangan, petinggi Kemenko Perekonomian, pengurus Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), serta bankir dan akademisi.

Wakil Menteri Keuangan Juda Agung berharap Kalkulator Hijau dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pelaporan, dan diintegrasikan dalam manajemen risiko.

“Kita tidak mungkin mengendalikan sesuatu yang tidak kita ukur. Karena itu, Kalkulator Hijau bukan sekadar alat untuk menghitung, tapi juga untuk membantu mengendalikan emisi karbon,” ujar mantgan Deputi Gubernur Bi itu.

Baca juga: Bank Indonesia Lansir Kalkulator Hijau untuk Mudahkan Hitung Emisi dari Kegiatan Ekonomi

Pemerintah sendiri telah mengorkestrasi APBN untuk menangani isu perubahan iklim. Antara lain melalui pemberian berbagai insentif perpajakan seperti tax allowance, tax holiday, serta fasilitas kepabeanan dan perpajakan lain untuk mendorong pengembangan ekonomi hijau.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menyatakan, perubahan iklim dapat menimbulkan risiko finansial bagi sektor keuangan.

Seiring dengan makin eratnya keterkaitan antara ketahanan ekonomi dan ketahanan ekologis, perbankan didorong mengukur risiko iklim dan mengintegrasikannya ke dalam strategi bisnis serta manajemen risiko. Karena itu, penguatan pengukuran emisi karbon menjadi elemen penting dalam mendukung pengelolaan risiko yang lebih komprehensif.

Penyaluran kredit berkelanjutan sendiri terus tumbuh positif dan masih memiliki ruang untuk didorong lebih lanjut.

Pada Desember 2025, Kredit Kendaraan Bermotor (KKB) hijau tumbuh 70,08 persen (yoy), Kredit Pemilikan Rumah (KPR) hijau juga terus berkembang, sejalan dengan meningkatnya perhatian para pelaku usaha termasuk UMKM terhadap pembiayaan yang mendukung ekonomi rendah karbon.

Baca juga: Semester I Pembiayaan Hijau Capai Rp39 Triliun untuk Perumahan dan Kendaraan Listrik

Perkembangan tersebut diikuti kualitas kredit yang terjaga. Tercermin dari rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) KKB hijau yang rendah 0,30 persen dan NPL KPR hijau 0,84 persen.

Bank Indonesia juga mendorong penguatan pembiayaan hijau melalui Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM), dengan memberikan insentif kepada bank yang menyalurkan kredit/pembiayaan ke sektor UMKM, Koperasi, inklusi, dan berkelanjutan sebesar maksimal 1 persen dari Giro Wajib Minimum (GWM).

Kalkulator Hijau Versi 2 dikembangkan sebagai penyempurnaan dari versi 1.0, dengan cakupan yang lebih luas, metodologi yang lebih komprehensif, dan penggunaan yang lebih mudah. Pengembangan ini makin relevan seiring meningkatnya upaya perbankan dalam menghitung emisi karbon.

Baca juga: Pembiayaan Hijau Telah Menjadi Wholesale Funding Bank BRI

Survei BI kepada 105 bank pada 2025 menunjukkan, mayoritas bank telah menghitung emisi secara mandiri, dan Kalkulator Hijau menjadi alat yang paling banyak digunakan.

Kalkulator Hijau kini menghasilkan data emisi yang makin berkualitas, selaras dengan standar internasional Greenhouse Gas (GHG) Protocol.

Inisiatif ini sejalan dengan upaya pencapaian Second Nationally Determined Contribution 2035, dan Net Zero Emission Indonesia 2060.

Pengembangan dilakukan Pokja Kalkulator Hijau yang melibatkan Bank Indonesia bersama kementerian, otoritas, dan lembaga terkait termasuk Masyarakat Transportasi Indonesia, Indonesia Research Institute for Decarbonization, Badan Riset dan Inovasi Nasional, World Wide Fund (WWF) Indonesia, dan Tim Panel Metodologi Gas Rumah Kaca Nasional.

Aplikasi Kalkulator Hijau dapat diunduh melalui AppStore dan Playstore secara gratis, dilengkapi dengan buku panduan dan kertas kerja yang dapat diakses pada situs Bank Indonesia.

Berita Terkait

Ekonomi

LPEM FEB UI Ragukan Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen, Ini Alasannya

Peneliti di Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi...

April Konsumen Tahan Belanja, Perbanyak Tabungan

Survei Konsumen Bank Indonesia April 2026 yang dipublikasikan awal...

Ada Perang di Timur Tengah, WNI yang Melancong ke Luar Negeri Malah Naik Tinggi

Perang AS-Israel dengan Iran sejak akhir Februari 2026 melambungkan...

Berita Terkini